Tidak Perlu Memikirkan Status lagi

1005 Words

Sean menelan saliva dengan pelan, seperti berusaha menekan badai yang menggulung di dalam dadanya. “Dind... Mama lah yang membuat mereka celaka. Dia marah pada Kak Bima karena lebih memilih Kak Andini daripada wanita yang dia jodohkan.” Suaranya pecah, seakan setiap kata itu adalah duri yang menusuk tenggorokannya. Diana memijat keningnya, jari-jarinya gemetar seiring aliran air mata yang mengancam untuk jatuh. Pikiran-pikirannya terasa seperti serpihan kaca yang menari di dalam kepalanya. Tak pernah ia menyangka, sosok Charoline, yang selama ini ia panggil dengan penuh hormat, adalah arsitek dari kehancuran hidupnya. “Aku nggak nyangka kalau Omma bisa sejahat itu.” Diana tersenyum lirih, namun senyum itu lebih mirip luka terbuka yang tak henti menganga. “Pantas saja. Dia bukan mama

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD