An Incident

2034 Words
"AYAH! IBU!" Suara ledakan mobil menggema di gendang telinga Disha, bersamaan dengan jeritan histeris orang-orang sekitar. Sesaat kemudian, telingan gadis itu mendadak tuli. Pandangannya samar-samar, hingga akhirnya menutup menjadi gelap. Tubuh Disha terkapar dengan banyak darah yang membanjir, sementara kedua orangtuanya berada di mobil yang sudah hancur dalam keadaan mengenaskan. *** "Dokter Naira, ada korban kecelakaan. Bisa kau tangani sebentar? Dokter Faris mungkin sedang keluar." Seorang suster masuk ke dalam ruangan dan mengabari dengan gugup. "Baiklah!" Wanita berambut gelombang dengan ujung firank itu berdiri dari tempat duduknya, menyabet ponsel dan segera melenggang keluar ruangan. "Halo, Faris! Kau di mana? Ada korban kecelakaan. Kau sudah sampai? Baiklah cepat masuk dan tangani!" Naira menutup teleponnya, yang baru saja mengabari Faris—suaminya—untuk datang cepat. "Ada tiga korban, Dokter. Dua pasangan suami istri dan anak gadisnya." Suster mengabari lagi. Mereka melangkah cepat tak sabar melihat kondisi pasien. Dua brankar didorong oleh para petugas rumah sakit. Dua tubuh yang terbujur di atasnya ditutup dengan kain putih yang basah akan darah. "Tolong langsung basa pasien ke ruang ICU ya!" perintah Naira saat dua brankar itu melewatinya. Wanita itu memejamkan matanya, bergidik ngeri saat melihat kondisi korban. Dia sebenarnya memang tidak pernah menangani korban kecelakaan, karena dia adalah dokter spesialis mata. "Suster, kau panggil dokter lainnya ya sembari menunggu kedatangan Faris," pesan Naira dengan tangan gemetar. Wanita itu kembali menoleh dan tanpa sengaja melihat satu korban lagi. "Disha!" Seketika Naira berteriak, seakan kenal betul dengan perawakan tubuh sang korban. Naira mendekat, meneguk ludah dan tubuhnya kembali mendapat goncangan. "Disha! Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Tubuhnya itu langsung lemas begitu melihat temannya yang terbaring tak sadarkan diri di atas brankar. "Dokter, kau tidak apa-apa, kan?" Suster tadi langsung menangkap tubuh Naira yang hendak terkulai. Ia menepuk-nepuk pipi Naira, hingga akhirnya matanya melihat sosok pria yang baru datang. "Dokter Faris, istri Anda!" Lelaki perawakan tegap itu langsung mendekat. Mengambil alih tubuh istrinya dari sang suster. "Naira, apa yang terjadi?" "Faris… t-temanku… Disha…" Telunjuk Naira mengarah pada para petugas yang membawa tubuh Disha masuk ruang ICU. "Faris cepat tolong dia! Dia temanku! Disha!" Naira menarik kerah kemeja suaminya dengan ekspresi kepanikan. "Iya … iya… kau tenang dulu, ya! Aku akan mengganti pakaian dokter dulu dan mengambil alat-alatku!" Faris mendudukkan Naira di kursi, lantas bergegas menuju ruangannya. Dua dokter lagi tampak berjalan cepat dan mulai menangani koban dua pasangan suami istri. "Dira, minumlah dulu!" Suster memberikan segelas air setelah mengambilnya di sudut ruangan. Naira meneguknya sampai habis. Lantas, pikirannya mulai menk. "Kalau itu Disha, lalu siapa yang dua orang tadi. Apa itu orang tuanya?" Naira berdiri, lantas bergegas mengecek kebenarannya. Dua jam kemudian, Disha tampak membuka kelopak matanya yang lemah. Alat-alat rumah sakit masih melekat di tubuhnya. "Aku di mana?" "Disha, kau sudah sadar?" Naira yang awalnya duduk menunggu, langsung berdiri. Mendekati ranjang bersama suaminya. "Disha, apa yang kau rasakan? Apa masih sakit?" Naira kembali menatap suaminya. "Faris, kau sudah memberikan obat pereda nyeri, kan?" "Sudah, Sayang." Faris mengangguk. "Aku di mana?" Disha kembali bertanya dengan suara lemas. Sementara pandangannya kosong menatap ke atas. "Disha, kau tadi habis terkena