New York City, US
11.00 AM
"Kau mengenalku?"
Seorang laki-laki yang berbaring di atas ranjang rumah sakit mendengus. Jika saja tubuhnya tidak lemas, sudah pasti ia akan menarik kesal rambut pirang itu sampai botak.
Bagaimana tidak kesal. Sudah terhitung hampir sepuluh kali ia mendengar pertanyaan yang sama semenjak ia membuka mata dari tidur panjangnya. Wajah menyebalkan itu juga seakan menganggapnya seperti orang penderita sakit berat yang kehilangan fungsi otak.
Padah dirinya sudah membaik. Jauh lebih baik dari sebelumnya setelah ia beberapa kali diperiksa oleh Dokter.
"Aku hanya patah tulang dan geger otak ringan. Tidak amnesia, bodoh!"
"Ah, ya. Aku percaya kau tidak amnesia sekarang. Sifat kasar mu kembali lagi. Padahal—" perempuan berambut pirang itu berdecak dramatis. "Padahal tubuh mu tak berdaya." Nada jahil dan usil perempuan ini membuat siapapun yang mendengar ingin memukulnya.
Laki-laki dengan perban terikat dikepala itu menggeram. "s****n! Awas saja jika aku sehat nanti, aku akan menjambak rambut pirang mu itu hingga botak!" ucapnya tajam. Kenapa pada saat kunjungan pertama harus dia yang datang. Membuat emosi naik saja.
"Oh, ya? Aku akan menantikannya. Sepertinya akan seru saat—"
"Angel!"
Perempuan yang disebut Angel itu menghentikan aksi jahilnya. Ia menatap laki-laki paruh baya yang kini memasuki ruangan khusus itu dan menampilkan cengiran khasnya.
"Jangan ganggu dia."
Angel tertawa. "Aku rindu menjahilinya, Dad."
"Setidaknya tunggu dia sehat dan pulih. Lalu kalian bisa kembali perang."
Angel kembali tertawa, ia lalu mengacungkan kedua ibu jarinya. "Aye-Aye, sir!" Ia menjulurkan lidah kepada laki-laki yang menjadi target keusilannya tadi. Merasa menang karena ada yang membelanya.
"Dylan!"
Dylan Adamo terkekeh pelan saat mendengar geraman rendah yang sudah lama tak ia dengar itu. Langkahnya ia ayunkan untuk mendekati ranjang berukuran besar tersebut dan menyunggingkan senyumannya.
"How are you?"
"Are you kidding me?! Apa aku terlihat baik-baik saja?!"
Dylan dan Angel sama-sama tertawa. Ah, sudah lama sekali mereka tidak melihat wajah kesal laki-laki yang menjadi target keusilan mereka ini.
Perasaan lega bercampur dengan senang dan bahagia. Akhirnya semua beban yang selama ini selalu menggantung di pundak perlahan menghilang. Bersamaan dengan proses pemulihan orang berharga dihadapannya ini.
"Tenang saja, patah tulang mu sudah lama sembuh. Kini tersisa luka kecil dan bekasnya saja. Kau bahkan dapat dikatakan sembuh dengan sangat cepat."
"Ya, Dad. Dia seperti kucing yang mempunyai sembilan nyawa."
"Ini adalah keajaiban yang tidak datang setiap saat. Kita semua patut mensyukurinya. Karena sungguh pahit rasanya melihat orang-orang terdekat kita pergi begitu saja," ucap Dylan.
Angel tersenyum. "Kau benar."
"Kapan aku bisa keluar dari tempat ini?" tanya suara serak itu tiba-tiba.
"Dua minggu lagi?"
Laki-laki berperban itu menggeleng. Ia berusaha mendudukan tubuhnya namun tetap dibantu Dylan. Kondisi nya cukup membaik pasca bangun dari koma.
"Aku ingin pulang nanti malam."
"Jangan becanda! Kau baru sadar dari koma tadi pagi." suara Dylan begitu tegas menolak. Ia tidak mungkin membiarkan orang baru bangun koma untuk langsung berpergian kesana-kemari.
"Aku sudah sehat! Aku hanya perlu terapi untuk menggerakkan otot-otot badanku yang kaku."
"Dasar keras kepala," ujar Angel.
"Oh, ayolah. Aku janji akan rajin terapi."
"Kau pikir tubuhmu itu robot?"
"Diamlah, Angel. Aku tidak bertanya padamu."
Angel melotot. "Dasar bocah ini!"
