Pasangan Tidak Tahu Malu

1306 Words
"Aku ingin membatalkan pernikahan ini!" ucapku bernada dingin dengan menatapnya penuh kebencian. Pria yang berdiri di hadapanku ini seketika bergeming dengan apa yang aku ucapkan itu. "Aku sudah tahu semua kebusukanmu. Jadi, jangan pernah bermimpi untuk menikahiku!" hardikku dengan tegas. "Kebusukan, apa? Aku tidak mengerti, Areta." Dia berpura-pura bodoh dengan raut wajah tegang. Aku tersenyum menyeringai, melihat wajah paniknya. "Lihatlah, kejutan apa yang aku berikan untukmu, Marco!" tunjukku ke arah sebuah layar besar yang akan memutar video Marco dan Celine yang sedang melakukan perselingkuhan. Ya, aku telah mendapatkan bukti perselingkuhan Marco dan Celine dari gigolo itu sesampainya di rumah tadi. Aku pun telah membayar seseorang untuk membantuku menjalankan semua rencana ini. Raut wajah Marco nampak semakin pucat, ketika kedua bola matanya melihat apa yang aku tunjukan di depan para tamu undangan yang hadir. "Stop! Matikan layar video itu!" teriaknya frustasi sambil mengeraskan rahangnya dengan penuh kemarahan. "Ini, tidak seperti apa yang kamu lihat, Areta! Aku bisa jelaskan semuanya, nanti. Tolong, percaya padaku!" ucapnya menahan lenganku dengan raut wajah memohon. Aku tak menanggapi apa yang Marco katakan. Aku hanya berusaha menepis lenganku yang ia pegangi. “Don-t touch me!” bentakku dengan kilatan marah. Sementara suasana aula gereja pun seketika menjadi riuh, dengan suara pekikan dan sorakan semua orang yang ikut menyaksikan pertunjukan yang aku berikan. Raut wajah terkejut dan tak percaya dari mereka, nampak jelas terlihat dari atas altar tempatku berdiri. Ekor mataku mencari keberadaan adik tiriku yang menjadi model dalam video yang sedang berputar di layar besar itu. Senyumku begitu puas, setelah bisa membalas dendam atas apa yang selama ini mereka lakukan di belakangku. Ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit hatiku yang mereka torehkan kepadaku. Permainan baru saja dimulai, bersiaplah dengan kejutan yang lainnya. Aku pastikan, adik tiriku akan segera angkat kaki dari rumah orang tuaku, setelah apa yang terjadi saat ini. Marco menjauhkan tangannya dengan raut wajah kepanikan. Aku yakin saat ini, dia diselimuti rasa malu yang tak terkira di hadapan semua tamu undangan yang menyaksikan semua ini. Detik berikutnya, ia melangkah turun dari atas altar pernikahan. Aku acuh tak acuh dengan apa yang akan dilakukannya. Setelah itu, aku meminta maaf kepada pak pendeta dengan air muka sedih. Kedua tanganku menangkup di depan dadaku kepada pak pendeta dengan rasa bersalah atas kekacauan yang aku lakukan di acara pernikahanku sendiri. “Maafkan saya, Pak Pendeta. Maafkan saya yang telah melakukan hal memalukan seperti ini.” Pak pendeta yang sedari tadi berdiri di hadapanku, hanya terdiam dengan raut wajahnya yang tak bisa aku pahami. Salah satu tangannya terulur menyentuh puncak kepalaku dengan tatapan sendu. Aku bergeming dengan menundukan kepalaku, atas apa yang beliau lakukan. “Tuhan memberkatimu, Nak Areta!” Tak terasa, air mataku yang sedari tadi kutahan akhirnya luruh juga membasahi wajahku. Terlebih lagi mendengar ucapan pak pendeta yang menyentuh. ‘Tuhan, maafkan hambamu yang penuh dosa ini.’ Setelah aku meminta maaf kepada pak pendeta, aku pun pamit untuk segera berbalik badan meninggalkan altar pernikahan. Video yang berdurasi pendek itu pun sudah tak lagi berputar di layar lebar. Sepertinya, mereka sudah mematikan monitornya dengan cepat. Namun, suasana ruangan masih tetap gaduh oleh semua orang yang nampak berbisik-bisik membicarakan Marco dan Celine yang menjadi bintang dalam video tersebut. Ketika langkahku hendak turun dari atas altar, tiba-tiba terdengar suara ayahku yang berbicara keras menggunakan microfon.”Mohon perhatian, semuanya!” serunya, membuat langkahku terhenti. Begitu pun dengan suara riuh yang tadi terdengar, seketika terhenti. Semua mata nampak tertuju ke arah ayahku yang berdiri di sudut ruangan, termasuk dengan aku. Nampak pula, Marco yang berdiri di samping ayahku dengan raut wajah yang tak bisa aku artikan. Ayahku pun kembali berbicara dengan suaranya yang lantang. “Sebelumnya, saya dan keluarga besar Leonel, ingin meminta maaf atas ketidaknyamanan semua ini kepada saudara dan saudari yang telah hadir sebagai tamu undangan. Tidak mengurangi rasa hormat dan rasa terima kasih saya terhadap kalian semuanya, saya menyatakan bahwa acara pernikahan akan tetap berlangsung pada hari ini. Tapi…..,” Ayahku menghentikan ucapannya ketika menatap penuh kemarahan ke arahku. Aku yang masih berdiri di atas anak tangga, hanya mematung dengan tatapan nanar. Aku tak mengerti apa maksud ucapan ayahku, yang ingin tetap melangsungkan pernikahan ini. Padahal, sudah jelas dengan semua masalah yang baru saja terjadi. Semua orang yang menyimak apa yang diucapkan oleh ayahku pun nampak terdiam dengan raut wajah tanda tanya dan penasaran. Detik berikutnya, seulas senyuman mengembang nampak terbit dari bibir ayahku. Ia kembali bersuara dengan lembut, sambil menoleh ke arah adik tiriku yang berdiri bersama ibunya dengan raut wajah bahagia. “Putriku, Celine. Kemarilah!” panggilnya. Celine dan ibu tiriku nampak berjalan mendekat ke arah ayahku. Tatapanku tak berpaling dari mereka sedetik pun. Sepertinya, mantan calon suamiku yang licik, telah berhasil mempengaruhi pikiran ayahku. ‘Ck, tidak tahu malu, mereka.’ Hatiku begitu terluka dengan prilaku ayahku yang masih saja bisa bersikap baik kepada Marco dan adik tiriku. Jelas-jelas di sini mereka telah berselingkuh dan mengkhianatiku, akan tetapi ayahku masih tetap membela keduanya. “Nak Marco, menikahlah dengan Celine, Putriku. Naiklah dan bawa dia ke atas altar pernikahan!” seru ayahku kembali terdengar dengan tegas. Haah?! Aku terperangah dengan kedua bola mataku yang melebar. Semua yang terjadi di luar rencanaku. Aku kalah maju satu langkah di belakang Marco dan Celine. Tak hanya aku yang dibuat shock dengan pernyataan ayahku. Aku pun bisa melihat sebagian orang yang ada di ruangan ini nampak terperangah dan terkejut pula. ‘Astaga! Sebenarnya, aku ini putri kandungnya atau bukan? Mengapa aku diperlakukan buruk seperti ini. Jelas, aku tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh ayahku. Kalau sudah begini, bagaimana bisa aku mengusir Celine dan ibu tiriku dari rumah orang tuaku?’ rutukku penuh kesial4n. Marco nampak tersenyum menyeringai ke arahku. Kali ini, ia berhasil memutarbalikan keadaan. Ia seperti sedang bersorak kemenangan saat menggandeng mesra adik tiriku untuk berjalan naik ke atas altar pernikahan. Sebelum mereka melewati jalanku, buru-buru aku turun dari anak tangga untuk menyingkir. Rasa sesak dan nyeri, tiba-tiba menguasai rongga dadaku. Aku merasa dunia ini tidak adil terhadapku. Di mana yang bersalah selalu menang. Dan, yang benar selalu kalah. Suara riuh dan tepuk tangan dari semua orang yang hadir, mengiringi langkah mereka berdua yang tak memiliki rasa malu itu. Mereka nampak bahagia di atas penderitaanku dengan penuh percaya diri. Sungguh, sepasang pengantin berhati iblis. “Areta…, ikut Daddy, sekarang!” Suara ayahku tiba-tiba terdengar di belakangku. Aku pun memutar tubuhku untuk menghadapnya dengan kesal. “Untuk apa, Dad? Aku kecewa dengan Daddy. Aku…..,” ucapku terhenti ketika ayahku menyela. “Cukup, Areta! Sudah cukup kamu membuat malu keluarga kita.” Ayah mencekal lenganku dengan mata berkilat merah menahan amarah, sambil menarikku ke pintu luar ruangan. Ayahku menghempaskan lenganku dengan sangat kasar, ketika kami sudah berada di luar aula gereja. Aku tersentak kaget dengan sikap ayahku yang demikian. Cacian dan makian terlontar dari mulut ayahku, atas semua yang aku lakukan. Dia menyalahkan aku yang sudah menyebarkan aib keluarga dan mencoreng nama baik keluarga besar Leonel dan Fernandes. Ayahku sudah seperti dicuci otaknya oleh Marco, hingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Aku mencoba membela diri, bahwa aku yang dirugikan dan disakiti dalam hal ini. Namun, ayahku tetap menyalahkan aku, hingga semua itu terjadi. Katanya, Marco tidak akan pernah berselingkuh dengan Celine, jika aku tidak keras kepala dan selalu menolak keinginan pria bajing4n itu. “Dad…,” ucapku lirih dengan tatapan nanar sambil meringis memegangi lenganku yang memerah terjiplak cekalan tangan ayahku sendiri. Aku masih berharap, ayahku mau mendengarkan ucapanku kali ini. “Pulanglah!” usir ayahku dengan suara tertahan, sambil membalikkan tubuhnya untuk meninggalkanku. Brukk! Kedua kakiku bergetar lirih, seolah tak mampu menopang tubuhku sendiri. Aku meluruh lemah ke dasar lantai, meratapi nasibku sendiri. Isak tangisku pun pecah tak tertahankan, dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahku. “Cengeng sekali! Dunia belum kiamat, Nona.” Suara laki-laki yang begitu sexy dari arah belakang punggungku, berhasil menghentikan tangisanku. “J-justin…,” gumamku lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD