FOLLOW AND TAP LOVE ❤ SEBELUM BACA.
POV ARGETTA
Aku berlari dari Emran Farnazio Pencily, aku merasa sangat ringan kakiku saat jauh dari mansion milik keluarganya. Aku merasa keringatku menetes, bahkan dadaku terbakar mengambil kecepatan menghindari pengawal dari Emran terbilang tiga orang.
Ah.. Emran memang sangat keterlaluan, dia seperti mempenjarakan adiknya sendiri. Akhirnya sekian banyak cara aku tempuh, aku berhasil keluar dari cengkraman Emran.
Biar saja sih bodoh Emran mencariku, Aku akan melarikan diri dari New York.
Aku berada di sebuah Hotel Langham, London. Hotel terbesar di London, ya tentu. Aku akan bebas melakukan yang ku suka di sini. Tanpa Emran tentunya, Dan pengawal bodoh.
The Hippodrome Casino London, 00.00 pm
Aku menabrak seorang pria berkaca mata hitam, entah siapa pria ini. Berani menatapku begitu tajam. Aku bahkan tak perduli dengannya.
Ah tapi ternyata sial menghampiriku. Pria yang telah berani menciumku. Aku pastikan dirinya mohon ampun padaku.
Dasar bajingan..!!!
Aku buta di buatnya, aku tidak melihat apapun. Dia berani menculikku. Aku tidak bisa melihat apapun, mereka menutup wajahku.
Nasibku sungguh buruk, aku keluar dari sarang harimau lalu masuk sarang macan lainnya.
Tidak kah satu orang pun yang bisa menolongku saat ini.
Oh.. Emran Tolong adikmu yang malang ini..!!
***
Author pov
Dengan napas naik turun argetta berusaha membuka ikatan Tali di tangannya. d**a argetta merasa sesak sepertinya dia lelah dan tertidur.
"Maaf, tuan. Kita bawa kemana wanita ini??" Faro bertanya pada Fredi yang bersandar di kursi belakang bersama argetta.
"Pavilion." Kalimat singkatnya keluar dengan tegas dari mulutnya.
Fredi mungkin tidak takut pada siapa pun, hanya satu ayahnya Ambrik Ayah kandungnya. Seorang mafia sangat besar, penuh kelicikan di otaknya. Yang pasti dia lebih jahat dari Fredi.
Fredi akan berpikir panjang membawa argetta ke mansion milik keluarganya. Terutama Ada sang Ayah yang siap kapan pun membunuh wanita yang baru saja di tawannya.
Mobil mereka sampai di sebuah pavilion milik pribadi Fredi. "Tuan, sepertinya wanita ini tertidur." Edwin berucap membuka pintu mobil Fredi.
"Bawa dia ke kamar pribadiku." Perintah Fredi.
Edwin membawa wanita itu ke kamar milik Fredi yang luas. Edwin tak menyangka Fredi bisa tertarik pada wanita yang baru saja di temui bahkan mereka belum saling mengenal nama.
Edwin turun menemui Fredi yang yang duduk menikmati sebuah minuman anggur. "Fred, apa kau menyukai wanita." Edwin bertanya tanpa berpikir. Edwin memang sangat berani saat hanya ada mereka bertiga di dalam satu ruangan.
"Astaga, apa kau gila." Fredi berseru sinis.
"Lantas, apa yang membuat kau membawanya kemari." Faro berkomentar dengan raut wajah yang datar karena heran.
"Haha." Fredi tertawa hambar. Kedua sahabatnya sekaligus pengawalnya begitu mudah berpikir ketertarikannya pada wanita itu.
Mungkin, iya. Wanita itu satu satunya berani padanya. Bukannya menarik wanita angkuh seperti dia.
"Cari tahu siapa wanita itu." Perintah Fredi pada dua orang tersebut.
Fredi membuka pintu kamarnya yang terlihat wanita itu yang sedang tidur dengan ikatan di tangannya.
Fredi membenamkan wajahnya di bantal, lelah menghantam dirinya. Ia tidak berniat tidur di samping argetta. Ia memilih tidur di sebuah sofa yang terdapat di kamarnya.
***
Argetta melihat ke arah dimana dia terbaring, dengan ikatan begitu kuat di tangan.
"Sial..!!!" Argetta memaki dirinya sendiri.
"Aawwhhh. Sakit sekali tanganku. Dasar pria k*****t, Akan ku berikan kau pelajaran nanti." Argetta meringgis kesakitan.
Argetta berpikir bagaimana dia bisa melarikan diri dari tempat penyiksaannya sekarang ini.
Argetta sisi tempat dia di kurung, tempat ini tidak lah buruk. Kamar yang luas, dan terdapat sofa yang tergelentak pria b***t yang membuatnya seperti tahanan.
Argetta melangkah maju ke arah sofa dengan tangan terikatnya. Menendang pria yang tak kenalnya. "Beraninya kau tidur dengan damai, sedangkan kau mengikatku. Dasar bangsat..!!" Argetta meludah pria di hadapannya dengan pandangan mengeram benci.
"Shit.. sial beraninya kau meludahiku. Apa kau tak tahu aku bisa saja membunuhku." Umpat Fredi terduduk dari bangunnya.
"Apa kau sebegitu penting, Aku harus tahu. Dasar iblis." Argetta tak hentinya memaki Fredi.
"Kau--" Fredi hampir saja menampar wanita di hadapannya.
Drrttt...Drrrttt
Telpon Fredi berbunyi. Rahang Fredi mengeras mendapat prilaku wanita tak di kenalnya.
"Katakan." Fredi menjawab.
"Tuan, mau di apakan."
"Musnah, atau bakar semua tempat tanpa ada yang terselamat."
Argetta menelan salivanya dengan susah payah, dia menatap tak percaya. Matanya melotot ke arah Fredi.
Siapa pria ini, apa dia pembunuh berdarah dingin. Atau iblis tak punya perasaan. Argetta kali ini kau mendapatkan masalah yang besar. Batin argetta meneriaki dirinya sendiri.
Fredi mematikan ponselnya. Ia menatap tajam wanita di depannya. "Aa...apa m..au..mu." argetta memberanikan diri meluncurkan suaranya yang setengah parau. Tubuhnya sudah gemetar harus mendapatkan masalah besar seperti ini.
"Ck.. kau Ada takutnya denganku." Fredi mendorong tubuh argetta ke ranjang besarnya dan menindiknya.
Argetta terpejam takut. "Apa maumu. Lepaskan aku." Argetta berucap dengan bibir yang gemetar.
"Kau mulai takut denganku." Ucap Fredi puas.
"Ck..ck.." Fredi memberi senyum getir pada argetta. Fredi melepaskan ikatan tangan argetta.
Mata argetta mulai berkaca. "Aku Fredi. Apa kau mendengar nama itu." Argetta menggeleng tegas.
Keberaniannya hilang begitu saja. "Hah. Mustahil, kau benar tak pernah mendengar namaku." Fredi berseru tak percaya.
"Darimana kau beras---"
Tok..Tok..Tok..
"Maaf, tuan. Saya menggangu." Edwin datang dengan berita tentang argetta.
"Katakan." Fredi kembali berseru.
"Namanya Argetta Alzyalin Pencily, tuan Sebaiknya kita lepaskan dia." Edwin memberitahu informasi yang di dapatkannya.
"Ed, aku seperti tidak asing mendengar nama belakangnya." Sarkas Fredi curiga.
"Tidak, tuan. Perasaan kau saja." Edwin berkata, Tentu Edwin mengetahui layar belakang argetta tapi Edwin enggan memberitahu Fredi.
Biarkan saja Fredi jatuh cinta pada wanita yang adik musuhnya.
Emran kakak dari argetta adalah musuh kolega Fredi terbesar. Perusahaan Emran selalu menjadi nomor satu dari Fredi.
Fredi sangat membenci pria bernama 'Emran'. Ingin sekali dia membunuh musuhnya tapi sayang ayahnya selalu melarang membunuh Emran dengan alasan dia anak sahabatnya.
Fredi menyeringai licik pada argetta.
"Jadi, Nona. Nama kau argetta, kau berasal dari London bukan" Fredi berseru di hadap argetta
"Aku akan pergi sekarang." Argetta sentak melangkah maju kan kakinya. Namun usahanya percuma Fredi terlebih dulu mencekal dirinya.
"Sabar Nona, kau mau kemana. Kenapa buru buru sekali."
"Aku akan menjelaskan suatu yang mengejutkanmu, Nona." Lanjut Fredi berucap dengan suara penuh kelicikannya.
"Aku Fredi Zelo Ambrik, kau harus tahu Aku seorang mafia terkejam di London. Aku tidak pernah membunuh tapi aku memperintah mereka." Fredi menatap dekat wajah ke argetta.
Argetta menelan salivanya, dadanya terasa sesak mengetahui pria ini seorang mafia. Apakah dia mesti terjebat jeratan seorang mafia.
Fredi pergi dari kamarnya sebelum itu mencium bibir lembut argetta sekilas. Langkahnya tertuju ke arah luar pintu kamar.
***