Bab 11 Sebuah Penolakan

2304 Words

Sabrina baru saja tiba di kantor dan langsung diseret oleh Fany, Alice juga Santi ke ruang makan yang berdekatan dengan pantry. “Duduk sini!” Fany mengempaskan Sabrina di kursi. Mereka bertiga berdiri dengan wajah penuh intimidasi. Wajah Santi cemberut dengan kedua tangan di lipat di d**a. Saat ini Sabrina bagai seorang pesakitan yang menunggu ketuk palu hakim. “Kamu harus jelasin ke kita-kita, ada hubungan apa antara kamu sama kecengan kita-kita?” tanya Fany mendelikan matanya. Santi dan Alice mengangguk-anggukan kepalanya dengan tatapan nyalang. Bibir mereka manyun. Mendengar itu, Sabrina malah tertawa terbahak sambil memegangi perutnya. “Eeh, kenapa kamu malah ketawa?” Alice semakin geram. Sabrina masih cengengesan menahan tawa, melihat sikap ketiga temannya itu. “Kalian ini

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD