Jasmin memberi waktu pada Pandu untuk mengetik sesuatu yang ia berikan pada laki-laki itu. Rasa nya Jasmin ingin tertawa saat melihat Pandu mengetik di atas mesin ketik. Berulang kali ia menekan angka dan huruf yang ada di sana. Akan tetapi, tidak satu pun huruf maupun angka itu tercetak di kertas. "Ku-rang ajar! Pasti benda ini sudah rusak. Jasmin, kamu pasti sengaja, ya. Kamu pasti ingin mengerjai ku." "Anda saja yang bodoh." "Kalau memang kamu terlalu pintar, coba kamu praktekkan di depan ku." "Baik. Tapi, ada syarat nya." "Apa syarat nya?" "Kalau aku berhasil mengetik, anda juga harus bisa seperti ku." "Ya. Baiklah." Pandu asal saja mengatakan hal itu. Karena ia berfikir, pasti lah Jasmin tidak akan bisa mengetik dengan menggunakan mesin ketik. Namun, apa yang di pikirkan