musibah. Kau tadi kecelakaan. Oh iya, aku Naira. Temanmu waktu kuliah dulu." Naira menjelaskan dengan suara pelan. "Naira? Kecelakaan?" Gadis itu menutup kembali matanya. Mencoba mengingat sesuatu. Beberapa detik kemudian, matanya kembali membuka, bersamaan dengan tubuhnya yang ia bangunkan. "Ayah, ibu? Bagaimana keadaannya?" Naira langsung memendam tangis. Sementara Faris menyentuh bahunya mencoba menguatkan. Disha meraba tubuh Naira dengan pandangan yang kosong. "Naira, kau menangis? Aku tanya di mana orang tuaku? Aku ingat kami menaiki mobil bersama." "Disha… kuatkan dirimu." Naira masih tak mampu menjawab pertanyaan temannya itu, sementara tangisnya terus menggigil. "Aku akan melihat kondisinya sekarang." Disha menarik selang infus dari tangannya, mencoba menurunkan tubuhnya, tetapi Naira menahannya. "Naira, tolong biarkan aku bertemu kedua orang Aku harus melihat kondisinya." Mata sembab Naira itu menoleh ke arah Faris penuh arti. Kedipan pelan Faris lontarakan, seakan mengisyaratkan sesuatu. Kini mata Naira kembali menatap Disha. Ia memeluknya. "Disha, aku akan mengatakan sesuatu tapi tolong kuatkan dirimu." "Ada apa, Naira? Aku ingin bertemu orang tuaku tolong jangan menahanku!" Bulir bening mulai merembes dari sudut pupil Disha, terasa hangat saat melintasi pipi. "Disha… sebenarnya … kedua orang tuamu tidak bisa diselamatkan. Mereka meninggal di saat kecelakaan itu terjadi." Tubuh Disha yang sudah lemah semakin melemas. Hingga akhirnya merosot dan terbaring di ranjang kembali. Sementara kedua matanya mulai terpejam. "Disha! Disha!" Naira menggoyangkan tubuh temannya itu namun tak ada reaksi apapun. "Faris, cepat lakukan sesuatu!" Faris segera kembali menanganinya. Empat puluh menit kemudian, seorang pria dan wanita datang ke rumah sakit dengan panik. Keduanya bertanya pada pekerja resepsionis dan segera bergegas setelah mendapat sekilas info. Faris yang baru keluar dari ruangan tempat Disha dirawat, langsung memapak dua orang yang hendak berjalan ke arahnya. "Dokter, di ruangan mana Disha dirawat?" Seorang pria paruh baya berdarah Inggris itu bertanya pada Faris. "Anda siapanya?" tanya Faris. "Aku mertuanya. Jonathan, dan ini istriku, Elisa!" jawab lelaki itu sembari memegang pundak istrinya dari samping. "Oh, kalian mertuanya Disha. Aku dokter Faris. Istriku adalah temannya Disha." Pria berseragam dokter itu mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh dua pasangan suami istri di depannya. "Disha sekarang sedang tidak sadarkan diri." "Lalu bagaimana dengan orang tuanya?" tanya Jonathan lagi. Dokter Faris terdiam untuk beberapa jenak. "Abraham dan Lucia baik-baik saja, kan, Dokter?" Kini Elisa yang bertanya, dengan nada penekanan serta wajah kecemasan. "Tuan Jonathan, Nyonya Elisa, tabahkan hati kalian, ya!" Faris menyentuh pundak Jonathan. Menarik napas dalam, sebelum akhirnya mengabari, "Orang tua Disha tidak bisa diselamatkan. Mereka sudah kehilangan nyawa bahkan sebelum sampai di rumah sakit." Satu langkah mundur Jonathan ambil sehingga membuat tangan Faris terayun dari pundaknya. Lelaki itu membungkam mulut, seakan tak kuasa menerima kabar yang baru saja didengar. "John!" Elisa menghampirinya dengan wajah melas. "Elisa, Abraham…." Suara Jonathan tercekal, matanya menatap sayu istrinya lantas kembali menunduk. "Temanku sudah tiada," ujarnya dengan nada berat serta jemari yang meremas pelipis. "Abraham sudah meninggal?" "John!" Elisa memeluk suaminya yang rapuh itu. "Bagaimana semua ini bisa terjadi." Wanita berambut merah itu sangat menyayangkan keadaan yang menimpa besannya. "Dokter, lalu bagaimana dengan Disha? Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya, kan?" Abraham kembali bertanya. Faris hendak menjawab tetapi teriakan Naira dari ambang pintu mendahuluinya. "Faris! Disha sudah sadar!" "Tuan, Nyonya, aku lihat kondisi menantu kalian dulu, ya!" Faris bergegas menghampiri istrinya. "Tolong kau tenangkan mereka. Mereka adalah mertua Disha." Setelah memberi pesan pada Naira, pria berseragam dokter itu masuk ke dalam ruangan. Beberapa saat kemudian, Faris datang kembali pada mereka. "Disha sudah siuman, kalian bisa menemuinya." Ke empat orang itu pun bersama-sama melenggang menuju ruangan. "Disha, lihat siapa yang datang menemuimu." Naira berkata setelah sampai di dekatnya. "S-siapa memangnya?" Mereka semua kaget lantaran Disha tak bisa mengenali mertuanya, padahal saat itu pandangannya menoleh ke arah mereka. "Dokter, apa Disha hilang ingatan atau terjadi sesuatu hal lain?" Elisa bertanya pada Faris. "Ibu mertua? Kau kah itu?" Mendengar suara Elisa, Disha langsung bisa mengenali sosok wanita itu. "Disha…." Kini mereka sedikit lega dan mulai berjalan mendekat. "Naira, kenapa ruangan ini gelap sekali?" Perkataan yang terlontar dari bibir Disha kembali membuat mereka sedikit tersentak. "Apa tidak ada lampu di sini? Sejak tadi aku tersadar, semuanya gelap. Aku tidak bisa melihatmu maupun semua hal yang ada di sekitarku." Pandangan Jonathan dan Elisa langsung menumbuk pada wajah Naira, seakan mempertanyakan apa yang terjadi. "Naira, kau coba periksa penglihatan Disha. Karena seharusnya dia sudah bisa melihat keadaan sekitar walau itu samar," pinta Faris pada istrinya. Naira mengambil sorot kecil, melangkah ke arah Disha dan mulai memeriksa matanya. "Kau melihat cahaya terang, Disha?" "Gelap." Satu kata yang terlepas dari bibir Disha membuat Naira berkaca-kaca. "Baiklah sekarang ikuti gerakan tanganku." Naira meminta dengan suara bersemu tangis. "Kau melihat gerakannya?" tanya Naira lagi setelah menggerakkan tangannya ke kanan kiri tepat di hadapan Disha. "Aku tidak melihat apapun selain kegelapan, Naira." Disha menjawab sembari menggeleng. Sementara tatapan matanya tampak kosong. Naira tak kuasa menahan tangisnya. Ia beralih ke arah Faris. Menghambur di pelukannya. "Dokter, ada apa?" Elisa yang penasaran kembali bertanya. Naira menyeka air matanya. "Ikutlah denganku, aku akan memberitahu kalian." Naira hendak melangkah keluar, tetapi suara Disha menghentikan langkah wanita itu. "Naira, ada apa denganku. Kenapa aku tidak bisa melihat apapun? Katakan cepat, jangan menyembunyikan apapun dariku!" Suara Disha terdengar ketus, namun bernada lemas. Naira kembali mendekat. Dengan wajah iba ia berucap, "Disha, kau mengalami kebutaan." "Apa?!" Suara Jonathan, Elisa, dan Faris terdengar menyatu dan bernada sama—terkejut. Sementara Disha hanya terdiam membisu. "Kondisi kebutaan yang kau alami mungkin disebabkan benturan yang cukup keras. Tapi, Disha. Kau jangan bersedih." Naira menyentuh kedua tangan Disha dan menggenggamnya. "Kau masih bisa disembuhkan. Aku yang akan merawatmu." "Ya Tuhan… cobaan apa lagi ini?" Elisa terdengar mengeluh. "Aku akan segera menghubungi Darrel untuk terbang pulang sekarang juga!" Wanita paruh baya itu mengambil ponselnya dari tas dan memijat layarnya. "Ibu mertua, tolong jangan katakan apapun pada Darrel." Suara Disha menghentikan aksi Elisa yang sudah hendak memencet tombol panggil. "Suamiku itu sedang menjalankan tugas terakhir dari ayah mertuanya. Pekerjaan yang Darrel lakukan saat ini adalah impian ayahku. Aku tidak ingin dia pulang tanpa membawa kabar gembira." "Tapi, Nak!" Elisa hendak menentang, tetapi langsung terdiam saat Jonathan memberinya isyarat untuk menerima permintaan Disha. "Baiklah, kalau begitu." Elisa menjawab pasrah dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. *** Sore itu beberapa orang memenuhi tempat pemakaman. Mereka mengantarkan Abraham dan Lucia ke peristirahatan terakhir. Seusai dikubur dan didoakan, mereka pun mulai meninggalkan pemakaman menyisakan beberapa orang yang memilih tinggal sejenak. "Disha, aku pergi dulu, ya! Besok dan seterusnya aku akan datang ke rumahmu untuk mengecek kondisimu." Naira menyentuh punggung Disha yang saat itu tersimpuh di antara makam kedua orangtuanya. Setelah mendapatkan respon anggukan, wanita berbaju hitam itu meninggalkan pemakaman dengan suaminya. Disha menabur bunga-bunga segar pada kedua makam dengan bantuan pembantu setianya—Emine. Sementara Jonathan dan Elisa tampak berdiri di dekatnya dengan pandangan menunduk. Tak ada kebarat lagi selain mereka, karena Abraham dan Lucia itu anak semata wayang keluarganya yang sekarang juga sudah tidak ada lagi di dunia. Seorang pria berseragam sopir datang menghampiri mereka dengan ponsel di tangannya. "Nona Disha, ponselmu berdering. Aku lihat Tuan Darrel yang menghubungi." "Bibi Emine, tolong angkat dan keraskan suaranya!" pinta Disha. Pembantu wanita itu langsung mengambil ponsel tersebut dan meletakkan pada genggaman Disha setelah menyambungkan panggilan. "Halo, Sweetie!" Suara Darrel memecah kesunyian kala itu. "H-halo, Darrel?" Dengan masih lemah, Disha menjawab sapaan suaminya. "Sweetie, kenapa kau lama sekali mengangkat teleponnya? Sudah berkali-kali aku menghubungimu. Oh iya, aku sudah sampai London. Bagaimana kabarmu sekarang?" "Aku baik." "Syukurlah. Tiada henti aku memikirkanmu. Rasanya hatiku sakit, tapi sekarang mejadi lega saat mendengar suaramu. Oh iya, bagaimana kabar ayah dan ibu mertua? Kau tahu, tadi aku tidur di pesawat memimpikan mereka. Mereka melambaikan tangan padaku dengan tersenyum." Bulir bening kembali membasahi wajah Disha. "Mereka sekarang sudah bahagia. Kabar mereka jauh lebih baik," jawabnya dengan menahan luka batin yang teramat pedih. "Baguslah. Aku mencemaskan kalian tadi. Oh iya, kau sudah memakan cokelat yang kemarin, kan? Bagaimana rasanya?" Disha mengejap, menuntaskan air matanya. "Cokelatnya enak, tapi rasanya hambar karena kau tidak ada bersamaku." "Benarkah? Kalau begitu kau bisa makan dengan melihat fotoku. Ada banyak fotoku di kamar, kan? Kau juga bisa melihat di ponselmu. Kalau mau yang terbaru nanti aku kirim lagi." Cucuran air mata kembali menderas bahkan memancing tiga orang yang berada di dekatnya ikut menangis. "Kau masih menyimpan fotoku yang telanjang d**a yang katamu hot itu, kan? Kau bisa memandanginya sembari memakan cokelat. Nanti liurmu pasti semakin menetes. Hahaha." Disha mendongak, mencoba menahan derai hujan matanya. Sementara Emine merengkuh pundak rapuh itu untuk menenangkan. Sedangkan Elisa membenamkan wajahnya di dadaa Jonathan, tak kuasa membayangkan jika putranya itu tahu kalau sebenarnya istrinya sekarang ini kehilangan penglihatannya. "Sweetie, aku merindukanmu. Saat aku melihat foto sapi aku selalu mengingatmu. Pokoknya setelah kerjaanku selesai, aku akan langsung pulang dan kita melanjutkan bulan madu lagi. Oke?" "Disha? Kau masih di sana, kan?" tanya Darrel memastikan saat tak lagi mendengar suara istrinya. Disha menyeka air matanya, mencoba bersikap tegar. Ia menelan ludah dan berkata, "Iya, Darrel. Kau istirahatlah, kau pasti capek, kan? Nanti kita bicara lagi." "Baiklah. I love you, Sweetie. See you!" "I love you too!" Disha melepaskan ponselnya begitu saja dan langsung menghambur di pelukan Emine.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD