Happy to be Hurt

1628 Words
"Disha, bangun Sayang, sudah siang. Saatnya kau melihat dunia." "Ibu… aku masih mengantuk." "Anakku, putri rajaku. Cepatlah bangun dan sambut hidupmu yang baru. Meskipun menyulitkanmu, jangan pernah berpikir untuk pupus dalam menjalani kehidupan." "Ayah?" "Ayo, Sayang. Bangunlah!" "Disha…." "Dishaaa….." "Ibu! Ayah!" Disha membangunkan tubuhnya, membuka mata lebar-lebar tetapi tetap saja semuanya tampak gulita. Biasanya ia akan melihat sinar dari jendela kamarnya, tetapi saat ini sepertinya silau itu tak mau meneranginya, padahal sengatan mentari yang menerpa kulitnya cukup kuat. "Ibu! Ayah! Kalian di mana? Kenapa semuanya menjadi gelap?" Gadis itu mencoba beringsut, tetapi kakinya tersangkut oleh selimut sehingga membuat tubuhnya merosot jatuh. "Nona Disha!" Emine yang mendengar teriakan Disha langsung masuk ke kamar. Wanita itu tersentak mendapati Disha yang sudah tersimpuh di lantai dengan tangisan. Ia lantas menghampirinya dan membantu untuk kembali berdiri. "Bibi Emine, di mana Ibu? Dan Ayah? Tadi mereka membangunkanku dari tidurku." Mendengar pertanyaan itu, wanita berambut digelung itu berkaca-kaca. "Kuatkan dirimu, Nona Disha." Seketika Disha teringat, kalau kini kedua orang tuanya sudah tiada sejak tiga hari lalu. Gadis itu kembali terpuruk. Mengambil semua benda yang didapat di hadapannya dan memberantakannya. "Ayah… ibu…." Tangisnya semakin pecah di pelukan Emine. "Sabar, Nona. Tabahkan hatimu. Tuan Abraham dan Nyonya Lucia akan sedih di atas sana jika melihatmu seperti ini." Emine mengelus punggung Disha lembut dengan mata yang mulai membanjir tangis. "Kenapa hidup begitu kejam padaku, Bibi. Apa salahku? Kenapa Tuhan begitu cepat menjemput orang tuaku?" Asisten rumah tangga itu hanya tunduk membisu. Setelah menuntaskan tangisnya, Disha mulai menyeka air matanya. Mencoba berdiri tetapi sempoyongan. Sudah tiga hari lamanya saat dia kehilangan kedua orang tuanya, juga penglihatannya. Dan tiga hari itu hatinya tersiksa setiap saat, apalagi tanpa adanya sosok suami di dekatnya. "Bibi Emine, aku akan mandi dulu. Kau bisa menyiapkan bajuku dan mengantarku ke kamar mandi, kan?" "Tentu, Nona Disha. Aku akan siap membantu apa pun." Emine memeluk Disha erat. Sudah bertahun-tahun lamanya wanita itu bekerja di rumah Abraham. Bahkan sejak sebelum menikah, dan sampai sekarang yang sudah menjadi janda pun masih menjadi pembantu kesetiaan rumah Abraham. "Nona Disha duduk di sini dulu, biar Bibi siapkan air dan keperluan mandi. " Emine mendudukkan tubuh Disha di sisi ranjang. "Jangan ke mana-mana. Bibi takut kau kenapa-kenapa. Karena kau masih belum terbiasa dengan keadaanmu yang sekarang ini." Seusai berpesan, wanita paruh baya itu melenggang memasuki kamar mandi yang berada di satu ruangan dengan kamar tidur. Setalah semua keperluan disiapkan, Emine membujurkan tubuh Disha di sebuah bathtub yang berisi air hangat. Emine mulai membersihkan tubuh indah itu dengan penuh kasih sayang. Sebagai janda yang tak memiliki anak, Emine sudah menganggap Disha sebagai putrinya sendiri. "Nona Disha, kau ingat, dulu saat kali pertama aku datang ke rumah ini melamar sebagai asisten rumah tangga, kau masih sangat kecil. Seingatku kau masih kelas tiga SD. Dulu aku yang menyisir rambutmu saat kau bertengkar dengan temanmu Aditya. Kalian saling tarik rambut dan aku yang harus merapikan rambutmu, hehe." Disha tersenyum kecil, dan itu membuat Emine merasa senang. "Aku masih ingat, Bibi Emine. Aku dan Aditya dulu memang nakal ya, suka merepotkanmu," ucap Disha sembari mengingat masa-masa kecilnya yang bahagia. "Ah, tidak juga. Memang di usia kalian seperti itu lagi gencar-gencarnya berulah. Itu wajar." Emine memberi jeda sejenak. Membasuh tenggorokannya yang kering dengan ludah. "Oh iya, bagaimana kabar temanmu itu? Sudah