Bad Thinking

1965 Words
Kicauan burung di pagi hari yang membising membuat Disha melebarkan dua kelopak matanya. Gadis itu membangunkan diri, melakukan perenggangan otot-otot leher. Kemudian, sorot matanya tertuju pada suaminya yang masih terlelap. Kaki jenjang Disha mulai menurun, menapaki lantai dan beranjak ke arah jendela. Menyibak gorden putih, lantas membuka tingkap kayunya. Sinar mentari yang terang langsung menerobos masuk, hingga menyiram tubuh Darrel yang masih terbaring di ranjang. Disha memperhatikan suaminya itu yang sepertinya terusik akan datangnya silau secara tiba-tiba. Tangan kekar itu mencoba menarik selimut, guna menyembunyikan tubuh yang tak berbusana. Itu membuat Disha tersenyum kecil. Ini adalah hari terakhir mereka berbulan madu. Dan tepat siang nanti, mereka harus ke bandara untuk meninggalkan Swiss dan sejuta keindahannya. Ada rasa sedih namun juga senang dalam hati gadis berambut sepunggung itu. Dia senang akan berkumpul lagi dengan kedua orangtuanya, tetapi sedih karena hanya menghabiskan bulan madu dalam waktu singkat. Yah, tiga hari itu memang waktu yang singkat dan terasa kurang jika dijalani dengan orang terkasih. Terlebih, setelah kepulangannya nanti, Darrel harus terbang ke London terkait urusan bisnis. Perpisahan itu yang sebenarnya Disha sayangkan. Disha beralih ke kamar mandi guna menyegarkan badan. Keluar lagi setelah setelah tubuhnya itu bersih. Kini ia tengah sibuk berdandan, hingga dering ponsel mengusiknya. Gadis itu mengambil ponselnya di nakas lalu menempelkannya pada telinga setelah tersambung dengan panggilan. "Halo, Ibu. Iya aku sudah bangun. Darrel masih tidur. Kami akan terbang siang nanti. Baiklah, nanti aku sampaikan pada Darrel. Oke. See you too!" Disha menatap layar ponselnya kala panggilan itu sudah terputus. Dahinya mengernyit saat melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Aditya. Itu sekitar lima jam yang lalu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali menghubungi, sembari duduk di sofa dekat jendela. "Halo, Aditya!" sapa Disha setelah cukup lama menunggu sambungannya. "Maaf semalam aku tidak melihat panggilanmu. Aku ketiduran setelah berjalan-jalan dengan Darrel." "Tidak apa-apa, Disha. Aku lupa kalau tempat kita beda jam." Terdengar suara pria di seberang sana yang menarik napas. "Bagaimana bulan madumu? Tempat mana lagi yang akan kalian kunjungi? Aku dengar Swiss itu banyak tempat-tempat indah di sana." "Yah, memang banyak sekali, Adi. Tapi kami akan terbang ke Indonesia nanti siang." "Secepat ini? Bukannya kalian baru tiga hari? Aku kira pasangan yang baru menikah bakal sebulan honeymoon-nya. Hehehe." "Sebenarnya kami tidak ingin secepat ini, tapi… Darrel ada pekerjaan di London. Oh iya, aku belum bercerita padamu kalau mulai sekarang Darrel yang akan mengurus perusahaan Papa. Papa lagi sakit sekarang, makanya dia tidak bisa ke London. Dan sebagai wakilnya, Darrel yang berangkat." Disha memang sangat terbuka jika dengan sahabatnya itu. Segala hal kecil dia curahkan semuanya pada Aditya. "Beruntung sekali ya, Darrel. Mendapatkan istri secantik dirimu, lalu diangkat jadi Presdir perusahaan ayahmu. Aku benar-benar iri dengannya. Kenapa kau jatuh cinta dengannya, Disha? Kenapa tidak denganku?" Terdengar nada bercanda dari suara pria itu. Yah, Aditya memang suka sekali bercanda. "Justru aku yang beruntung, Adi. Kau tahu, ada banyak hal dalam diri Darrel yang mungkin hanya dimiliki olehnya yang membuatku tergila-gila." Tatapan mata Disha itu terpaku pada suaminya yang masih belum juga pergi dari mimpinya. "Kau tahu, dia sekarang masih tidur. Lucu sekali wajahnya itu." "Sepertinya dia memang duniamu saat ini. Hehehe." "Yah, begitulah." "Tapi, Teman. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu yang mungkin akan menyinggung perasaanmu. Kau itu cantik, mandiri, pintar, kaya dan segalanya terlihat sempurna pada dirimu. Aku takut, Darrel akan menyakitimu. Entahlah, kebanyakan pria sekarang kan mengucapkan cinta di bibir tapi tak sampai pada hati." "Maksudmu?" Disha mengerling. Membuat dahinya mengerut berlapis-lapis. "Bukannya aku menuduh, tapi kau harus buktikan dulu cinta Darrel itu benar-benar tulus atau sekadar ingin mendapatkan lebih darimu. Orang tuamu kan kaya raya, dan tidak memiliki anak lagi selain dirimu. Dengan menikahimu, Darrel pasti akan mendapatkan kekayaan dari orang tuamu. Aku takut dia akan menjadi gelap mata." "Aditya!" Disha langsung menyela ucapan sahabatnya dengan nada sedikit tinggi, seakan mengabari kalau dia tidak suka temannya berpikiran seperti itu pada suaminya. "Kalau kau bukan sahabatku, mungkin aku sudah marah besar denganmu." "Maaf, Disha. Aku hanya takut kau terluka saja." "Tidak, Adi. Kau tenang saja. Darrel bukan pria seperti itu. Sudah lebih dari lima tahun aku mengenalnya. Dia tidak suka mabuk, keluar malam, main di club, bertengkar dan segala hal buruk, itu semua tidak ada dalam catatan hidup dia. Dan dia tulus mencintaiku tanpa pamrih. Tanpa memandang kekayaanku tentunya." "Iya, iya. Dia memang yang terbaik. Kenapa kau marah, aku kan hanya berpikiran saja." "Aku tidak marah, Adi. Memangnya aku pernah marah denganmu?" Kini mulai terukir senyum kembali di garis bibir Disha. "Oh iya, Darrel itu suka cemburu kalau aku mengobrol denganmu." "Itu wajar. Lelaki mana yang tidak akan cemburu jika wanitanya berbicara pada orang yang belum ia kenal. Darrel kan belum kenal denganku." Terdengar hembusan napas Aditya yang memenuhi ponsel Disha. "Sepertinya enak sekali ya punya pasangan. Bisa saling cemburuan, sayang sayangan, dan romantis romantisan." "Makanya… cepat cari gadis. Bukannya di New York banyak gadis-gadis cantik?" "Yang cantik sih banyak. Tapi yang cantik dan bernilai itu yang jarang. Seperti kau contohnya. Aku masih belum menemukan gadis yang seperti dirimu. Kalau ada, pasti langsung aku nikahi. Hahaha." "Dari dulu kau memang tidak pernah berubah, ya. Kau selalu memujiku seperti itu dan bercanda ria." Disha memberi jeda sejenak. "Ya sudah, aku tidak ingin mengganggu waktumu lagi. Aku juga ingin bersiap untuk membereskan barang sebelum meninggalkan tempat ini. Oh iya, kalau ada waktu senggang tolonglah ke Indonesia. Aku sudah rindu mau cubit pipimu itu." "Keterlaluan. Kau menyuruhku jauh-jauh ke Indonesia hanya untuk dicubit?" Aditya tertawa renyah. "Baiklah, dalam waktu dekat aku janji pasti akan ke Indonesia bertemu denganmu. Aku juga sudah kangen bertemu dengan Paman Abraham dan Bibi Lucia. Dan juga masakan khas buatan Bibi Emine. Sungguh, koki rumahmu itu benar-benar chef yang berbakat Disha! Oh iya, titip salam juga untuk Darrel ya!" "Iya, nanti aku sampaikan. Tapi aku tidak bisa jamin kalau dia mau menyalamimu balik. Hahaha." "Rupanya sebenci itu ya suamimu denganku." "Begitulah. Hahaha. Oke see you, Adi!" Disha menutup teleponnya. Mengedarkan pandangannya ke arah lelaki tampan yang masih belum juga mau membuka mata cokelatnya. Gadis itu berdiri, berjalan mendekati ranjang. "Darrel, bangunlah. Hari sudah sangat cerah." Disha menyingkap selimut putih, mengekspos badan kekar yang tak berbusana, tetapi dengan cepat tangan Darrel menariknya kembali. Ringkikan bak bayi keluar dari mulutnya. "Dasar bayi besar!" Gadis itu mencondongkan kepalanya, menatap wajah suaminya lekat. Napas angin tipis Disha tiupkan secara perlahan. Itu membuat bulu mata pria keturunan Inggris itu terjungkit. Kelopak yang menyembunyikan retina kini mulai membuka. Diiringi pula goresan senyum dari garis bibir yang terapit bulu halus. "Sweetie… kau merusak mimpiku." Kedua tangan Darrel langsung merengkuh punggung Disha untuk menempel di dekapannya. "Oh ya? Memangnya mimpi indah apa yang lebih indah selain bersamaku?" tanya Disha menggoda. "Kau tahu, aku sedang bermimpi menggendong bayi denganmu. Bayi laki-laki dan perempuan. Mungkinkah pertanda kalau kita akan memiliki anak kembar?" "Memangnya kau sudah siap menjadi ayah?" "Umm… entahlah. Aku lihat teman-teman sejawatku yang sudah punya anak mereka menjadi kacau. Istrinya sering marah-marah dan sebagainya. Itu membuatku takut." Disha tergelak geli. "Tidak semua seperti itu, Sayang. Justru, kalau pasangan punya anak akan bertambah rasa cintanya. Itu yang aku dengar dari ibu. Buktinya, ayah dan ibu saling mencintai sampai sekarang." "Memangnya… kau sendiri sudah siap menjadi ibu?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir suaminya membuat Disha membisu. Dahinya berkerut. Ia bahkan belum benar-benar siap untuk menjadi seorang ibu. "Entahlah!" Gadis itu mengedikan bahunya, mencoba menyingkir dari dekapan Darrel, tetapi suaminya itu tak memberinya izin. "Kau mau kemana? Aku masih ingin memelukmu seperti ini." "Darrel, sudahlah. Ini sudah sangat cerah. Kita bisa terlambat nanti." Disha mengecup pipi pria itu secara intens, lalu kembali menatapnya. "Sudah. Sekarang cepat bangun dan mandi. Lepas itu kita cari makan dan packing untuk pulang." Disha menyingkir dari badan kekar itu dan beralih menuju meja dapur. Sementara Darrel mulai membangunkan tubuhnya. Melakukan perenggangan otot-otot leher serta tangan. Sebelum akhirnya ia berdiri dan beranjak menghampiri istrinya kembali. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya begitu sampai di belakang Disha. kedua tangannya kembali mengurung perut wanitanya. "Aku hanya memindahkan cokelat-cokelat ini di satu tempat agar muat dalam koper kita nanti," jawab Disha sembari terus melakukan pekerjaannya. "Umm… kalau kau mau nanti kita mampir ke toko cokelat lagi untuk membelinya. Kau bisa menyimpannya di lemari dingin setelah sampai di rumah." "Boleh." Darrel memutar tubuh istrinya, lantas mengangkat tubuh langsing itu dan memajangnya di atas meja dapur. Jemari Darrel mencolek cokelat lalu mengaplikasikan pada bibir Disha. "Hottie, apa yang kau lakukan? Aku sudah mandi. Jangan mengotoriku lagi." "Ssstt…!" Telunjuk Darrel menutup bibir ranum Disha. Kembali mengoleskan cokelat di permukaannya, kemudian meratakan dengan bibirnya. Setelah cukup lama saling bertukar saliva, akhirnya Disha menyudahi permainan itu. Ia menumpangkan kedua tangannya di bahu Darrel sembari menatapnya lekat. "Disha, kau harus buktikan dulu cinta Darrel itu benar-benar tulus atau sekadar ingin mendapatkan sesuatu lebih darimu. Orang tuamu kan kaya raya, dan tidak memiliki anak lagi selain dirimu. Dengan menikahimu, Darrel pasti akan mendapatkan kekayaan dari orang tuamu. Aku takut dia akan menjadi gelap mata." Perkataan Aditya terus mengiang dalam pikiran Disha. Seolah menjadi hantu yang menerornya. Sebenarnya Disha menaruh kepercayaan penuh pada suaminya itu, tidak sedikitpun meragukan cintanya. Tetapi, ia takut kalau badai cintanya akan diuji. "Darrel, apa kau benar-benar mencintaku?" "Pertanyaan macam apa itu, Sayang. Tentu saja aku sangat mencintaimu. Cintaku itu lebih luas dari samudera." Darrel menggambarkan luasan samudera dengan tangannya. Itu menciptakan senyum merekah di garis bibir Disha. Gadis itu harus menepik jauh-jauh pikiran buruk tentang hubungannya. Karena, ia percaya Darrel akan tetap menjadi permen karetnya. "Oh iya, ibu tadi telepon. Katanya dia akan menjemput kita kalau sudah sampai bandara nanti. Semua perlengkapanmu untuk terbang ke London juga sudah disiapkan. Kau langsung bisa terbang setelah sampai di bandara." Wajah Disha berubah sendu saat mengatakan kalimat terakhir. Berpisah dengan suami walau hanya beberapa hari pasti akan menyiksa dirinya. "Kenapa kau murung begitu? Aku kan hanya pergi beberapa hari, Sayang." Sebenarnya Darrel sendiri tak sudi jika harus meninggalkan orang yang paling dicintainya walau hanya semenit pun. "Rasanya cepat sekali, Darrel. Kita masih ingin menjalani liburan musim semi ini tapi keadaan harus memisahkan kita. Aku juga belum puas menjelajahi Swiss." Darrel mengambil dagu Disha, menata janggut runcing itu untuk kembali menatapnya setelah pandangan istrinya itu memaling. "Swiss ini luas, Sweetie. Masih banyak tempat indah yang belum kita jamah dan tentunya tidak cukup dalam waktu tiga hari saja. Baiklah sekarang begini, sepulang aku dari London, aku janji akan mengajakmu jalan-jalan lagi. Yah, anggap saja honeymoon part dua." Disha tertawa geli. "Seperti film dan cerita novel saja pakai part-part segala." "Hehehe. Oh iya, kita juga bisa mengunjungi tempat berbeda. New Zealand misalnya, kita bisa berkeliling di kebun anggur. Melihat sapi-sapi perah–" "–Apa sapi sekarang menjadi hewan favoritmu?" "Ummm…. Yah, setelah melihat kemarin, sepertinya sapi-sapi itu lucu. Hahaha." Keduanya tertawa renyah. Hingga detik berikutnya Disha kembali menyentuh pipi Darrel. "Kau akan ke London. Lalu aku sendirian deh." "Sudahlah kau jangan membuatku ikutan sedih." "Aku hanya takut kau berubah. Yah, siapa tahu ada gadis yang kau temui dia sana." "Hahaha. Tidak ada gadis lain yang membuatku tergila-gila seperti dirimu ini. You're only the one. Lagipula, aku juga belum siap jika menyerahkanmu pada temanmu itu. Siapa namanya?" "Aditya?" "Ya itulah. Aku tidak peduli dengan namanya." "Baru saja kau tanya namanya." "Dan aku menyesalinya sekarang." Ekspresi Darrel langsung berubah kala membicarakan soal Aditya. Rasa cemburu itu yang memancing Disha untuk tertawa. "Sudahlah, aku mau mandi dulu." Kecupan manja Darrel hadiahkan di kening, kedua pipi, serta bibir Disha, sebelum akhirnya ia memutar tubuh kekarnya itu untuk berjalan menjauh. "Oh iya, tadi Aditya titip salam padamu!" ujar Disha yang masih menunggang di meja dapur. Darrel menoleh ke belakang sejenak. "Katakan aku tidak tertarik sama sekali untuk menerima salamnya," ucapnya dengan ekspresi sedikit kesal. Lantas kembali melenggang menuju kamar mandi. Sementara Disha hanya tersenyum lebar seraya menggeleng-geleng, memandangi punggung suaminya yang saat itu hanya telanjang dadaa. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD