Tujuh

986 Words
Keesokan harinya, Klara merasa ada sesuatu yang menekan pahanya jadi dia menggerakgerakkan diri karena merasakan sesuatu itu sangat panas, dan membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.  Selain itu, dia juga merasa sedang memeluk sesuatu yang hangat di depannya. Saat sadar jika dirinya bukan memeluk sesuatu tapi seseorang, dengan panik Klara segera membuka matanya dan menemukan di hadapannya seseorang yang menatap balik kepadanya.  “Akh! Tidak ... tidak ... aku pasti bermimpi!” pekik Klara panik, dan berusaha segera turun dari ranjang untuk berlari pergi dari kamar.  Namun, sebelum sempat melakukan itu semua. Dengan mudah Gray menangkap Klara dan menindihnya di ranjang, serta menutup mulut Klara dengan tangannya.  “Diamlah, apa kamu ingin semua orang di rumah datang kemari dan melihat apa yang kita lakukan?”  Klara tidak bisa menjawab karena mulutnya masih ditutupi. Dia hanya bisa terbelalak ngeri menatap pada Gray.    Tentu saja aku tidak ingin orang serumah datang. Apa yang terjadi kepadaku semalam?  Klara berusaha menarik tangan Gray dari mulutnya agar bisa bicara. “Hentikan! Aku akan melepaskan tanganku, tapi berjanjilah kalau kamu tidak akan berteriak lagi.” Dengan cepat Klara menganggukkan kepalanya. Dia sangat ingin tahu apa yang telah terjadi. “Apa yang Anda lakukan di sini, Mr. Clark?” tanya Klara setelah mulutnya di buka, dan Gray menjauh darinya. “Akh ... apa yang Anda lakukan?!” tanya Klara, saat sadar jika dia tidak berpakaian dan dengan cepat dirinya berdiri menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. “Bisakah Anda berpakaian?!” pekik Klara, saat sadar jika Gray hampir tidak berpakaian juga. “Ini kamarku, Nona, apa kamu tidak bisa melihat?”  Dengan segera Klara mengedarkan pandangannya.  Oh ... apa yang aku lakukan di sini?  Dia mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Terakhir yang diingatnya adalah Gray meninggalkannya di kolam dan dia merasa dirinya hampir mati kedinginan, tapi tidak bisa ke kamarnya karena kakinya sakit. “Ini salah Anda, Anda meninggalkanku sehingga aku hampir mati kedinginan dan—”  Klara terbelalak mengingat samar-samar Gray yang menggendongnya, merendam tubuhnya di dalam bathtub.  Ia merasa begitu nikmat karena kehangatan dari air panas di bathtub, sampai kemudian Gray berusaha membuka pakaiannya. Dia berusaha mencegah, tapi tidak punya tenaga apalagi tubuhnya kembali merasa kedinginan hingga dia meringkuk di dalam pelukan Gray seperti lintah, karena kehangatan yang didapatkannya dari sana.  Saat ini dia juga baru ingat, bagaimana dirinya dengan senang memeluk Gray dengan tubuh telanjangnya. Setelah itu dia tidak ingat apa yang terjadi.  Oh ... aku seperti wanita jalang. Aku tidak bercinta dengan Gray, bukan? Wajah Klara menjadi pucat saat pikiran itu terlintas dibenaknya. “Ya,” jawab Gray. “Ya, apa, Mr. Clark?” Klara bertanya dengan ngeri. “Setelah apa yang kita lakukan semalam, kamu tidak serius bukan tetap memanggilku Mr. Clark?” “Apa?! Memangnya apa yang telah kita lakukan semalam?” Klara mencoba bertanya lagi. Berharap Gray akan benar-benar menjawab, bukan dengan jawaban-jawaban tidak jelas yang dari tadi diberikan Gray padanya. “Kamu tidak ingat? Oh …. Kamu melukai hatiku, Klara,” timpal Gray, sengaja memanggilnya dengan Klara untuk menekankan maksudnya. “Anda pasti berbohong!” ujar Klara dan tanpa sadar melangkah beberapa langkah ke arah Gray. “Apa kamu yakin?” tanya Gray tersenyum perlahan. Wajah Klara semakin bersemu merah dan Gray begitu senang, karena tidak menyangka jika begitu mudah rencana yang dipikirkannya terjadi, padahal bahkan dirinya belum menjalankannya.  Ini kesempatanku untuk membuat wanita ini yakin jika ia sudah berselingkuh dari Papa. “Mungkin aku akan menyegarkan kembali ingatanmu.” “Apa? Tidak! Menjauhlah! Aku calon istri papamu,” ucap Kara, berusaha memakai senjata terakhirnya untuk menjauhkan Gray. “Aku rasa itu sudah tidak mungkin,” timpal Gray kembali berbicara dan mendekat pada Klara. Klara mundur untuk menjauhi Gray dan karena membawa selimut yang terlalu tebal, dirinya terjatuh kembali di ranjang dan membuat selimutnya terlepas hingga tubuh telanjangnya terlihat lagi. Hal itu dimanfaatkan Gray untuk menindihnya kembali di ranjang, agar tidak bisa melarikan diri.  “Anda mau apa, Mr. Clark?” tanya Klara dengan suara tercekat. Saat itulah Klara menyadari ada sesuatu yang menekan area intimnya. “Mengulang apa yang sudah kita lakukan semalam.” “Tidak, Anda bohong!” Klara berusaha mendorong Gray menjauhinya agar tidak menindihnya lagi, tapi Gray tidak bergerak. “Please ... lepaskan aku.” “Kenapa? Kamu menyukainya juga, bukan? Begitu juga semalam, apa kamu tidak ingat?” Gray kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Klara, yang terlihat begitu menggodanya. “Tidak ... hmphhh.” Klara berusaha menolak, tapi dia tidak kuasa. Tubuhnya seolah-olah dialiri listrik, dan membuatnya nyeri di mana-mana. Apa yang terjadi kepadaku? Aku akan membuat sandiwara ini terbongkar kalau aku terus membiarkan dia menciumku.   “Gray, please, lepaskan aku,” pinta Klara setelah Gray melepaskan bibirnya.  “Akhirnya kamu memanggil namaku.”  Gray tersenyum mendengarnya. Dirinya merasa senang karena berhasil menipu Klara. Merasa yakin, jika Klara akan segera pergi sekarang dari rumah ini karena merasa bersalah telah berselingkuh dengan anak calon suaminya. Setelah Gray melepaskannya, Klara segera bangun dan kembali mengambil selimut untuk membungkus tubuhnya. Meski kakinya masih sakit dia mencoba menahannya dari tadi, tapi kemudian dia ingat jika dia harus memeriksa sesuatu di ranjang untuk mengetahui apakah Gray membohonginya atau tidak. “Maaf, dapatkah Anda turun? Aku perlu mencari antingku.”  Setelah Gray turun dari ranjang, bergegas Klara memeriksa dan dia tidak menemukan apa yang dicari di ranjang. “Oh ... tidak ada.” Klara begitu bahagia, karena ternyata apa yang dikatakan Gray semuanya bohong hingga dia menangis haru. “Apakah anting itu begitu berharga hingga kamu menangis?” “Apa?” tanya Klara. “Kamu menangis karena antingmu hilang, bukan?” “Oh ... ya ... ya. Saya permisi.”  Dengan bergegas Klara berusaha berlari keluar dari kamar Gray dengan cepat, meski dengan terpincang-pincang dan sambil membawa selimut yang berat. ‘Kenapa wanita itu begitu memaksakan diri? Seolah-olah takut aku akan menangkapnya lagi. Mungkin saja,’ pikir Gray karena bukan hanya Klara yang dia permainkan, tapi dirinya sendiri juga. Dia harus segera mandi air dingin. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD