Muti mencoba sekuat tenaga untuk menahan isakannya, dan menghapus air matanya dengan cepat saat mendengar pembicaraan Langit di telepon. Ia memang pura-pura tidur karena berpikir jika ia tidur, adiknya itu mungkin akan kembali ke kamarnya, dan Muti bisa bebas bicara dengan Damar nantinya. Entah bagaimana, Muti membutuhkan Damar bersamanya walaupun hanya lewat telepon. Nyatanya, rumah ini tidak lagi memberikan semua ketenangan yang Muti butuhkan. Namun, ternyata Langit tetap di sini menemaninya. Dan yang tidak Muti sangka, Langit bahkan tahu jika ia akan sering terbangun jika sedang dalam kondisi yang tidak baik. Ia memang sering mengalami gangguan tidur seperti itu sejak kepergian Damar tujuh tahun lalu. Biasanya ia akan bermimpi buruk, lalu terbangun, dan menangis seorang diri. Ia pikir,