Dylan menghela nafas menghadapi orang keras kepala ini. "Satu minggu. Waktumu satu minggu untuk memulihkan diri. Setelah itu kau boleh pulang."
"Pulang? Benarkah? Aku benar-benar boleh pulang?"
Dylan mengangguk. "Aku dan Angel yang akan mengantarmu pulang langsung. Akan sangat kejam jika aku membiarkanmu pergi sendiri."
"Baiklah. Ku rasa waktu satu minggu cukup," ucap laki-laki ini sambil tersenyum senang.
Angel terkekeh. "Apa serindu itu kau hingga wajah datar yang biasa menghiasimu itu kini hilang? Lihatlah ekspresimu, seperti anak kecil saja."
"Tentu saja aku rindu! Sudahlah aku ingin istirahat lagi, aku sudah terlalu banyak berbicara hari ini. Energiku terkuras hebat."
"Hei! Kau bahkan baru sadar setelah satu tahun lebih koma, dasar i***t!"
Dylan menarik kerah baju Angel dan membawanya menuju pintu keluar. "Biarkan dia istirahat, bukankah pekerjaan mu masih banyak?"
Angel cemberut. "Baiklah."
Sebelum pintu ruangan itu ditutup, sekali lagi Dylan menatap anak laki-laki yang kini terbaring diatas ranjang. Tatapannya begitu tulus dan hangat. "Aku senang kau selamat, Garka," ucapnya lalu tersenyum lega.
Garka, laki-laki dengan kepala diperban yang sedang berbaring menghadap TV itu balas tersenyum. "Aku beruntung," ucapnya.
Pintu tertutup. Sosok Dylan dan Angel telah hilang dibalik pintu. Kini Garka kembali sendirian diruangan besar itu. Sebenarnya ia berbohong pada Dylan, ia tidak mau istirahat lagi. Tapi ia hanya butuh waktu untuk menyendiri. Memikirkan semua kejadian sebelum ia berakhir terbaring di ranjang ini.
Setelah kecelakaan tempo lalu, kini satu orang kesayangannya telah pergi. Ergon tewas dalam kecelakaan itu. Saat pesawat menghantam perairan, laki-laki yang berstatus pengawalnya tersebut melindungi Garka dengan memeluknya agar tidak terkena ledakan dasyat itu. Tubuh besar dan kekarnya menyelimuti tubuh Garka, menghidari organ vital terbentur benda-benda berbahaya selama mereka terombang-ambing.
Ergon merelakan tubuhnya untuk menjadi tameng Garka, menindih tubuh Tuan Mudanya agar saat terjatuh, damage yang terkena pada tubuh Garka tidak begitu dahsyat. Ergon juga memanfaatkan beberapa benda yang terlihat didepan mata untuk bisa mengurangi segala kemunkinan buruk saat pesawat tersebut jatuh.
Buktinya, walaupun luka-luka Garka sangat parah setidaknya ia selamat.
Sebelumnya Ergon sudah memberitahu tim khusus milik Reno yang berada di New York untuk segera menunggu di koordinat yang sudah ia tetapkan. Garka selamat berkat tim itu yang segera bertindak cepat.
Sebelum tim pencarian dari pemerintah datang, tim khusus milik Reno ini sudah siaga. Bukan hanya Garka yang selamat, ada juga seorang anak kecil dan seorang pria yang selamat dari kecelakaan itu. Ergon meninggal ditempat dalam keadaan mengapung di sebelah Garka. tubuhnya sebagian besar mengalami patah tulang dan luka-luka berat.
Garka yang saat itu sangat syok melihat banyak korban berceceran di atas perairan hanya bisa pasrah dan sedih. Garka masih bisa selamat berkat pengawal nya itu. Dia meraih puing-puing pesawat dan survive diatas puing tersebut sebelum tenaganya terkuras untuk menjaga kesadaran.
Mereka bertiga akhirnya langsung dibawa oleh tim khusus ini untuk segera dilarikan ke rumah sakit swasta karena kondisinya benar-benar parah. Dengan helikopter, mereka membawa tubuh korban selamat menuju rumah sakit terdekat.
Keselamatan ketiga Penumpang ini disembunyikan kabar nya dari awak media, terutama kabar Garka. Mereka tidak ingin proses penyembuhan Garka terganggu. Apalagi kondisi nya yang sempat kritis dan hampir kehilangan nyawa.
Tapi tetap saja, kabar selamatnya tiga korban ini sudah diketahui oleh pihak bandara. Dylan rela merogoh kocek untuk membuat media bungkam. Setidaknya, biarkan para korban pulih dengan tenang.
Garka memejamkan matanya. Setetes bening keluar dari ujung matanya. "Lagi-lagi aku kehilangan orang yang kusayang," ucapnya pelan.
Ia ingat, terakhir kali sebelum Ergon memeluknya. Pria dewasa itu bilang jika ia sudah menganggap Garka seperti adiknya sendiri, Ergon tidak pedulikan nyawanya. Yang terpenting Garka hidup dan selamat, itulah tujuannya menjadi pengawal Garka selama ini.
Garka menghembuskan nafasnya lalu mengusap air matanya. Ia tidak boleh putus asa. Seperti kata Ergon, ia harus melanjutkan hidup. Ia tidak mau kembali terpuruk untuk kedua kalinya. Ia akan kuat, karena sudah ada dua orang yang mengorbankan nyawanya untuk dirinya agar tetap hidup.
Setidaknya, biarkan Garka membuat mereka senang di alam sana. Seperti Gevan dan Mama yang kini telah bersama dan bahagia.
Ergon telah dimakamkan bersama korban-korban lain yang tidak teridentifikasi. Karena jasad mereka sudah hampir hancur melebur bersama buih laut.
Garka menggerakkan kakinya. Memang kakinya itu tidak digips ataupun diperban, hanya saja masih lemas. Sudah satu tahun anggota geraknya tidak berfungsi. Apalagi bekas luka dikepala dan di beberapa bagian tubuh lainnya masih ada.
Hanya saja dibagian tangan dan kaki kanan nya sudah dipasang semacam alat untuk menopang tulangnya yang patah. Mungkin masih butuh waktu lama untuk mencopot alat itu. Setelah Garka benar-benar dinyatakan pulih total.
"Keyra kabarnya gimana, ya," gumam Garka menggunakan bahasa Indonesia. Ia teringat akan gadis miliknya itu.
Menurut dokter dan Dylan tadi, Garka koma sudah satu tahun. Itu waktu yang sangat lama untuknya berpisah dengan sahabat-sahabat nya juga Keyra-nya.
Apa mereka mengkhawatirkan dirinya? Bertanya-tanya bagaimana keadaannya? Satu tahun tentu bukan waktu sebentar. Ia juga langsung teringat akan tanggung jawabnya sebagai Ketua Zeus.
Meninggalkan Zeus selama satu tahun bersama dengan musuh yang belum jinak.
"Gue harus perbaiki semuanya dari awal."
***
Jakarta, Indonesia
23.30 PM
"Serkan."
Laki-laki bernama Serkan yang tengah menghisap sebatang rokok di bibirnya itu menoleh. Sahabatnya—Didi menghampirinya lalu duduk disebelahnya.
Mengambil sebatang rokok di saku baju dan membakar ujung nya dengan korek. Ia menghembuskan nafas ke udara, membuang asap yang sudah ia hisap dari paru-paru nya membumbung ke udara lepas.
"Gak balik?" tanya Didi melirik Serkan.
"Nanti."
Didi mengangguk-angguk. Ia menatap ke bawah dimana ada anak-anak Akasa tengah bernyanyi dan becanda mengelilingi api unggun kecil yang dibuat mereka. Banyak dari mereka yang tertawa dan bertingkah konyol seakan tidak mempunyai beban hidup.
Posisi Serkan dan Didi sekarang berada di atap. Kalian ingat bangkai pabrik gula yang menurut warga sekitar angker dan menakutkan? Sekarang, hampir tengah malam mereka masih berada disana. Berkumpul bersama-sama meramaikan tempat angker itu.
Bukan tanpa sebab, mereka berkumpul di bangkai pabrik gula itu karena lokasinya jauh dari pemukiman warga. Hal itu menguntungkan Akasa karena anggota geng tersebut sangat berisik. Malam-malam seperti ini biasa mereka habiskan waktu untuk berkumpul dan bersenang-senang bersama. Setengah anggota geng Akasa akan berkumpul dan membuat api unggun kecil, lalu mereka akan mengelilinginya.
Soal angker dan mistisnya bangkai pabrik itu tak mereka hiraukan. Selama tidak terjadi hal-hal misterius seperti pergerakan musuh, mereka tidak takut. Karena nyatanya, baru segelintir orang yang tahu lokasi ini.
"Lo abis darimana dulu? Gak biasanya tadi dateng telat."
"Biasa," jawab Serkan ogah-ogahan.
"Datengin cewek itu?"
Serkan mengangguk.
Awalnya Serkan menginformasikan kepada anggota geng nya agar berkumpul di bangkai pabrik gula ini pada jam tujuh malam. Namun, saat mereka telah berkumpul semua, ternyata Serkan belum datang. Mereka menunggu satu jam hingga pada akhirnya Serkan datang jam delapan lebih. Walaupun telat, tidak ada yang berani menegur atau memarahinya. Semua anggota Akasa takut kepada Serkan.
Serkan sengaja mengumpulkan mereka untuk membicarakan perekrutan anggota baru. Sekaligus membicarakan p*********n rahasia yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari. Rencana yang ia rancang pasti akan terwujud dengan dibantu anggota lainnya.
"Lo semakin hari semakin deket sama cewek itu, Kan."
"Kenapa emang?"
Didi terkekeh. Ia kembali mengambil sebatang rokok dan membakar ujung nya dengan korek api gas saat rokok pertama telah habis ia hisap. "Gue khawatir lo malah lupa tujuan utama lo."
"Tenang aja." Serkan menghembuskan nafasnya membuat asap keluar dari mulutnya. "Dia aset penting kita. Kunci utama kita untuk menang. Jadi gue gak bisa lepasin dia begitu aja setelah susah-susah rebut kepercayaannya."
Didi mengangguk. "Ya, seenggaknya ketua mereka udah mati. Geng nya juga harus mati."
"Gue udah pikirin semuanya dengan matang," ucap Serkan.
Didi terdiam. Ia menghirup udara dalam-dalam sekaligus menghirup nikotin yang ia hisap tadi.
"Kita mau nyerang kapan?" tanya Didi.
Serkan mengacak rambutnya. "Kalau semuanya sudah sesuai dengan rencana gue."
"Dan lo yakin rencana ini bakal berhasil?"
Serkan terkekeh namun terdengar menyeramkan. "Walaupun rencana ini gagal, gue udah siapin banyak rencana cadangan," ucapnya. "Lo kan tau, Ketua pengganti mereka juga gak bisa kita remehkan."
Didi mengangguk. "Gue kira cowok yang namanya Aiden itu cuman pajangan di Zeus. Ternyata otak nya lumayan juga."
Serkan menyeringai. "Untuk itu, Kita lumpuhkan dulu yang terkuatnya."
"Lo bener," ucap Didi menyetujuinya.
Serkan membuang rokok yang tersisa sedikit itu ke bawah lalu menginjaknya. "Karena firasat gue, semuanya gak bakal semudah yang gue perkirakan."
***
Ketikan jari jemari seseorang di atas Keyboard membuat laki-laki dengan decker hitam melingkar di pergelangan tangannya itu terbangun dari tidurnya. Ia menatap sahabatnya yang tengah serius di depan komputer dan di tengah kegelapan malam.
Lampu utama di ruangan tersebut telah dimatikan karena memang ini adalah waktunya bagi semua orang untuk tidur. Tapi saat melihat ada satu orang yang masih terjaga, rasa penasarannya langsung bangkit. Mengalahkan rasa kantuk yang mendera.
"Den? Lo lagi ngapain?" tanya laki-laki ini dengan suara khas bangun tidur.
Aiden terlihat tersentak kaget. Ia menoleh kebelakang sebentar lalu berdehem pelan. Komputer yang tadi menayangkan sebuah blog itu langsung di close-nya secepat kilat. "Gak papa."
"Serius lo? Muka lo langsung pucet."
Aiden menghadapkan kembali tubuhnya sepenuhnya ke layar komputer, mencoba tenang dan rileks. "Serius. Mending lo tidur lagi, Di."
Aldi terkekeh. "Lo lagi buka konten plus plus, ya?" tebaknya asal. "Wah Iden nakal."
Aiden mendengus. Ia kini membuka aplikasi jual beli online dan melihat akun Zeus Distro. "Ngaco lo."
Aldi menguap. Ia berdiri sambil mengacak rambutnya. "Tidur, Den. Gak usah bikin badan lo rusak cuman buat nyari informasi yang gak jelas kebenarannya."
Seketika gerakan tangan Aiden di mouse terhenti. "Maksud lo?" tanya nya cuek.
