Dia pengantiku

1487 Words
Hawa panas merangkak naik menjalar ke seluruh tubuh saat kaki ini turun dari bis , pertukaran udara dari dalam bis yang ber AC dengan suasana kota Surabaya saat ini begitu kontra, panas banget rasanya mata ini silau melihat sekeliling, seperti ada minyak berterbangan jika kita melihat jalanan sekitar terminal. Bola mataku menyisir ke seluruh penjuru terminal belum nampak om Ardy menjemput ,, ahirnya aku putuskan untuk berjalan menuju peristirahatan di terminal itu, saat aku berjalan tiba-tiba mobil warna putih berhenti didekatku, dalam hati aku takut sekali bagasi ana kalau ini orang jahat, harus gimana aku,, jujur beneran gemeteran . Tapi setelah sang pengemudi turun rasa itu hilang seketika, ternyata itu adalah om Ardy rasanya plong banget. “ Hai cantik, wah keponakan om ini cantik banget ternyata, kayak gini kok disakiti ya,,,, sama om aja mau ngak masih jomblo ni” baru juga ketemu malah ngegombal , dasar om Ardy “ om,,,, apaan sih aku kan baru datang capek, malah ngegombal ngak jelas” jawabku sewot “ aish,,,, ilang lho cantiknya, malah cemberut kayak gitu , ya udah masuk kita pulang” om Ardy memasukan barang bawaanku ke dalam bagasi lalu tancap gas membawaku pulang, ditengah jalan om Ardy berbelok ke rumah makan sederhana , di rumah belum ada makanan yang mateng katanya , kami makan disitu , obrolan ringan tak terasa mengiringi pindahnya nasi dipiring habis masuk ke dalam perut tampa kami sadari, setelah makan usai kami bergegas pulang selain mendung yang tiba-tiba gelap menyelimuti kota Surabaya jam juga sudah menunjukan jam tujuh malam , tak terasa lama juga kita makan tadi. Sesampainya dirumah keadaan rumah masih gelap gulita tanpa penerangan sama sekali, maklum tadi om Ardy keluar sejak siang , jadi blum menyalakan lampu saat mau pergi. Setelah lampu telah berhasil diyalakan semua, betapa terkejutnya om Ardy ternyata mantan tunangannya dulu Almira berada di dalam rumah dengan wajah melasnya duduk di sofa depan tv , dia segera bangkit dari duduknya saat melihat om Ardy pulang membawa seorang wanita, dia tidak tau jika aku ini adalah keponakan om Ardy, “ Ardy dia penggantiku ? Dia lebih muda dariku, lebih cantik juga, ,, benar kata orang yang tersakiti akan mendapat yang lebih baik dari yang menyakiti,, selamat ya Ardy aku ikut bahagia, maafkan aku telah menyia yiakan kamu , sekali lagi maafkan aku” Tampa satupun penjelasan dari om Ardy, Tante Almira terus nyerocos minta maaf dan memberikan selamat pada kami yang masih setia melihat tak percaya padanya, teryata diam kami ini dia artikan sebagai membenarkansemua kata kata Tante Almira. Padahal tujuannya kesini adalah meminta maaf ingin kembali pada om Ardy, setelah dihianati kekasihnya yang telah dia bela dan memilih memutuskan pertunangannya dengan om Ardy, semua perbuatan memang sudah ada konsekuensinya sendiri, setelah mengucapkan itu semua Tante Almira lantas pergi dari pandangan kami, kapi kami masih juga mematung tak percaya “ om ,,,,om ngak kejar Tante Almira? Tante sudah pergi” kataku setelah menyadari bahwa Tante Almira sudah pergi dengan tangis . “ Tidak ,, biarkan saja, dia fikir semudah itu minta maaf, hati ini sudah terlanjur sakit Na, biarkan dia berkutat dengan fikiranya sendiri, biar dia rasakan gimana sakitnya dihianati” dari segi kata kata om Ardy, tergambarkan betapa kecewanya yang dirasakan dulu, padahal mereka masih dalam tahap tunangan sedang aku? ‘ om Ardy memang kecewa, tapi mungkin rasa itu tak sesakit yang aku rasakan , tapi aku paham kenapa om Ardy bersikap seperti ini , ya sudahlah itu urusan mereka, lebih baik aku menata hati aku sendiri, untuk tetap menatap kedepan , menghadapi yang belum aku tau akan seperti apa jalan ceritanya, bahagiakah atau malah lebih sakit dari yang aku rasakan kini’ Om Ardy pergi ke kamarnya tampa memberi tau dimana kamar untukku, sebenarnya aku ingin bertanya tapi melihat suasana hati om Ardy yang lagi badmood ahirnya aku urungkan niatku. Di sofa inilah malam ini aku tidur, tapi aku sudah beruntung bukan, masih bisa tidur diatas sofa? Diluar banyak yang hanya tidur diatas lantai beralaskan kardus atau koran. Kurebahkan tubuh di atas sofa , kulihat sekeliling dekorasinya masih tetap sama seperti saat nenek masih hidup. Walaupun itu nenek tiri tapi sayang banget sama mama sama aku, maka dari itulah ibuk selalu menyamakan aku dan kak Adel karena selama ini ibuk juga diasuh oleh ibu tiri, tapi ibuk selalu mendapat perlakuan sama dengan om Ardy sebagai adik tiri. Tapi teryata semua tak bisa disamakan begitu saja persis dengan pengalaman, semua tergantung sifat dari yang dihadapi dan waktu terjadinya , lelah badan dan hati ini membawaku terbang cepat ke alam mimpi. Tengah malam om Ardy bangun ,mungkin ingin mengambil minum di dapur,tapi melihatku yang tidur diatas sofa langsung menghampiriku, dia baru ingat meninggalkan aku Tampa pesan apapun , “ astaga aku meninggalkan dia tampa memberitahu dimana kamarnya,” dibangunkannya aku untuk pindah ke kamar , kamar ini dulu adalah kamar ibuk sewaktu muda, masih terawat barang-barang masih tertata rapi, walau om Ardy sering pergi ke luar kota tapi ada Bu Marni yang bantuin beres- beres dirumah ini. Walau ngak setiap hari tapi Bu Marni adalah orang sangat teliti saat bersih – bersih, jadi kebersihan tetap terjaga. Kini aku berbaring dikasur , menatap langit-langit kamar merenungi apa yang telah terjadi padaku. Banyak orang bilang , kalau pasti akan ada yang lebih baik dari sekarang, tapi waktu yang kulewati bersamanya juga sudah terlalu banyak mengukir kenangan yang Indah, mungkin sulit untuk aku lupakan. ‘mas aku ngak tau kenapa kamu tega sama aku, aku juga ngak tau apa salahku, yang aku tau kini kamu bukan lagi kekasihku , bukan calon suamiku seperti selama ini aku anggap. Tapi kini kamu adalah kakak iparku, suami dari kakakku, aku masih belum percaya sebenarnya , dengan Kenyataan ini . Tapi yang pasti aku harus bisa menjalani, melewati dan menghadapi semua ini,,' sampai kini aku di tempat yang berbeda pun, fikiranku tetap seperti ini. Lelah aku menangis hingga tak sadar aku tertidur, walau tetap didalam mimpi bayangan itu terus mengikuti . Hingga aku kembali terjaga ditengah malam yang panjang ini , tapi didalam mimpiku mas Raka melebarkan tangannya menyambutku menghampirinya , aneh memang tapi itu yang selalu datang dalam mimpiku setelah pernikahan kak Adel. Dilihat dari wajah mas Raka memang tak mengambarkan kebahagiaan, tapi suatu tekanan untuknya. Jika nanti aku harus bertemu di satu tempat dengan kak Adel yang kuminta hanyalah, ' semoga saat itu aku telah bisa merelakannya, amin' Sinar matahari menembus gorden kamarku, kubuka mataku perlahan, kakiku seakan melompat dari tempat tidur , menyadari hari ini aku benar-benar kesiangan, ini akibat dari aku ngak bisa tidur tadi malam, ‘ aduh aku kesiangan ini , jam berapa ini’ mataku tertuju pada jam dinding yang menempel pada tembok kamar ini, jarum menunjukkan jam 0 7 00 . Aku bergegas menguncir rambutku asal. Niatku ingin membuat sarapan untuk om Ardy gagal total , om Ardy teryata sudah siap dengan pakaian kerjanya , yang lucu om Ardy memakai telemek yang mengantung di lehernya. Om Ardy membuat nasi goreng yang sudah ditata rapi diatas meja makan . Nasi goreng dengan toping bakso dan telor ini sangat enak dipandang mata secara penyajian, walau laki laki ternyata selera seni tinggi juga ni omku , kamipun sarapan bersama abaikan aku yang belum mandi. Sedangkan dirumah pak Gunawan , Adel yang baru pulang dari rumah mertua berlari kecil memanggil- manggil adiknya, ya sebenarnya Cuma ingin pamer aja, dia membawa paperbag kecil berisi farfum yang dibelinya saat jalan jalan kemarin , “ Na,,na kemana sih ni anak gak biasanya ngak nyaut,” Adel dengan wajah kesalnya berjalan menuju rumah belakang. Tempat mereka biasa masak . Namun hanya sang ibu yang dia temui tak ada sang adiktiri yang dia inginkan, padahal ngak sabarnya Adel memberi tau Ana tentang pengalaman di rumah mertua, dan rencana Pindah ke Jakarta besok sagat dinanti Adel sejak 2 hari lalu ,saat Raka menyampaikan kabar itu sama kedua orang tuanya. Adel hanya ingin lihat Ana semakin terpuruk . “ Del Kamu udah pulang nak” Bu Rina yang sedang menggoreng menoleh saat Adel memangil nama adiknya “ mana Ana buk? Kok ngak kelihatan, biasanya masak sama ibuk jam segini, apa udah dapat kerjaan?” Adel tak menjawab pertanyaan ibunya malah bertanya keberadaan Ana “ oh,, Ana ke Surabaya nak , om mu meminta dia kesana untuk liburan, syukur kalau disana adikmu dapat kerjaan” “ Apa ,,, ke Surabaya? Kok ngak pamit sama aku, tapi ngak papa ngak ada untungnya juga, oh ya nih buat ibuk aja, kemarin niatnya baik aku beliin oleh oleh buat dia, eh malah pergi ngak ada pamit “ Adel memberikan paperbag itu sambil berjalan keluar dapur, Bu Rina hanya menarik nafas sembari memegang dadanya yang terasa sesak ‘ ya Allah, lindungi anakku disana, semoga bertemu dengan kebahagiaan disana’ sikap Adel langsung mengingatkannya pada Ana yang mempunyai sifat terbalik dengan Adel, kadang merasa menyesal jika teringat saat dia harus menyalahkan Ana akan perbuatan Adel hanya tak ingin menjadi ibu tiri yang jahat, namun tak disadari bahkan dia telah menjadi ibu yang jahat mungkin untuk anaknya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD