Tyas lemas, andai saja dia mampu menggerakkan lidahnya dan menunjuk Genta. “Apakah harus aku jawab? Apa aku berdosa kalau aku masih—masih ...” sampai di sini lidah Tyas kelu. “Masih apa?” desak Genta penuh selidik. “Men—cintai kamu, Genta.” Tyas berucap dengan susah payah, tapi suara yang dia keluarkan cukup lantang. Genta sementara seperti tuli. Apakah benar itu yang dikatakan Tyas, masih mencintai dirinya? Semoga Genta tidak meminta Tyas mengulang pernyataannya itu. Tyas lantas berdiri, tanpa berkata-kata, dia lantas meninggalkan Genta sambil merutuki diri sendiri. “Bodoh sekali, bodoh, bodoh, bodoh!” tangannya memukul-mukul kepala, kakinya hanya melangkah menekuri pedestrian. Genta beberapa detik termangu, lantas ketika dia menyadari Tyas tidak ada. Dengan sigap pula dia la

