Keesokan harinya, Sean kembali ke kantornya. Langkah kakinya bergema di koridor yang sunyi, diselimuti bayang-bayang pagi yang mulai menyelinap masuk lewat jendela kaca besar di sepanjang lorong. Ia menenteng tas kerjanya dengan tenang, meski wajahnya menyiratkan kelelahan yang tak dapat disembunyikan. Di dalam ruangannya, aroma kopi yang tersisa dari malam sebelumnya masih samar-samar tercium, bercampur dengan bau kertas dan tinta yang khas. Tok tok tok! Suara ketukan pintu itu memecah keheningan. “Morning, calon pengantin!” seru Metta ceria, masuk dengan membawa agenda mingguan yang ditujukan untuk Sean. Senyumnya merekah seperti mentari pagi, mencoba menyinari suasana yang terasa sedikit suram. Sean mendesah, mengambil agenda tersebut dengan gerakan malas. "Calon pengantin? U

