Aku memelotot mendengar kalimat yang ia lontarkan dengan entengnya. Pak Ian terkekeh, menanggapinya dengan ekspresi tak percaya. "Kalau nggak ada lagi yang bisa dibicarakan baik-baik, saya pergi." Ilalang menarik tanganku, memintaku mengikutinya pergi tanpa menunggu reaksi lain dari ayahnya. Aku menoleh, memandang Pak Ian yang masih tertawa. Begitu sampai di depan restoran, aku menarik tangan dari genggamannya. "Lo gila, ya?" semburku tanpa basa-basi. "Nggak usah bawa-bawa gue ke drama keluarga lo, dong." Aku menepikan poni ke samping, melipat tangan di depan d**a, memilih menatap ke tempat lain. "Lo nggak mau nikah sama gue?" Aku memandangnya. "Nggak." "Kenapa?" "Gue nggak suka bercandaan kayak begitu. Apalagi lo manfaatin gue buat dapatin apa yang lo mau. Lagian, orang waras mana