lama sejak dia mau berangkat kuliah di luar negeri sampai sekarang aku tidak bertemu dengannya lagi," sambung Emine lagi menanyakan perihal Aditya. "Aditya sekarang sudah sukses. Dia tinggal di New York. Oh iya, kemarin dia meneleponku dan menitipkan salam padamu." Mendengar hal itu, senyum yang sedari tadi terukir di garis bibir Emine semakin merekah saja. "Benarkah? Aku senang kalau dia masih ingat denganku. Hehehe. Aku pikir orang yang sudah sukses akan melupakan orang-orang yang ada di masa lalunya." "Aditya itu bukan orang seperti itu, Bibi Emine. Dia masih sopan dan santun dengan orang. Dia juga masih sering menggodaku walau lewat telepon. Bahkan Darrel sampai kesal dengannya karena cemburu. Hahaha." Tawa Disha seakan pecah kala mengingat momen-momen yang membuatnya tergelak. "Bibi senang kau kembali tersenyum seperti ini. Semoga kau selalu tersenyum ya!" Emine mengelus rambut Disha lembut dan melulurinya dengan shampo. "Kehidupan memang sangat sulit terhadapku. Tetapi, aku akan mencoba tegar dan menerima semua ini." Disha memalingkan wajahnya, bermaksud menatap Emine tetapi pandangnya itu tidak sesuai. "Bibi tahu, tadi aku bermimpi ayah dan ibu membangunkanku. Mereka berpesan padaku untuk menjalani kehidupanku walau terasa sulit. Aku ini anak yang berbakti, kan? Jadi, aku akan menuruti perintah mereka." Kalimat terakhir yang Disha ucapkan itu bersemu tangis, sehingga memancing wanita di dekatnya untuk meneteskan butiran kecil lagi dan lagi. Emine benar-benar merasa iba. Ia sangat amat menyayangkan kondisi gadis itu sekarang ini. Walau dia dibesarkan dengan harta melimpah, kasih sayang yang luas, tetapi seakan semua itu kini telah direnggutnya dengan paksa. "Semoga kau selalu bahagia, Nona Disha." Emine mendekatkan kepala gadis itu pada dadaanya bermaksud memberinya ketenangan. *** Seusai membersihkan diri, kini Disha tampak rapi dan cantik. Wajah murungnya itu tak mampu menghilangkan kadar kecantikannya, lantaran wanita itu sangat memesona dari sudut manapun dan ekspresi apa pun. Pagi setengah siang, Naira datang guna mengecek kondisi sahabatnya dan memberinya kiat-kiat serta perawatan agar cepat sembuh. Setelah berjam-jam mereka menjalani treatment, Naira berpamitan. Namun beberapa saat kemudian, datang tamu lagi. Seorang pria dengan kemeja hitam dan berkacamata tampak berjalan masuk setelah salah satu penjaga rumah mempersilakannya. "Disha!" Pria paruh baya itu mendekat pada gadis yang tengah duduk di sofa bersama pembantunya. "Siapa?" tanya Disha dengan pandangan kosong. "Disha, kau tidak ingat denganku? Coba lihat aku? Aku ini Bram. Pamannya Aditya. Kau masih ingat, kan?" Pria bertubuh semampai itu mencoba memancing ingatan gadis itu. "Oh, Uncle Bram? Silakan duduk, Uncle!" Disha mempersilakan tetapi dengan pandangan ke lain arah, dan tentu itu menciptakan kerutan berlapis di dahi Bram. Seakan bertanya-tanya ada apa gerangan? Bram duduk di sofa dengan terus memperhatikan Disha yang tampak aneh. Ia hendak bertanya tetapi wanita di samping Disha lebih dahulu membuka suara. "Tuan Bram, maaf. Sebenarnya… kecelakaan kemarin juga membuat kondisi Nona Disha menjadi seperti sekarang ini." Emine merasa sendu saat menjelaskan hal itu. "Memangnya apa yang terjadi dengan Disha?" tanya Bram penasaran. "Nona Disha… dia…." "Aku mengalami kebutaan, Uncle!" jawab Disha menyela perkataan pembantunya yang tercekal. "Apa?!" Terdengar napas berat dari rongga hidung Bram. Seakan masih belum bisa mempercayai kabar yang baru saja diterima. "Ya Tuhan, kenapa semuanya menjadi sulit sekali untukmu, Nak?" Bram meremas pelipisnya. Wajahnya mulai sendu kala memperhatikan sebuah bingkai besar yang di pajang di dinding ruang tamu. Bingkai itu tergambar potret Abraham dan Lucia yang saling merengkuh dan mengulas senyum. "Maaf ya, kemarin