Lanskap Benua Eropa bagian barat seolah tak pernah menjemukan untuk dijelajahi. Selain memiliki sejarah epik dan seni yang memesona, pemandangan alamnya pun memukau sehingga menarik banyak wisatawan.
Adapun salah satu negara Eropa barat yang mengundang perhatian adalah Switzerland atau Swiss. Bentang alam yang indah dan kastil-kastil yang megah di Swiss kerap membuat banyak pelancong memasukkannya dalam bucket list rencana liburan.
Selain menyedot minat wisatawan, keindahan alam Swiss juga berhasil memikat hati produser film-film kenamaan untuk menjadikannya sebagai lokasi pengambilan gambar. Tak hanya memperkuat alur cerita film, panorama Swiss pun menyejukkan sehingga mampu memanjakan mata para penikmat sinema.
Pesona Swiss adalah sajian keindahan alam ala negeri dongeng. Pemandangan pegunungan Alpen yang terdiri dari tiga puncak—Eiger, Moench, dan Jungfrau— serta desa-desa kuno seakan muncul dari sebuah buku fiksi. Puncak pegunungan Alpen yang tertutup salju, danau biru berkilauan, lembah zamrud, gletser, dan dusun kecil tepi danau yang indah menghiasi negara daratan ini. Atraksi budaya di negara daratan sama menariknya bagi pelancong. Bangunan bersejarah, aneka budaya dan bahasa multikultural, festival hingga dialek membuat Swiss terasa seperti paduan apik beberapa negara sekaligus.
Kala fajar pertama tiba, Darrel dan Disha sudah berpamitan dengan mimpinya dan memilih menjelajah alam yang benar-benar nyata. Dua pasangan itu menaiki sepeda gunung berboncengan menyusuri jalanan yang masih tertutup kabut. Udara sejuk membuat mereka harus mengenakan jaket tebal. Tetapi rasa malas pagi hari itu menyingkir saat kaki Darrel mengayuh sepeda menanjak ke lembah-lembah yang sekelilingnya terhampar gurun rumput nan hijau.
Sampai pada akhirnya, cahaya mentari keperakan menyingsing menyirami perbukitan dan mengusir kabut yang menyembunyikan keindahan puncak Eiger. Danau biru yang berkilau membentang indah, menciptakan keunikan desa Grindelwald dengan hamparan rumah dan rumput hijau yang membentang di sepanjang kiri dan kanan lembah. Bunga-bunga musim semi yang tengah bermekaran, menambah suasana desa bagaikan surgawi yang tercipta untuk negara ini. Gunung-gunung Es yang mengelilingi, seakan ikut andil memberi fantastiknya suasana alam desa yang asri. Sementara sungai yang bersih kehijauan, zamrud yang bertaburan membelah lembah dan desa, membuat mata tak sudi untuk beranjak kemana mana.
Rupanya penduduk desa ini membangun rumah, taman, serta perkebunan tanpa merusak kontur tanah. Mereka membangun semuanya sesuai dengan landskap yang ada, ditambah dengan gaya bangunan rumah khas desa Eropa membuat asri suasana desa menjadi sedap dipandang mata.
"Hottie, apa kau sudah capek mengayuh?" Disha bertanya sembari mendongak ke atas, memperhatikan wajah suaminya yang berkeringat. "Bagaimana kalau kita istirahat?"
"Boleh!" seru Darrel seraya menumbuk mata, lantas pandangannya kembali menghadapi badan jalan. Melirik ke sana ke mari hingga akhirnya matanya itu menemukan sebuah gerojokan air yang tampak bersinar membelah tebing. Di dasarnya, seperti mengalir kristal jernih dikelilingi oleh bunga-bunga musim semi. "Sweetie, bagaimana kalau kita ke tempat itu? Sepertinya bagus sekali. Kau bisa selfie juga di sana!" Darrel menunjuk dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tetap berpegang pada setir sepeda.
"Kelihatannya itu tempat yang indah." Disha tampak antusias.
Tanpa menunggu waktu, Darrel menambah kayuhannya, semakin membuat sepeda itu meluncur dua kali lebih cepat. Hingga akhirnya mereka sampai di tepian jalan. Ia memarkirkan sepeda tersebut di dekat pagar, dan mulai menggandeng istrinya menuju air terjun yang memanjakan mata.
"Ini indah sekali, Darrel!" Disha berlarian di padang rumput, merentangkan kedua tangannya menikmati udara segar esok hari. Lantas, tangannya menyibak bunga-bunga edelweiss yang bermekaran di tepian sepanjang hilir sungai.
"Disha!" Darrel menghampiri dengan setengah berlari. Menumbuk tubuh gadis itu kala sampai di dekatnya. Kini tubuh mereka saling bertumpukan beralas rumput hijau muda.
Tangan Darrel menyugar rambut kecil Disha, menautkannya pada telinga agar tak menghalangi kecantikan sang istri. Lantas, pemuda itu meraih setangkai edelweiss, mengaplikasikan pada telinga Disha.
"Perfect!" serunya bernada lembut.
Pemuda itu mengguling, merebahkan tubuhnya di samping Disha. Pandangannya mulai menatap langit, keindahan yang sama yang Tuhan berikan berhasil mereka rasakan secara percuma. Burung-burung yang beterbangan, awan kumulus yang menggantung indah, serta warna biru muda yang membentang luas, membuat pemandangan cakrawala itu tampak surgawi.
Darrel memalingkan wajahnya, menatap istrinya yang tiada henti mengulas senyum. Seakan goresan senyum itu bagai virus yang kini mewabah pada garis bibirnya.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Disha yang mulai sadar kalau sedari tadi mata cokelat terang itu memperhatikannya.
"Teruslah tersenyum, Sayang. Kau tampak cantik kalau seperti itu."
Disha mengangkat sedikit kepalanya, menumbuk iris cokelat itu. "Selain orang tuaku, hanya kau yang bisa membuatku seperti ini, Darrel. Kau yang selalu menumbuhkan senyum ini. Berjanjilah kau akan terus mempertahankan senyum ini."
"Tentu!" Darrel meraba pipi istrinya. Menyentuh bibir ranum itu dengan jemarinya. Lantas, kepalanya itu mulai ia dekatkan. Perlahan namun pasti. Kedua bibir saling bertemu dan membagi rasa yang kian bergejolak. Desahan kenikmatan mengalahkan gemericik air yang mengalir dari hilir dekat tempatnya berbaring.
Mbeekkk…..
Suara embikan domba membising mengganggu adegan romantis mereka. Disha buru-buru menyingkir dari hadapan Darrel. Membangunkan tubuhnya dan memandangi segerombolan domba yang tengah diigiring menuju rerumputan oleh seorang petani. Tentu saja pemandangan itu membuat tertarik.
"Darrel, bagaimana kalau kita mengikuti alur arus sungai ini? Sepertinya di sana juga ada Green house. Mungkin kita bisa melihat sapi-sapi yang tengah asyik menyantap rerumputan." Disha menarik tangan suaminya untuk berdiri.
"Tapi, Sweetie. Kalau cuma sapi dan domba di Indonesia juga banyak."
"Yang ini beda, Baby. Lihat, bulu-bulu domba itu sangat lembut. Ayolah kita ke sana!"
"Memang aku pernah menolak ajakanmu?" Darrel merendahkan tubuhnya, mengambil posisi jongkok. "Ayo naik ke punggungku. Aku akan menggendongmu sampai ke sana," imbuhnya dengan gerakan tangan menebas bahu.
"Apa kau tidak capek?"
"Kau meremehkan kekuatan otot suamimu ini? Ototku ini lebih kuat daripada otot temanmu yang kau bicarakan semalam. Ayo cepat!"
Dengan senang hati Disha menghamburkan tubuhnya di punggung Darrel, bagai katak saja. Setelah naik, Darrel mendirikan tubuhnya, mengikat tangannya dengan kaki Disha. Lantas, mulai menapaki rerumputan di sepanjang hilir sungai.
Terdapat beberapa Green house yang di bangun di tengah lembah perbukitan. Di sekelilingnya berdiri sapi-sapi perah yang tengah asyik menyantap rerumputan hijau bak permadani. Kicauan burung yang berlalu lalang di atas sana, kian menambah keelokan pedesaan Grindelwald. Sementara pegunungan hijau nan putih yang sepertinya tiada putus, membentengi tempat bak surgawi itu. Setiap puncak yang terlihat jauh semakin memudar akan kabut. Keindahan itu tentu tak lengkap jika tanpa hilir sungai kecil di sekitarnya, diapit pula mahkota edelweiss yang bermekaran tumbuh di tepian hilir. Gemericik air sungai yang menggerojok, benar-benar menentramkan jiwa. Menghilangkan penat yang menggelayut di kepala.
Swiss, terutama Grindelwald memang akan selalu memukau banyak mata yang memandang. Sehingga tak sedikit para pelancong yang tergila-gila untuk mencapai puncak Eiger maupun sekadar duduk menikmatinya dari jarak terdekat. Seperti yang Darrel dan Disha lakukan sekarang ini.
"Darrel, lihat! Ada ikan kecil yang melompat." Disha menunjuk beberapa ikan yang mencoba menyapa daratan.
"Airnya jernih sekali, Disha. Kau tak ingin membasuh muka?" Pemuda itu menuruni tepian sungai. Menapak pada batu-batu kecil yang bersih. Kemudian kedua tangannya itu mulai meraup air dan membasuhkan ke wajahnya.
"Huffft…. segar sekali!"
Disha pun tak mau ketinggalan. Ia mulai menurunkan tubuh, membasuh muka dan mencuci tangan. Meskipun mereka mengoboknya, tetap saja air itu bagai kristal. Karena memang itu merupakan air yang mengalir dan akan terus terlihat bening.
Usai menikmati pemandangan sungai, kini Darrel mengajak Disha menaiki gondola Eiger Express dari Grindelwald Terminal menuju Stasiun Eigergletscher yang hanya memakan waktu lima belas menit. Selepas dari stasiun tersebut, mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak Jungfraujoch. Di sana kedua pasangan itu menjajal pengalaman menumpangi kereta dengan rute tertinggi dunia melintasi jalur menanjak mengitari Gunung Jungfrau. Usia jalur ini sendiri sudah lebih dari satu abad.
Jika musim dingin tiba, seluruh Grindelwald akan terselimuti salju. Dan momen paling mengasyikkan adalah berselancar di atas butiran es tersebut. Sayangnya mereka datang di waktu musim semi. Jadi, yang mereka nikmati adalah bunga-bunga yang bermekaran indah. Pesona Grindelwald memang tiada habisnya. Ada banyak tempat yang belum mereka kunjungi dan tentunya tidak akan habis dalam waktu tiga hari saja.
***
"Kau sudah lapar, Sayang?" Darrel bertanya pada istrinya, yang saat itu sibuk menata rambut. "Bagaimana kalau kita keluar dan mencari makan. Ini malam terakhir kita loh."
"Ehm. Perutku juga keroncongan." Disha mengenakan jaket wolnya dan memutar tubuh menatap suaminya. "Ayo! Sebelum malam larut."
Keduanya pun akhirnya keluar menuju arkade terdekat. Darrel membeli makanan berbau coklat untuk istrinya yang memang pencinta coklat.
Swiss merupakan negara penghasil cokelat terbaik di dunia. Tak heran beberapa merek cokelat dari negara ini begitu populer. Contohnya seperti, Lindt, Toblerone, Laderach, Cailler, hingga Nestle.
Pembuatan cokelat di Swiss dimulai sejak abad ke-17 dan berkembang berkat sejumlah perintis. Salah satunya François-Louis Cailler yang membuka pabrik di Corsier-sur-Vevey di atas Danau Jenewa pada 1819. Kemudian, pada 1826, giliran Philippe Suchard mendirikan pabrik cokelat di Serrieres, di Kanton Neuchatel. Jumlah produsen cokelat terus bertambah hingga akhir abad ke-19.
Menikmati udara Swiss di malam hari sepertinya akan menjadi favorit Disha kala kembali ke tanah kelahiran. Kini keduanya duduk di sebuah kedai yang menjual aneka ragam coklat, kopi, serta makanan penutup.
"Kau tahu Darrel, aku menjadi orang yang bahagia sekali. Ada banyak cinta yang menyelimutiku. Terapi, aku juga takut, kalau semua ini memudar." Disha mengaduk coklat panasnya dengan ekspresi gundah gulana.
"Jangan berpikir seperti itu, Sayang." Tangan kanan Darrel mendarat di punggung tangan kiri Disha. "Kau akan tetap bahagia seperti ini, aku janjikan itu padamu."
"Kau tahu, kebahagiaan terbesarku adalah bersama dengan orang-orang yang aku cintai, dan ketakutan terbesarku adalah ketika mereka semua meninggalkanku."
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Aku mempercayaimu, Darrel." Disha menarik garis bibirnya lebar. "Cinta, kasih sayang, kegembiraan, hanya denganmu aku mendapatkannya. Yah, selain dari kedua orangtuaku. Sikap romantismu itu yang membuatku tergila-gila."
"Kalau aku tergila-gila dengan semua hal yang ada padamu." Darrel membalas dengan kekekah.
"Kau mulai membual!"
"Aku serius, Sayang. Siapa yang tidak akan jatuh cinta padamu. Wanita cantik, baik, mandiri, semua ada dalam dirimu. Merupakan keberuntungan terbesarku saat kau memilihku sebagai pasangan hidupmu." Kini kedua tangan Darrel mulai menggenggam erat tangan istrinya, mengelus lembut dan memberinya kehangatan. "Aku tidak bisa berjanji untuk mencintaimu selama-lamanya, karena aku tidak punya kemampuan untuk hidup abadi. Tetapi, aku berjanji akan mencintaimu selama aku masih hidup. I love you till my last breath!"
"Me too. Dan sepertinya akan menjadi kebodohan terbesarku kalau dulu aku tak menerimamu sebagai pacarku. Hahaha" Agaknya memori di mana Darrel menyatakan cintanya untuk kali pertama masih membekas lekat di pikiran Disha.
"Kau masih mengingat hal itu ya?" tanya pemuda itu seakan bisa menebak isi pikiran istrinya.
"How do you know?"
"Pikiran kita sama, Sweetie. Momen-momen yang pernah terjadi di masa hidup kita memang terlihat usang, tetapi tidak bosan untuk kita kenang. Bahkan saat kejadian terburuk pun akan mejadi lelocon kala kita mengenangnya di zaman yang berbeda." Darrel memindahkan pandangannya pada makanan di meja. "Sweetie, bagaimana kalau kita makan bersama? Maksudku jangan berhadap-hadapan seperti ini. Aku ingin kita duduk berdampingan."
Hal-hal kacil yang menjadi keinginan Darrel kadang membuat Disha tertawa. Tetapi, berangkat dari hal-hal kecil itu pula yang membuat hidupnya diselimuti kebahagiaan.
"Baiklah!" Disha mendirikan tubuh, beranjak menghampiri Darrel dan duduk di sampingnya.
"Nah, gini kan enak kalau aku hendak menyuapimu." Darrel menyendok mie goreng lalu disuapkan pada istrinya. "Enak, bukan? Rasanya tidak kalah jauh dengan aneka mie yang ada di Indonesia."
Disha mengangguk seraya mengunyah sampai habis.
"Oh iya, bagaimana kalau kita berlomba. Jadi, kita akan makan mie, siapapun yang lebih cepat nanti akan lebih cepat pula mendapatkan ciuman."
"Hah?" Disha mengeryitkan dahi tak mengerti.
"Begini." Darrel mengambil mie yang panjang, menyuruh Disha menggigit ujungnya. Lantas ujung berbeda ia gigit.
Sepertinya Disha sudah mengerti permainan apa yang Darrel maksud. Segera Darrel memotong mie tersebut dengan gigi-giginya agar cepat habis dan mencicipi bibir ranum istrinya.
CUP!
Kedua bibir itu bersatu, saling memagut mesra. Momen romantis itu tentu disaksikan oleh banyak pengunjung kedai. Mereka memuji keromantisan keduanya yang tampak malu-malu.[]