Aldi lagi-lagi terkekeh. Ia berjalan mendekati Aiden lalu menepuk pundak sahabatnya itu. "Gue gak sebego yang lo kira, Iden sayang," ucap Aldi dengan nada menggelikan. "Lo masih gak nyerah nyari informasi tentang Garka?"
Aiden terdiam sejenak. Saking fokusnya ia menjelajah blog untuk mencari informasi jatuhnya pesawat satu tahun lalu, Aiden yang biasanya siaga menjadi lengah. Ia tidak menyadari Aldi yang terbangun dan menangkap basah dirinya kembali mencari informasi tentang Ketuanya.
"Ya, seperti yang lo liat," ucap Aiden yang akhirnya jujur sambil menjauhkan kursi yang dibawahnya terdapat roda itu dari komputer. Ia menatap Aldi lalu menggeleng. "Gue gak tenang sebelum gue tau kepastiannya."
Aldi tercenung. Ternyata Aiden yang selama ini terlihat cuek dan bodo amat itu adalah orang yang paling peduli pada sahabat nya sendiri. Ia jadi berpikir, jika dirinya berada di posisi Garka, apakah Aiden akan sama khawatirnya? Apakah semua sahabat-sahabat nya akan sesedih ini juga?
"Gue bocah banget, ya?"
Aldi mengerjapkan matanya. Ia menatap Aiden lalu menaikkan kedua alisnya. "Bocah?"
Aiden menatap sekitarnya. Mereka kini berada di ruangan yang sering Garka tempati di Distro itu. Yang lainnya memilih tidur di luar. Karena kata mereka, tidur diruangan itu hanya akan mengingatkannya pada Garka. Jadilah kini hanya Aldi dan Aiden yang tidur disini.
"Gue jadi lebih sering pasrah. Baru kali ini gue gak bisa berpikir jernih."
Aldi menundukan wajahnya. Ia mendengarkan Aiden dengan serius, karena baru kali ini laki-laki dingin itu curhat padanya. Selama ini Aiden lebih dekat dengan Garka.
"Garka itu... segalanya buat gue. Disaat nyokap dan bokap gue cuman memperalat gue, dia dateng ngulurin tangan. Dia bikin gue ngerasain gimana rasanya gak kesepian. Gimana rasanya bahagia." Aiden menghela nafas. "Gue gak pernah mikir buat ngehianatin lo semua, terutama Garka. Selama gue masuk Zeus dan kenal lo semua, gue gak pernah lagi inget gimana rasanya kesepian," lanjutnya.
"Gue juga sama."
Aiden menatap Aldi.
"Gue waktu itu b******k banget." Aldi mendudukan tubuhnya di pinggiran tempat tidur. "Gue terjerumus dunia malam. Gue suka balap motor, mabok, judi, bahkan gue pernah nyuri di rumah orang."
Aiden sedikit terkejut. Ia memang pernah mendengar latar belakang Aldi dari Garka, namun ia tak mengira jika Aldi benar-benar terjerumus dalam dunia seperti itu.
"Gue berniat berhenti dan keluar dari dunia gelap itu. Tapi gue lupa kalau gue masih punya banyak utang sama preman karena gue kalah judi. Gue di hajar sama lima preman." Aldi terkekeh miris. "Gue kira hari itu adalah hari terakhir gue hidup di muka bumi. Tapi ternyata ada orang yang nolong gue dan bahkan bayarin semua utang gue."
Aldi menatap Aiden. "Orang itu adalah Garka. Sejak hari itu gue berutang budi sama dia. Dan pas gue tau dia anak Garuda, gue mulai berteman sama dia. Sampe sekarang."
Aiden memejamkan matanya. Ternyata selama ini Garka lah yang selalu berperan sebagai malaikat penolong bagi mereka. Garka juga yang selama ini selalu menanggung beban berat akibat ulah anggota geng nya bahkan sampai berurusan dengan polisi karena salah satu anggota nya yang terlibat kasus kriminal.
Apa Aiden egois jika ia ingin Garka kembali lagi? Menanggung beban itu lagi dan ia akan membantunya. Ia rela menjadi tameng Garka dalam mengemban segala tugas beratnya. Ia rela menjadi s*****a Garka dimanapun dan kapanpun.
Karena bukan kah seperti itu gunanya sahabat?
"Tenang aja, Den." Aldi tersenyum lebar dan sedikit terlihat menyebalkan dimata Aiden. "Gue juga yakin kok kalau Ketua belum meninggal."