aku tidak datang ke upacara peristirahatan terakhir ayah dan ibumu. Karena waktu itu aku sedang di luar kota. Aku pun baru mendapatkan kabar duka ini semalam." Bram kembali memperhatikan Disha. Masih tak bisa menyangka dengan kondisi yang dialami gadis malang itu saat ini. "Bagaimana kata dokter? Apa ada kemajuan tentang kesehatanmu?" "Dokter bilang kebutaanku ini masih bisa disembuhkan, Uncle." "Syukurlah." Lelaki itu sedikit lega. "Oh ya, Darrel di mana? Aku tidak melihatnya." Pandangannya Bram menyapu ke lantai atas, mempertanyakan kehadiran suami Disha. "Darrel sekarang ada di London, Uncle. Dia sedang menjalankan tugas terakhir ayah." "Di London? Kenapa dia tidak pulang? Jadi dia belum tahu kalau keadaan di rumah sedang kacau?" Disha menunduk. "Aku sengaja tidak memberitahunya. Biarkan dia pulang terlebih dahulu dan melihat sendiri keadaan di sini. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya. Lagipula, pekerjaannya itu sangat penting terkait impian ayah." "Duh!" Bram kembali meremas pelipis. Sangat menyayangkan kalau dalam kondisi seperti ini, Disha berada jauh dari suaminya. Beberapa saat kemudian, Jonathan dan Elisa datang mengganggu perbincangan mereka. "Oh, sedang ada tamu, ya?" Elisa berseru setelah melihat Bram yang duduk di sofa. "Ibu mertua?" Disha langsung tahu suara wanita itu. Jonathan dan Elisa mendekat, ikut nimbrung dengan mereka. "Kalian mertuanya Disha, ya?" Bram bertanya sembari mendirikan tubuhnya. "Aku temannya Abraham, bisa dibilang juga kerabat jauhnya. Bram!" Lelaki itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh Jonathan dan Elisa. "Jonathan." "Elisa." "Ayo duduk lagi!" seru Jonathan pada Bram setelah saling berkenalan. "Iya terima kasih. Tapi sepertinya aku harus pergi dulu." Bram mendekat ke arah Disha. Menyentuh pundaknya dan berkata, "Nak, kuatkan dirimu ya. Semoga kau selalu bahagia walau tanpa orang yang kau sayangi. Aku pergi dulu, kapan-kapan aku pasti akan sering mampir ke sini. Semoga penglihatanmu itu cepat sembuh. Sekali lagi turut berdukacita." "Iya, Uncle Bram. Terima kasih sudah berkunjung," Disha menjawab sopan. Bram mengangguk. Wajahnya itu memerah tak bisa menahan rasa ibanya. Kemudian ia memutar tubuh setelah tersenyum pada Jonathan dan Elisa, lantas melenggang menuju pintu keluar. Elisa kembali berdiri, kini mengambil posisi duduk di dekat Disha. "Disha, apakah kau tahu kapan Darrel akan pulang?" tanyanya mencemaskan putranya itu. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kala Darrel mengetahui keadaan di rumah. "Mungkin besok atau entah, Bu. Dia sering menelponku tetapi aku tak punya kekuatan untuk menjawabnya. Aku pasti akan menangis." Suasana sendu kembali menyelimuti wajah Disha. Elisa langsung merapat dan mengelus punggungnya, memberikan perhatian. Sesaat kemudian, seorang penjaga masuk ke dalam dengan tergesa-gesa, seakan membawa kabar yang tak sabar untuk dibeberkan. "Nona Disha, Tuan Darrel sudah pulang. Dia berjalan masuk ke rumah." Kabar yang keluar dari bibir si penjaga itu langsung membuat keadaan menegang seketika. Bukannya senang akan kedatangan orang yang ditunggu-tunggu, tetapi mereka malah takut. Takut reaksi apa yang akan Darrel tunjukkan kala mengetahui kedua mertuanya sudah berada di alam lain dan juga tentang istrinya yang kehilangan penglihatannya. Disha mendirikan tubuhnya dengan sedikit sempoyongan. "Bibi Emine, tolong antarkan aku ke depan pintu. Aku ingin menyambut suamiku," pinta Disha dengan suara gemetar. "Baik, Nona Disha." Emine memegang tangan Disha dan juga merengkuh bahunya. Kemudian membimbingnya menuju ke pintu utama. Elisa yang sudah berdiri, menghampiri suaminya yang baru mulai menjauhkan pantatnya dari sofa. "John, bagaimana ini?" "Entahlah." []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD