Di kediaman keluarga besarku.
Dengan tatapan nyalang dan rahang mengetat, ayahku yang bernama Excel Leonel menyambut kepulanganku. Di ruang tamu, sudah dipenuhi oleh sanak family terdekat kami yang sangat mengenalku. Mereka tampak berbisik-bisik, membicarakan kelakuan burukku.
Selain ayah dan sanak familyku, terlihat pula ibu dan adik tiriku yang tengah memasang wajah sedihnya. Wajah penuh kepalsuan dengan sandiwara dan kepura-puraan. Aku yakin dalam hati mereka, jika mereka sedang tertawa di atas penderitaanku.
Aku hanya tersenyum tipis, menghadapi kemarahan ayahku yang sepertinya akan meledak sebentar lagi. Aku sangat hafal dengan perangai ayahku yang keras seperti batu. Sepertinya, sifatku itu sebagian besar menurun dari sifatnya. Karena, sifat mendiang ibuku sangat berbanding terbalik denganku.
Dan, benar saja ayahku menyemburku dengan suara lantang memenuhi ruangan. “Dasar anak tidak tahu diuntung kamu, Areta! Anak tidak tahu malu dan liar. Ke mana saja dari semalam hingga detik ini baru pulang, huh? Apa yang kamu lakukan di luaran sana? Apa kamu lupa dengan hari pernikahanmu sendiri? Apa….”
“Sudah, Honey, berhentilah mencecar putrimu!” potong ibu tiriku yang bernama Clarisa, dengan memasang wajah melas di hadapan ayahku.
“Ya, Dad, benar kata, Mommy!” timpal Celine, dengan tampang yang sama seperti ibunya.
“Ck, srigala berbulu domba,” desisku lirih, dengan tatapan sinis melihat ibu dan adik tiriku seakan sedang membelaku. ‘Sebentar lagi, aku akan membongkar kebusukanmu, Celine. Jadi, bersiap-siaplah kamu anjak kaki dari rumah orang tuaku!’ bisikku dalam hati.
Ayahku berhenti mencecarku, setelah apa yang dikatakan oleh ibu dan anak yang aku umpamakan layaknya srigala tersebut. Ia sangat mudah menurut dengan semua perkataan mereka, sedangkan denganku harus berdebat panjang terlebih dahulu.
“Baiklah,” ucap ayahku terdengar menghembuskan napas kasar.
Aku hanya memutar bola mata malas dan masih tetap membisu, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu, tatapanku sangat tajam ke arah Celine yang bertingkah sok suci di hadapan ayah dan keluarga besarku yang lain. Sementara keluarga besarku yang lain, hanya menonton kami layaknya sebuah pertunjukan drama keluarga dalam layar kaca.
Ibu tiriku tersenyum senang, setelah berhasil menghentikan kemarahan ayah kepadaku. Begitu juga dengan adik tiriku, raut wajahnya penuh kepura-puraan terhadapku. Aku yang sudah mengetahui sifat aslinya selama ini, sudah bisa menduga dengan apa yang ia lakukan di belakangku.
Hampir lima belas tahun lamanya, mereka menggantikan posisi aku dan mendiang ibuku di samping ayahku. Namun, aku masih menerima dengan lapang dad4. Tapi, kali ini tentu berbeda, aku tidak akan terima dan tinggal diam begitu saja setelah apa yang dilakukan Celine dan Marco, semalam.
“Ayo, Areta, ganti pakaianmu sekarang!” ucap ibu tiriku dengan senyum palsunya ke arahku.
Aku hanya mengedikan bahu, acuh tak acuh seperti hari-hari yang selama ini kami jalani. Ayahku dan semua orang pun sudah tahu, bagaimana sikapku terhadap mereka. Aku yang sudah dianggap pembangkang, keras kepala dan tidak pernah mendengarkan nasehat orang tua, sudah menjadi makananku setiap hari.
“Iya, Kak Areta. Ayo, aku bantu!” timpal Celine sambil mengulurkan tangannya ke arah lenganku, sok perduli dengan senyuman memuakan di mataku.
Aku menepis tangannya dengan cepat, sambil mendengus lirih. “Singkirkan tangan kotormu, Celine! Jangan pernah menyentuhku!” hardikku nyalang.
Celine nampak tercengang dengan apa yang aku katakan. Sekalinya aku berkata, membuat semua orang semakin geram kepadaku. Namun, aku tidak perduli dengan semua itu.
“Areta…, jaga ucapanmu!” bentak ayahku dengan geram. “Apa seperti ini, sikapmu terhadap adikmu yang selalu membelamu, huh?!”
Lagi-lagi, aku hanya memutar bola mata malas dengan mengedikan bahuku lirih. Aku tidak perduli dengan bentakan kemarahan ayahku. Aku tak menyahutinya, memilih beranjak meninggalkan mereka semua. Biarlah mereka menganggapku sesuka hatinya, agar mereka puas. Tunggu saja apa yang akan aku lakukan nanti. Aku sudah tidak sangat sabar memberikan kejutan kepada semuanya.
Namun, sebelum aku benar-benar beranjak pergi, kedua mataku melirik ke arah adik tiriku yang nampak mengulum senyum. Sepertinya, ia merasa menang setelah ayahku selalu membelanya.
“Ck, menjijikan,” dengusku lirih, sambil melangkah menuju anak tangga lantai rumah kamarku.
Empat orang MUA, ikut mengekori langkahku untuk membantuku berganti pakaian dan berdandan layaknya menjadi mempelai pengantin. Aku pun hanya pasrah, mengikuti arahan yang mereka lakukan.
***
Satu jam kemudian.
Aku sudah dirias secantik mungkin dengan ala-ala pengantin wanita yang tengah berbahagia. Meskipun pada dasarnya, wajahku sudah cantik alami menuruni kecantikan dari mendiang ibuku.
Balutan gaun pengantin berwarna putih gading yang sudah aku pilih sejak sebulan yang lalu, begitu pas dan cantik membungkus tubuhku yang ramping dan tinggi semampai.
Ya, tubuhku tergolong ideal atau proporsional untuk kebanyakan gadis sepertiku. Dengan berat badan kurang lebih empat puluh lima kilo gram, dan tinggi badan mencapai seratus tujuh puluh lima centi meter, aku bak model yang berjalan melenggak-lenggok di atas catwalk.
Keempat orang MUA yang selesai menyulapku menjadi seorang pengantin wanita, berdecak kagum dengan hasil yang mereka dapati. “Woow, very beautiful bride! Nona Areta, a perfect.”
“Thank you,” ucapku dengan tersenyum getir.
Aku hanya menghormati atas kerja keras mereka untuk mendandaniku seperti ini. Seandainya tadi malam aku tidak mengetahui apa yang Marco dan Celine lakukan, mungkin hal ini akan menjadi sebuah kebahagiaan yang sangat aku nantikan. Hari di mana, setiap gadis sepertiku memimpikan pernikahan yang indah dan disaksikan oleh semua orang di atas altar, di hadapan pendeta dan Tuhan.
***
Ayahku menatap penuh arti ke arahku, ketika aku menuruni anak tangga rumah ini. Sementara yang lainnya, aku tidak perduli mereka menatapku seperti apa. Sesuka hati mereka untuk menilaiku.
Aku tahu, di dalam lubuk hati terdalam ayahku, beliau mencintaiku. Namun, sejak kehadiran ibu dan adik tiriku, sikapnya semua berubah tak sehangat dulu.
Terkadang, aku sangat merindukan kehadiran mendiang ibuku bersama ayahku. Tapi, aku tak ingin berlarut dalam kerinduan yang tak berujung.
"A-areta.....," ucap ayahku terdengar bergetar, saat aku telah sampai di hadapannya.
Aku hanya tersenyum miris, kala menatap wajah tuanya yang mulai terlihat.
"Mari, gandeng lengan Daddy...!" ucapnya terdengar tulus. Aku pun hanya mengangguk patuh, menuruti apa maunya.
Kami bergegas pergi menuju tempat pemberkatan yang sudah dijadwalkan beberapa hari sebelumnya.
***
Di aula gereja, untuk pemberkatan.
Marco sudah berdiri tegap dan gagah mengenakan kemeja putih dan jas hitam senada dengan celana berbahan sutranya. Wajah tampannya membiusku dan semua orang yang melihatnya. Namun, aku tak mau terkecoh lagi dengan semua yang ada pada dirinya.
Senyuman yang selalu ia terbitkan selama ini, tak lagi mampu menghangatkan hatiku. Rasa cintaku sudah terkubur dan lenyap seperti angin yang pergi entah ke mana.
"S-sayang, akhirnya kamu datang. Aku sangat cemas, ketika tadi pagi Daddymu menelponku dan mengatakan kamu tak kunjung pulang ke rumah," sapa Marco menyambutku dengan sikapnya yang penuh kemunafikan, sambil mengecup punggung tanganku dengan mesra.
Dia pikir aku tidak tahu niat busuknya menikahiku. Sebentar lagi, akan aku bongkar apa yang dia lakukan bersama selingkuhannya di hadapan semua orang. Aku tersenyum jahat di dalam hati.
"Oh, ya," sahutku sinis seperti acuh tak acuh, buru-buru menarik tanganku yang merasa jijik saat disentuhnya.
Marco pun nampak terkejut dengan sikapku yang selama ini tidak pernah seperti itu kepadanya.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa aku telah berbuat salah kepadamu, huem?" tanyanya seolah bingung. Lalu, ia hendak menyentuh tanganku kembali. Namun, aku langsung mengangkat tanganku untuk menghindar.
"Ck, dasar b4jingan! Pintar sekali dia beracting," ump4tku lirih dalam hati.
Raut wajah Marco nampak memucat, ketika sikapku semakin terang-terangan menolaknya. Aku pun membisikan hal yang langsung membuatnya membeku seketika.
"Aku ingin membatalkan pernikahan ini!"