AKU BUKAN DIA | 02
“Lyss, makanlah terlebih dahulu. Aku tidak ingin kau sakit perut,” ucap Samuel di depan pintu kamar. Karena Alyssa sedang mengunci dirinya di dalam sana, dan sama sekali tidak mau keluar. Padahal, jam makan malam sudah lewat.
“Kalau kau tidak mau membuka pintunya sekarang juga, maka aku akan membukanya secara paksa menggunakan kunci cadangan, atau mungkin mendobrak pintunya sampai rusak.”
Kemudian, Samuel menghela napas panjang, dan sudah bersiap untuk mengambil kunci cadangan yang disimpan di dalam laci yang terletak tak jauh dari sana.
Namun, pintu kamarnya sudah lebih dulu dibuka oleh Alyssa. Wanita itu terlihat habis menangis dengan mata yang membengkak, serta hidung yang terlihat memerah.
Samuel lantas menghampirinya, dan bermaksud untuk menghapus sisa air mata di kedua pipi istrinya. Tetapi, wanita itu malah memalingkan wajahnya, lalu berjalan begitu saja, bahkan sama sekali tidak mengatakan apa-apa.
Samuel kembali menghela napas panjang, dan tetap mengikuti langkah kakinya Alyssa dengan bibir yang terkatup rapat.
“Aku ingin makan sendirian,” ucap Alyssa setelah membiarkan Diana menyiapkan menu makan malam ke atas piringnya sekaligus menuangkan air putih ke dalam sebuah gelas yang telah dipersiapkan untuk dirinya.
“Tapi, aku juga belum sempat makan malam.” Samuel langsung membalas ucapannya Alyssa barusan sambil menatap wanita itu dengan pandangan polosnya.
“Kalau begitu, aku akan makan di dalam kamar saja.” Alyssa segera berdiri dari atas kursinya.
Sementara Samuel mulai menampilkan raut wajah lelah, dan memberi isyarat kepada Diana untuk segera berlalu dari sana. Sehingga wanita paruh baya itu pun segera menurutinya, kemudian berlalu tanpa kata.
“Alyssa, aku tidak ingin hubungan kita jadi rusak seperti ini.”
Alyssa langsung mendelik. “Ini salahmu sendiri.”
“Tolong, jawab dengan jujur, Sam.” Alyssa sudah bersiap untuk menodong Samuel dengan pertanyaan yang sama, karena ia masih belum mendapatkan jawaban apa pun dari suaminya itu. “Siapa wanita itu? Apa dia masih memiliki hubungan darah denganmu, atau mungkin dia itu adalah kekasihmu?” tanyanya dengan nada menuntut.
Samuel malah menarik napas pelan, tapi akhirnya ia tetap memberikan jawaban. “Namanya Clarissa. Dia itu mantan kekasihku, tapi—”
“Hah, sudah kuduga! Ternyata selama ini kau hanya menjadikan aku sebagai bayang-bayangnya saja.”
Samuel langsung menggelengkan kepalanya saat itu juga. Ia tidak setuju dengan kesimpulan sepihak yang baru saja tercetus dari bibirnya Alyssa.
Namun, ia tidak diberikan kesempatan untuk menyuarakan pembelaan. Karena Alyssa terus saja berbicara tanpa memikirkan kalau para pelayan di rumah mereka bisa saja mendengar serentetan omelan yang keluar dari bibirnya.
Meskipun Alyssa sedang berbicara menggunakan bahasa Indonesia, tapi nada bicara wanita itu bisa menjelaskan semuanya. Dan jangan lupa, Diana adalah satu-satunya asisten rumah tangga di tempat itu yang berasal dari Surabaya. Sudah bisa dipastikan jika wanita paruh baya itu mengerti semua perkataannya Alyssa.
“Aku yakin kalau selama ini, setiap kali kau menciumku, ataupun menyentuhku, kau selalu membayangkan dia di dalam otakmu.” Alyssa mendengkus dengan raut wajah masam. “Ternyata dua tahun berpacaran denganmu tidak cukup bagiku untuk benar-benar mengenali dirimu.”
“Kau adalah seorang penipu!” seru Alyssa sebelum benar-benar berlalu dari tempat itu. Bahkan ia pun sampai lupa membawa piring berisi menu makan malamnya, tapi ... terserah! Ia sudah tidak berselera lagi untuk mengisi perutnya.
Sementara di belakang sana, Samuel hanya menatap punggungnya Alyssa dengan pandangan nanar.
Hari ini, ia baru mengetahui bagaimana marahnya Alyssa. Wanita itu akan mengurung dirinya di dalam kamar, lalu mencercanya dengan kalimat-kalimat tak terduga. Bahkan ia pun sukses dibuat sangat terkejut saat tadi sore Alyssa mengucapkan kata ‘persetan’.
Tak lama kemudian, Samuel sudah bergegas untuk menyusul Alyssa ke dalam kamar. Ia membawa nampan berisi menu makan malam untuk wanita itu. Karena ia benar-benar serius saat mengatakan kalau ia tidak ingin wanita itu sakit perut.
Untung saja pintu kamar itu tidak dikunci dari dalam seperti sebelumnya, jadi Samuel bisa masuk dengan mudah.
“Lyss, makan dulu.” Samuel menaruh nampannya di atas meja kopi yang terletak di dekat jendela.
Namun, Alyssa yang sedang duduk di atas sofa, sama sekali tidak mengatakan apa-apa.
“Beberapa menit lagi aku akan kembali ke sini. Jadi, pastikan kalau makan malammu sudah habis.”
Kemudian, Samuel pun segera berlalu dari tempat itu. Karena ia masih mengingat dengan jelas, jika Alyssa ingin makan sendirian. Jadi, ia tidak ingin memperpanjang perkara, dan membiarkan wanita itu makan dengan tenang.
***
Samuel langsung tersenyum begitu kembali lagi ke dalam kamar, dan mendapati Alyssa yang sudah selesai makan. Wanita itu terlihat sedang menandaskan air putih di dalam gelas saat ia sudah sampai di dalam sana. Jadi, ia sudah bisa sedikit bernapas lega.
“Jangan langsung tidur, Lyss. Duduklah beberapa menit lagi,” tegur Samuel pada Alyssa yang langsung bergegas dari atas sofa begitu melihat kehadiran dirinya di sana.
“Siapa juga yang ingin tidur,” balas Alyssa dengan nada ketus. “Aku ingin mandi, bukan ingin tidur.”
Samuel hanya tersenyum, dan membiarkan Alyssa berlalu. Sementara dirinya segera bergerak untuk membereskan peralatan makan yang ada di atas meja, lalu membawanya lagi menggunakan sebuah nampan yang tadi memang ditinggal olehnya di sana.
Begitu sampai di dapur rumahnya, Samuel pun langsung mencuci peralatan makan bekasnya Alyssa tadi. Baru setelah itu, ia mengisi perutnya sendiri.
Tanpa Samuel sadari, ternyata Alyssa mengamati gerak-geriknya sejak tadi. Karena wanita itu menunda aktivitasnya yang sebelumnya ingin mandi, dan lebih memilih untuk mengikuti Samuel sampai di dapur rumah ini.
Sesungguhnya saat ini Alyssa sedang merasa bersalah. Karena ulahnya, Samuel jadi ikut terlambat makan malam. Ia tahu kalau pria itu pasti sudah sangat kelaparan.
Namun, Alyssa tidak menduga kalau Samuel lebih mementingkan dirinya di atas segalanya, hingga memastikan kalau ia sudah benar-benar makan malam duluan.
Dan sekarang, Alyssa mulai merasa dilema. Ia tidak tahu apakah Samuel benar-benar memperhatikannya karena ia adalah Alyssa—wanita yang benar-benar dicintai oleh pria itu, atau karena ia memiliki wajah yang sama seperti mantan kekasih pria itu di masa lalu.
Alyssa benar-benar merasa bingung, dan Samuel berhasil membuat perasaannya jadi campur aduk.
*****
Jangan lupa tap tanda HATI buat cerita ini ya! Biar cerita ini masuk ke daftar perpustakaan kalian, dan kalian juga gak akan ketinggalan update-an. Terus follow akunku juga. Terima kasih :)