Bagian Delapan belas Mimpi buruk Pahitnya mimpi buruk tidak mudah terlupakan meski telah berganti abad, untuk itu.. Setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik agar tidak kembali pada masa silam yang membuatnya terlihat lemah. *** "Gue udah bilang gue nggak mau ketemu lo lagi! Paham nggak sih lo bahasa manusia, heh?!" "Tapi gue bener-bener serius sama lo, Ra. Gue mau kita bisa kayak dulu lagi." mohon Dilon menatap Nara sendu. Nara berdecih. "Sia-sia emang ngomong sama orang i***t kayak lo! Psiko!!" Nara berbalik, dengan cepat Dilon menarik tangannya. Mengukungnya di antara kedua lengannya. "Kalau dengan cara baik-baik masih nggak bisa bikin lo mau menerima gue kembali, apa gue harus memakai cara kotor biar kita bisa kembali kayak dulu?" bisik Dilon rendah. Mengancam.

