Usai keduanya duduk di kursi masing-masing, akhirnya pesawat pun lepas landas.
"Darrel, boleh aku duduk di dekat kaca? Aku ingin sekali bisa melihat pemandangan dari atas," pinta Disha sembari melirik kaca tembus pandang yang terpajang di awak pesawat.
"Of course!" Darrel memindahkan tubuh istrinya itu kebagian pinggir dekat kaca, sementara ia di sampingnya.
"Indah sekali," kagum Disha saat kepalanya itu ia todongkan di kaca pesawat, menyaksikan awan kumulus yang tampak sangat dekat dengannya. Gadis itu menyudahi tatapannya dari kaca, lantas beralih menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Wajahnya mulai murung kala memikirkan kedua orangtuanya. Rasanya, suara ibunya masih menggema di gendang telinga mengalahkan desingan suara pesawat.
"Kau mengantuk, Sweetie?" tanya Darrel saat tak lagi mendengar gerakan istrinya.
"Aku hanya rindu ibuku."
"Belum ada satu jam kita tadi berpisah, Sayang. Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Nanti kalau sudah sampai kau bisa meneleponnya. Sekarang lebih baik kau tidur di pelukanku saja, oke?" Darrel mengambil tangan Disha dan menggenggamnya erat. Menciumi aroma shampo rambut istrinya itu berkali-kali. Semua yang ada di tubuh Disha memang sepertinya menjadi favorit pemuda itu.
***
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi itu mendarat sempurna di bandara. Angin sejuk Swiss langsung menerpa keduanya saat mereka menuruni tangga pesawat.
"Bagaimana? Kau senang?" Darrel bertanya pada Disha kala mereka berjalan meninggalkan pesawat.
"Tentu saja. Ini kali pertama aku di Swiss."
"Tunggu kejutan apa yang menantimu nanti."
Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, mereka pun mulai menuju ke tempat tujuan.
Swiss telah lama dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki pemandangan luar biasa. Hampir di setiap sudut negara ini pasti dikelilingi dengan gunung-gunung yang membuat pemandangan di sekitarnya menjadi begitu indah. Ada juga beberapa wilayah di Swiss yang dikenal memiliki pemandangan paling indah yang tercatat dalam UNESCO. Salah satunya adalah desa Grindelwald. Dan itu merupakan tempat yang menjadi target Darrel menghabiskan bulan madunya bersama orang terkasihnya, Disha.
Grindelwald adalah desa yang memiliki luasan wilayah 171,3 km². Desa ini dihuni lebih dari 3.800 jiwa. Desa yang terletak di Swiss ini dikelilingi pegunungan megah. Selain itu, juga ditemui laut biru yang cantik di beberapa bagian desa ini yang semakin menambah pesona desa Grindelwald. Salah satu puncak gunung yang paling terkenal adalah Gunung Eiger.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Darrel menuntun Disha menyusuri perjalanan yang diapit oleh perumahan bergaya Eropa, yang terhampar di rerumputan hijau, sedangkan di belakangnya terhadap gunung yang menjulang tinggi. Gunung-gunung itu berwarna hijau segar sementara gunung yang berada di belakangnya lagi tampak membiru serta keputihan akibat terselimuti salju.
Angin Grindelwald seolah berbisik pada mereka, menyambut kedatangannya dengan sepenuh hati. Setelah mendapatkan tempat penginapan, dua pasangan pengantin baru itu pun lekas membawa kopernya ke dalam. Beruntung sekali penginapan itu terletak di tempat strategis di mana mereka bisa menyaksikan matahari terbit dari pegunungan juga tenggelam di pegunungan pula. Di kaki-kaki gunung, ditemukan pula danau-danau yang hijau menambah keelokan tempat tersebut.
Segala rasa penat di benak jiwa seolah luntur kala dihidangkan pemandangan alam yang luar biasa itu.
"Sweetie, kau pasti capek, 'kan? Sebaiknya kau istirahat saja. Jangan paksakan untuk jalan-jalan sekarang. Itu akan membuatmu sakit." Darrel berkata pada Disha yang berdiri di luar rumah, sembari merentangkan kedua tangannya menikmati udara Grindelwald. "Kita bisa menjelajah besok pagi, atau nanti malam kita juga bisa ke pedesaan lainnya. Oh iya, meskipun di sini disebut pedesaan, tapi kemajuan zamannya seperti perkotaan loh."
"Benarkah?"
"Kau akan melihatnya nanti. Sekarang, kita coba bereskan dulu pakain kita. Lepas itu kita istirahat agar nanti sore bisa fresh kembali." Darrel membimbing istrinya untuk masuk ke dalam penginapannya.
Meski disebut desa, Grindelwald memiliki fasilitas publik yang sudah modern yang memudahkan mobilitas bagi siapa pun yang ingin menjelajah desa dan wilayah sekitarnya. Biasanya wisatawan bisa menggunakan stasiun kereta gantung, dari titik yang disebut 'First' untuk mencapai area pendakian. Kereta gantung ini juga bisa mengantar wisatawan menjelajah lebih jauh ke 'Cliff Walk by Tissot', yang terkenal sangat spektakuler. Di sana para pengunjung bisa berjalan kaki melewati jalur yang dibangun di sepanjang dinding tebing pegunungan yang bersisian langsung dengan jurang-jurang dalam.
"Halo, Ibu. Iya, kami sudah sampai tadi. sekarang sudah ada di penginapan. Iya, ibu. Kami ingat semuanya. Sudah ya, Bu. Kami mau istirahat dulu. Rasanya capek sekali. Iya, kami akan kirim foto nanti. Kalau perlu kita video call. Oke, love you. Sampai jumpa."
Disha mematikan panggilannya dan menghempaskan tubuhnya di ranjang, membuat spring bed empuk itu menyembul sedikit ke atas. Sementara Darrel masih sibuk menata kopernya di lemari kayu bergaya Eropa.
***
"Darrel, aku masih ingin berjalan menjelajahi keindahan malam di sini, tapi kakiku sakit sekali." Disha menghentikan langkahnya, memijat betisnya yang terasa pegal.
"Aku juga sudah mengantuk, Sayang. Sejak sore tadi kita berkeliling. Capek sekali. Bagaimana kalau kita kembali ke penginapan dan mengistirahatkan badan?" saran Darrel.
Tergambar ekspresi kecewa di wajah Disha. Seolah tak rela meninggalkan keindahan malam bak negeri dongeng itu. Lampu-lampu yang menyala menghiasi Grindelwald benar-benar seperti dalam sebuah negeri dongeng. Tak heran jika banyak industri film yang tersihir dan memilih tempat indah ini sebagai lokasi syuting.
Darrel menggedong Disha sampai pada penginapannya. Sesampainya di rumah, pemuda itu mendudukkan tubuh istrinya di tepian ranjang. Melucuti sepatunya tanpa rasa gengsi.
"Hottie, aku kan bisa melakukannya sendiri. Kau seperti budakku saja kalau memanjakan aku seperti ini," kata Disha sembari menguap—ngantuk.
"Aku kan memang budaakmu, Sweetie. Budaak cintamu. Hehehe!" Kecupan mesra Darrel daratkan di pipi mulus Disha. "Kau tidak ingin memberiku hadiah?" Darrel menepuk kecil mulutnya dengan telunjuk, seakan menyuruh Disha untuk menciumnya.
"Sini!" Disha menyuruh pemuda itu merendahkan kepalanya. Lantas, kedua tangannya itu memegang pipi Darrel, sebelum akhirnya memagut bibirnya dengan intens.
Adegan romantis itu harus usai kala terdengar dering ponsel yang membising. Disha menyudahi ciumannya, melirik iPhone lipat yang bergetar di samping. Gadis itu langsung antusias menyabetnya kala melihat nama si pemanggil.
"Aditya! Apa kabar!" Suara pecah Disha langsung terdengar gembira, mengabaikan suaminya yang berada di depannya.
Gadis itu melangkah di dekat jendela, duduk di sofa sembari menyaksikan langit malam.
"Aku marah sekali, Aditya. Kau bilang kau adalah temanku. Tapi kau tidak datang di pernikahanku. Teman macam apa kau ini?"
Darrel hanya terdiam di pojokan ranjang sembari memperhatikan rona wajah istrinya itu. Seolah rasa kantuk serta letih Disha lenyap kala menerima panggilan dari teman masa kecilnya. Cemburu? Tentu saja. Itu yang pemuda itu rasakan saat ini.
Sebenarnya, Disha sudah menceritakan banyak hal tentang Aditya pada Darrel. Segala pujian dan hal-hal manis mereka Disha beberkan secara terang-terangan. Itu membuat Darrel merasa muak dengan sosok Aditya bahkan sebelum mereka saling berjumpa.
"Kau sudah menyelesaikan studimu, kan? Sekarang kau menetap di New York? Kenapa kau tidak tinggal di Indonesia saja bersama pamanmu? Kita kan bisa saling bertemu."
Darrel hanya bisa terdiam seraya memendam segala kedongkolon hati. Sebenarnya ia percaya dengan cinta istrinya, tetapi ia takut jika tempatnya di hati Disha mulai tergantikan oleh sosok orang lain.
"Aku sekarang ada di Swiss. Iya, honeymoon. Shut up, Adi! Kau jangan menggodaku seperti itu. Anak apa? Aku dan Darrel belum merencanakan soal bayi. Kau seperti orang tuaku saja!"
Tangan Darrel mulai mengepal sempurna, sementara bibirnya mengerucut. Ingin sekali ia meroyok ponsel istrinya itu dan bilang pada lelaki di seberang sana untuk berhenti menggangu bulan madunya. Tetapi, hal itu hanya akan memancing keributan antara dirinya dan Disha. Terlebih, Disha itu sangat mendewakan sosok Aditya.
"Kabar mereka baik. Iya, kalau sudah pulang aku sampaikan salammu ayah dan ibu. Darrel? Dia di sini bersamaku. Kau ingin berbicara padanya?"
Darrel langsung langsung menghamburkan tubuhnya di ranjang dan berpura-pura untuk terlelap. Ia sama sekali tak sudi jika berbincang dengan sosok yang membuatnya teramat kesal.
"Ah, sepertinya dia sudah tidur. Mungkin dia kecapekan. Baiklah aku juga mau tidur. Oke. See you!"
Disha mematikan panggilannya. Mendirikan tubuhnya dan beranjak menuju ranjang.
"Sudah selesai ngobrol mesranya?" Darrel menyindir dengan mata yang masih terpejam.
"Kau masih bangun, Hottie?" tanya Disha yang duduk di pinggiran ranjang.
"Tidak. Aku sudah tidur," jawab Darrel dingin.
"Kau cemburu ya kalau aku mengobrol dengan Aditya?"
"Tidak juga."
"Bohong, kau pasti cemburu, kan?" Disha mendekat ke arah Darrel. Membuat pemuda itu membuka matanya. "Kau tidak perlu cemburu, Baby. Tenang saja, Dishamu ini hanya milikmu seorang."
"Benarkah?" Darrel melingkarkan kedua tangannya di punggung Disha. Kini posisi mereka saling bertumpukan.
"Kau cemburu tanpa alasan, Darrel! Aditya itu teman masa kecilku. Kalau memang kami ada hubungan spesial, sudah jelas Aditya yang akan menjadi suamiku saat ini. Karena alurnya, aku lebih dahulu bertemu dengannya daripada kau." Disha meraba pipi Darrel yang mulai tumbuh bulu-bulu kecil di sekitar rahang. "Aditya itu orangnya baik banget. Kalau kau bertemu dengannya, pasti kau akan suka."
"Semoga hari itu tidak pernah ada," balas Darrel dingin. Bertemu dengan orang yang membuatnya kesal hanya dengan mendengar namanya saja? Itu sama sekali tidak ada dalam kamusnya.
"Kenapa begitu? Dia baik dan tampan. Seperti dirimu."
"Oh ya, lalu apa lagi persamaanku dengannya. Ayo bandingkan lagi." Darrel mulai menggerutu.
"Hmmm... dia juga rajin olahraga sepertimu. Otot-otot di lengannya itu bagus-bagus. Perutnya seperti roti sobek. Kalau tersenyum, ya Tuhan... gadis-gadis akan langsung tenggelam dalam imajinasinya." Disha sepertinya sengaja menggoda suaminya dengan membuatnya semakin dimabuk cemburu.
"Kalau memang dia sesempurna itu, kenapa masih jomblo?"
"Entah. Tapi jomblo dia berwibawa. Banyak gadis yang mengincarnya."
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar kau memujinya lagi."
"Lihat wajahmu itu kalau cemburu, Baby. Seperti anakan kucing yang kurang makan. Hahaha."
"Oh iya? Tubuh sekekar ini kau anggap anakan kucing? Bukankah tubuhku ini hot? Lebih hot mana dari teman sialanmu itu?"
"Hmmm… aku rasa hanya kau lebih hot, Sayang. Karena itu aku memanggilmu hottie. Hahaha."
"Ah, sweetie. Kau membuatku gemas padamu!"
Mereka mulai bercanda di satu ranjang dan dalam satu selimut.[]