Grindelwald bukanlah satu-satunya tempat surgawi yang terbentang di Swiss, tetapi masih banyak lagi tempat-tempat menakjubkan yang mewarnai dataran bagian Eropa barat itu. Untuk menjelajahinya pun butuh waktu yang tidak singkat, karena berbagai wilayah memiliki keunikan tersendiri yang sangat menarik untuk ditelisik.
Tiga hari menghabiskan waktu liburan bersama orang terkasih di tempat indah membuat Darrel dan Disha enggan untuk kembali secepat itu. Tetapi apa boleh buat, keadaan memaksa mereka harus bertatap lagi dengan dunia rutinitas seperti pekerjaan dan lainnya.
Saat ini kedua pasangan itu telah melambaikan perpisahan pada Swiss dan duduk di bangku pesawat yang sudah terbang meninggi. Desingan mesin pesawat yang menabrak kabut-kabut awan, membuat Disha dan Darrel memilih untuk membungkam telinga dengan musik romantis dari headset masing-masing.
Keduanya saling bergenggaman tangan, bersandar satu sama lain, seakan melambangkan pasangan romantis yang tak sudi untuk berpisah. Setelah berjam-jam duduk di pesawat, akhirnya kendaraan bersayap itu landing dengan sempurna.
"Sweetie, bangun. Kita sudah sampai di Indonesia!" Darrel menepuk-nepuk kecil pipi istrinya, kemudian tersenyum setelah melihat dua mata cantik itu membuka. "Kau tidur nyenyak sekali, ya?"
"Sudah sampai, ya?"
"EHmmm."
Keduanya pun langsung berdiri, mengambil barang-barang dan memastikan tidak ada yang ketinggalan sebelum akhirnya turun dari pesawat.
Udara segar tanah kelahiran langsung tercium oleh indera mereka. Sengatan mentari cukup terik, berbeda dengan Swiss yang sejuk. Hingga mengharuskan mereka mengenakan kaca mata hitam guna mencegah silau. Keduanya kini berjalan menuju bandara.
"Ibu telepon," ucap Disha begitu mendapati ponselnya yang berdering.
"Halo, Ibu. Iya kami sudah landing. Baiklah kami akan ke sana!" Disha kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jeans setelah selesai mengobrol sejenak. Lantas pandangannya itu tertuju pada Darrel. "Ayah dan ibu sudah menunggu. Katanya di ruang tunggu seperti biasa. Ayo cepat ke sana!"
"Oke!" Darrel merengkuh bahu Disha dari samping sembari menyeret koper. Mereka mulai memasuki bandara dan mencari kedua orangtuanya.
"Ah, itu mereka!" Disha berseru setelah menangkap sosok wanita berambut sebahu yang melambai-lambai ke arahnya serta meneriakan namanya.
Darrel dan Disha pun lantas mempercepat langkah untuk sampai di sana.
"Disha!" Lucia langsung memeluk putrinya itu dan menciumnya berkali-kali. "Ibu sudah rindu sekali denganmu, Sayang."
Sementara Abraham dan Darrel berpelukan dan saling mengulas senyum, sebelum akhirnya memperhatikan ibu dan anak yang saling bertukar rindu.
"Aku juga rindu sekali denganmu, Bu."
"Dan Ayah? Tidak rindu?" Abraham menimpali ucapan Disha, membuat iris binar itu menumbuk ke arahnya.
"Ah, Papa." Gadis itu menghambur di pelukan Abraham. "Tentu saja aku juga rindu denganmu, Papa."
"Bagaimana bulan madu kalian? Bagaimana Swiss? Bagus, kan?"
"Sungguh, Papa. Aku akan menyesal kalau tidak menerima tawaranmu ke Swiss kemarin. Swiss itu indah sekali. Terutama Grindelwald. Ada banyak pegunungan, padang rumput, air terjun, dan segala keindahannya. Oh iya, sapi-sapi perah dan domba-domba juga eksis di sana. Kalian tahu, Darrel menjadi suka dengan sapi setelah melihat mereka. Iya, kan, Darrel?"
Darrel tersenyum geli. "Tapi, tetap tak bisa mengalahkan rasa sukaku padamu. Hehehe."
"Ufff… romantisnya. Bagaimana, sudah ada calon bibit kah?" Lucia menyenggol bahu putrinya.
"Bibit apa?" Disha mengeryitkan dahi.
"Bibit ini!" Lucia mengelus perut Disha dan itu membuat matanya membola.
"Ah, Ibu. Kalau sudah waktunya, pasti kami nanti juga punya anak. Iya, kan, Darrel." Disha melirik sejenak ke arah Darrel, meminta pendapatnya. "Kami hanya belum siap saja menjadi orang tua."
"Ibu dulu sama ayahmu juga berpikir begitu. Makanya kami lama memilikimu. Di usia pernikahan yang sudah lima tahun, baru ibu mengandungmu. Tapi, setelah kau hadir, justru kami merasa menyesal kenapa tidak membuatmu secara cepat."
"Kalau begitu, kalian buat lagi yang baru. Disha juga pengen punya adik. Hahaha."
"Ayah sih, mau mau aja. Tapi, ibumu selalu menolak." Abraham menimpali dengan bercanda.
"Ah, tidak juga. Putri kita kan sudah menikah, alangkah baiknya kalau kita mengurus cucu, bukan anak lagi." Lucia meraup dagu Disha. "Cepatlah kalian merencanakan kehamilan, jangan menunda-nunda lagi."
"Sabar dulu, Lucia, setidaknya tunggu Darrel pulang dari London." Perkataan Abraham yang mengingatkan soal kepergian Darrel itu membuat Disha mendadak murung. Abraham kembali menghadap pada menantunya. Merengkuh bahu kekarnya dan berkata, "Bagaimana, Darrel? Kau sudah siap untuk terbang lagi?"
Ada rasa ragu dalam diri pemuda itu. Bukan karena ia menolak untuk terbang ke London atau menjalankan tugas yang dibebankan, tetapi karena tidak siap untuk meninggalkan istri yang amat dicintainya. Dia pasti akan mengingat semua kenangan indah bulan madu mereka sepanjang perjalanan, dan tentu itu membuat hatinya tersiksa akan rindu.
"I-iya, Ayah mertua. Aku sudah siap!"
"Bagus. Ayah sudah mempersiapkan semua kebutuhanmu di sini. Baju, jas, arsip dokumen, segalanya sudah masuk ke dalam koper." Abraham menggeret koper berwarna hitam untuk sampai di dekat menantunya. "Yang, ini biar kami bawa pulang. Tidak ada barang-barang berhargamu kan?" Abraham menarik koper Darrel.
"Tidak. Tapi ada barang berharga Disha," seru Darrel mencoba mengembalikan senyum di wajah istrinya yang sedari tadi murung.
"Oh, ya? Apa itu?" Lucia penasaran.
"Cokelat, Bu!" jawab Disha sedikit malas.
"Cokelat? Ibu kan sudah sering bilang padamu jangan banyak makan cokelat. Selain membuat badanmu gemuk, tidak baik untuk kesehatanmu, Sayang."
"Iya, iya, ibu dokter!" timpal Disha bercanda. "Ini kan oleh-oleh dari Swiss, Bu. Karena harganya murah dan varian rasanya enak-enak, jadi Darrel membelikannya untukku."
"Darrel, pesawatmu akan berangkat sebentar lagi." Abraham kembali berbicara pada Darrel. "Aku sudah mengabari ayahmu kalau kau akan ke London hari ini untuk pekerjaan. Ayahmu bangga, dia berterima kasih karena mempercayakan kontrak ini padamu. Dia langsung yakin kau akan memenangkan tendernya. Aku pun begitu, aku yakin kau pasti bisa."
"Tender ini adalah impanmu, Ayah mertua. Dan sekarang akan menjadi impianku juga. Jadi, aku akan berusaha semaksimal mungkin."
"Good!" Abraham menepuk bahu Darrel dua kali. "Baiklah, sekarang sampaikan kata-kata romantis pada istrimu sebelum pergi," sambung Abraham seraya terkekeh.
Disha maju dua langkah kecil untuk sampai di hadapan Darrel. Bulu lentiknya itu menumpuk pada iris cokelat terang. Sementara tangannya meraba dadaa suaminya sekadar membenarkan kancing kemeja.
Perpisahan. Itu adalah sesuatu yang paling dibencinya olehnya. Dan kini, ia akan berpisah dengan teman hidupnya.
"Jadi kau akan pergi sekarang?" Disha kini tak berani memandang Darrel, lebih memilih memperhatikan kancing kemeja yang ia buka lalu ia tautkan kembali.
"Hanya jika kau mengizinkannya."
"Aku sebenarnya tidak mau mengizinkanmu jauh dariku. Tapi, karena ini penting, ya baiklah aku mengalah. Lagipula cuma beberapa hari, kan?"
"Iya, Sweetie. Setelah semuanya selesai aku akan langsung terbang ke Indonesia. Tidak mampir ke mana-mana. Ini janjiku."
Disha tersenyum, memeluk erat tubuh suaminya dan merasakan getaran cinta satu sama lain. "Cepatlah pulang, Darrel. Aku akan selalu menunggumu." Bulir bening merembes, tetapi langsung terhisap oleh serat kemeja Darrel.
"Aku akan mengenang perjalanan bulan madu kita. Setiap saat dan detiknya aku terus mengingatmu, Sweetie." Kedua mata Darrel terpejam. Mencium pucuk rambut istrinya dengan sangat dalam.
Pemandangan mengharukan itu tentu membuat sepasang suami istri yang berdiri di dekatnya merasa haru. Abraham merengkuh istrinya dari samping dan Lucia menyandarkan kepala di pundaknya.
"Baiklah. Semoga kau berhasil ya. Have a nice flight!" Disha merenggangkan pelukannya. Mencium pipi Darrel kanan dan kiri. Lantas Darrel mengisyaratkan untuk mengecup bibirnya pula. "Darrel, ada ayah dan ibu di sini," bisik Disha.
Darrel baru sadar, kalau kedua mertuanya itu sedari tadi memperhatikan.
"Kenapa berhenti romantia-romantisnya?" Lucia terlihat protes. "Tenang saja, kami tidak melihatnya. Kau melihatnya, Abraham?"
"Tidak." Abraham menggeleng cepat dengan ekspresi layaknya orang baru tertangkap basah mencuri. "Aku hanya melihat burung-burung di langit." Lelaki paruh baya itu mendongak ke atas.
"Iya, burungnya indah!" Lucia ikut memandang langit.
Melihat dua orangtuanya tak lagi memperhatikan, Darrel langsung mengecup kilat bibir Disha. Itu membuat Disha sedikit terkesiap, namun detik berikutnya langsung membalas pagutan itu.
Keduanya tersenyum seusai mencolong adegan romantis.
"Sudah selesai?" Abraham membuyarkan keduanya. "Kalau sudah, mari kita semua berpelukan." Abraham menggandeng Lucia untuk sampai pada anak dan menantunya.
Mereka berempat pun berpelukan layaknya sebuah perpisahan. Perpisahan yang teramat jauh dan tak pernah kembali.
"Darrel, berjanjilah pada ibu untuk terus menjaga Disha, ya. Karena dia adalah harta berharga kami," amanah Lucia pada pria jangkung itu.
"Meskipun kami memiliki harta berlimpah, tapi hanya Disha yang paling berharga." Abraham menambah.
"Kalian tenang saja, Disha adalah duniaku. Aku tidak mungkin meninggalkan duniaku itu."
Mendengar jawaban menantunya, membuat kedua sejoli itu tersenyum puas.
"Bagus, sekarang kami lega mendengarnya."
"Ayah, Ibu, kalian berkata seperti hendak pergi jauh saja. Aku kan sekarang sudah pulang bersama kalian. Kita akan banyak menghabiskan waktu bersama," seru Disha. Namun, entah mengapa kalimatnya itu seperti ada sesuatu yang membuat air matanya hendak menetes.
"Kami akan bersamamu, Nak. Di hatimu akan selalu ada kami." Abraham kembali merapatkan tubuh Lucia padanya. Kemudian keduanya tersenyum pada Disha. Senyum yang penuh arti.
"Baiklah kalau begitu, Ayah, Ibu, Disha, aku pergi dulu ya! Jaga diri kalian baik-baik." Darrel mengalihkan perhatian mereka.
"Kau juga, Nak! Buat kami semua bangga dengan kesuksesanmu."
Setelah banyak berbincang, akhirnya Darrel melangkah menjauh. Sementara mereka bertiga tetap berdiam di bandara sampai akhirnya pesawat yang ditumpangi Darrel lepas landas.
"Sekarang… kita pulang?" Abraham merangkul kedua orang kesayangannya itu. Membimbingnya untuk sampai di mobil.
"Kalian tadi ke sini tidak di antar supir?" tanya Disha begitu sampai di mobil dan tak melihat seorang sopir.
"Ayah kan bisa mengemudi sendiri, kenapa harus ada supir?" cakap Abraham dengan terkekeh.
"Bukan begitu, Ayah. Ayah kan sekarang lagi tidak enak badan. Harusnya kalian minta diantar supir. Buat apa ada supir pribadi kalau tidak disuruh kerja."
"Entahlah, Disha. Ayahmu bandel. Sudah ibu bilang untuk jaga kesehatan tetap saja makan yang manis-manis. Kau harus menyembunyikan cokelatmu darinya. Jangan sampai dia ikut memakannya." Lucia berkomentar.
"Kalian mulai memusuhiku ya, sekarang. Hehehe."
"Ayah, hari ini mampir ke rumah sakit, ya? Ayah harus periksa. Atau nanti sore Disha antar. Sekalian aku mau ketemu teman kuliahku dulu. Dia sekarang kembali ke Indonesia dan sudah buka praktek di rumah sakit swasta. "
"Oh ya? Temanmu yang mana?" tanya Abraham sembari menaikkan koper di bagasi.
"Naira. Dia seorang dokter sekarang. Spesialis mata."
"Oh yang rambutnya bergelombang sedikit firank, itu?" tanya Lucia menimpali.
"Ehmm."
"Baiklah. Sekarang mari kita masuk ke mobil." Abraham kembali menutup bagasi dan mulai membuka pintu mobil depan. Ia masuk ke dalam sementara istri dan anaknya duduk di bangku belakang.
"Sudah siap?" tanyanya setelah mengenakan sabuk pengaman.
"Sayang, pakai seat belt-mu!" Lucia memerintah putrinya sembari melakukan hal yang sama seperti Abraham.
"Tidak perlu, Ibu. Aku merasa tidak bisa bergerak bebas pakai seat belt," tolak Disha.
"Ya sudah, yang penting buat dirimu nyaman."
Mobil putih itupun akhirnya melaju meninggalkan area bandara. Menyusuri jalan raya yang banyak kendaraan berlalu lalang.
"Oh, iya. Aditya titip salam pada kalian." Disha kembali membuka percakapan.
"Aditya? Teman masa kecilmu itu? Yang keponakannya Bram?" tanya Abraham sembari fokus pada badan jalan.
"Iya, Papa. Memangnya siapa lagi temanku yang bernama Aditya selain dia."
"Kalian ketemu di Swiss apa bagaimana?" Kini Lucia yang bertanya.
"Tidak, dia menghubungiku lewat telepon."
"Aditya. Dulu dia sering sekali bercanda dengan Ibu. Dia masih melanjutkan studinya, atau sudah menikah?"
"Katanya sudah mendapatkan gelar magister, Bu. Dia masih belum mau menikah. Sekarang dia menetap di New York dan mengembangkan perusahaannya yang bergerak dalam bidang Arsitektur dan Interior."
"Arsitektur interior? Bagus dong. Nanti bisa kerja sama dengan perusahaan ayah. Mungkin bisa dalam hal properti dan furniture. Darrel pasti setuju soal ini."
"Darrel? Yang benar saja, Papa. Kalian tahu, Darrel benci banget sama Adi. Dia cemburu kalau aku ngobrol dengannya." Disha tersenyum mengingat ekspresi suaminya kala membahas Aditya.
"Pantaslah Darrel cemburu. Aditya kan anaknya juga tampan." Lucia berseru. "Disha, ceritakan bulan madumu kemarin dengan Darrel. Ibu ingin mendengarnya langsung."
Disha pun mulai menceritakan semua kenangan indah serta kekonyolannya dengan Darrel waktu berbulan madu. Termasuk naik sepeda gunung, gandola Eiger, kereta, serta sapi-sapi yang menarik perhatian Darrel. Semua momen-momen itu membuat kedua wanita itu tertawa renyah.
Hal itu memancing Abraham untuk ikut tersenyum lebar. Tawa pecah kegembiraan anak istrinya memenuhi ruang kepalanya. Namun, detik kemudian kepalanya itu mendadak pusing. Akibat penyakit gula darah yang dideritanya, tubuh lelaki itu menjadi lemas. Pandangannya kabur sehingga tak bisa fokus pada kemudi.
Abraham bergedek, mencoba mencerahkan penglihatannya, tetapi tetap terlihat samar. Sampai akhirnya tangannya itu terlepas pada kemudi, sementara kepalanya mendongak menatap cermin yang mengantung. Tergambar cukup jelas penampakan anak serta istrinya yang begitu renyah tertawa. Namun, pemandangan itu sedikit demi sedikit mulai memudar, hingga tak sadar mobilnya mulai oleng dan menumbuk pada mobil di depannya.
Brak!
goncangan secara tiba-tiba membuat ketiga orang di mobil itu tersentak. Abraham mencoba mengambil kendali lagi. Namun rasa lemas di tubuhnya memaksa mobil bergerak tak tentu hingga pada akhirnya kembali menyenggol punggung mobil di sampingnya. Karena gesekan yang teramat kencang, kini mobil Abraham melayang setinggi satu meter dari permukaan jalan dengan posisi terbalik.
Kepanikan menyerbu keluarga kecil itu, juga memancing perhatian orang-orang sekitar.
"AYAH… IBU…!" Tubuh Disha yang tak mengenakan sabuk pengaman langsung terbalik dan kakinya menendang pintu samping, hingga pada akhirnya tubuh indahnya itu jatuh mengguling ke aspal.
"DISHA!!!"
Sementara Abraham dan Lucia yang masih berada di mobil tak bisa berbuat apa-apa lantaran tubuhnya terkunci seat belt. Mereka tergoncang, kepalanya menumbuk kaca berkali-kali, sedangkan pandangannya tampak terbalik, hingga akhirnya mobil itu terbanting dengan amat keras ke permukaan aspal, menciptakan serpihan kaca-kaca yang retak. Bagai mobil mainan yang dibanting begitu saja, sehingga menghancurkan seluruh bagiannya. Detik berikutnya, kepulan asap menyembul dan kobaran api membludak diiringi teriakan histeris orang-orang sekitar.[]