True Love 8

1434 Words
Keysa menatap lamat wajah Arion, dengan ekspresi wajah datarnya. Wanita itu masih merasakan shock, tubuhnya mulai melemas dan juga pikiran yang berkecamuk. Karena dirinya tengah berhadapan dengan orang yang telah mengakibatkan kecelakaan ini terjadi hingga merenggut nyawa sang suami tercinta. Di sisi lain Arion pun sudah pasrah, jika nanti dirinya tidak akan mendapatkan maaf dari Keysa. Karena akibat dari apa yang telah terjadi ini membuat hilangnya nyawa seseorang. "Saya hanya ingin suami saya tenang di sana, saya tidak mau karena ke egoisan saya membuat suami saya merasa kecewa di sana, dan lagi pula saya bukan orang pendendam. In Shaa Allah, saya sudah memerima semua yang telah terjadi, dan saya ikhlas dengan kepergian suami saya!" Ucap Keysa dengan tatapan lurus ke depan sana. Ya, ucapan Keysa barusan membuat Arion benar-benar bungkam di buatnya, karena pasalnya Arion sudah mengira bahwa dirinya tidak akan mendapatkan maaf dari pihak keluarga korban. Namun sungguh di luat dugaan, ternyata Keysa malah mau memaafkan dirinya. "Ma-maksud ibu Keysa, i-ibu memaafkan sa-saya?" Dan untuk yang pertama kalinya seorang Arion Mahendra Aksa berbicara dengan gugup di depan seseorang, karena Arion tidak akan pernah menunjukan sisi lemahnya di hadapan orang lain. Tetapi untuk kali ini di depan seorang Keysa Nayara, Arion di buat gugup hingga sedikit terbata-bata 'Sial, kenapa gue gugup kaya gini, di depan rival bisnis atau klien besar pun gue gak pernah segugup ini!' Batin Arion karena pria itu benar-benar tidak paham dengan situasi saat ini. "Mungkin ini sudah jalan dari Yang Maha Kuasa, sudah garis tangan-Nya, membuat semua ini terjadi. Karena tanpa kehendak-Nya apa pun tidak akan terjadi" ucap Keysa tenang, namun jauh di lubuk hatinya dia merasakan sakit kembali, dan dad-a yang terasa sesak kembali, tetapi dia harus tetap berusaha tegar agar tidak terlihat lemah oleh orang lain. "In Shaa Allah, saya sudah berdamai dengan keadaan dan memaafkan segalanya!" Ucap Keysa. "Terimakasih banyak bu Keysa, anda benar-benar memiliki hati yang luas!" Ujar Arion tenang dengan menatap pada Keysa. "Maaf, dimana putra bu Keysa dan pak Rei, saya ingin bertemu dengan putra ibu" kata Arion. "Kebetulan anak saya sedang bermain, jadi dia tidak ada di rumah" jawab Keysa seperlunya namun tetap tenang dan sopan. "Sayang sekali, saya ingin bertemu denga putra bu Keysa" sesal Arion. "Mungkin lain kali anda bisa bertemu dengan putra saya" jawab Keysa. "Apa boleh, saya kembali lagi untuk bertemu dengan .. " ucapnya tergantung karena belum mengetahui namanya "Keenan, paggil saja dia Kee" kata Keysa melanjutkan ucapan Arion. "Apa boleh saya kembali?" Tanyan Arion hati-hati. "Jika anda ingin melihat putra saya dan alm suami saya, silahkan" jawab Keysa. "Terimkasih banyak bu Keysa, kalau begitu saya pamit dahulu, dan sekali lagi maaf juga terimakasih!" Ucapnya tegas kali ini kepada Keysa dengan kepala yang di tundukan. Keysa hanya mengangguk dan sedikit tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu saya pamit, terimakasih atas waktu dan maafnya, terimakasih banyak. Saya permisi dulu" pamit Arion kepada Keysa. Keysa pun berdiri dari duduknya, dan sedikit menundukan kepalanya juga senyum tipisnya. Arion pun melenggang pergi meninggalkan kediaman Reinaldo dengan perasaan sedikit senang dan juga sedih karena tidak bisa bertemu dengan anak dari Reinaldo dan juga Keysa. Karena selama ini dalam benaknya pun selalu terpikirkan oleh bocah laki-laku itu. Di dalam mobil pun Arion terus memikirkan semua yang sudah terjadi dan yang baru saja dia alami, karena pasalnya semua orang pasti akan sulit untuk memaafkan seseorang yang telah membuat orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita, apalagi kita tidak mengenal orang tersebut. Bagi Arion, Keysa adalah wanita yang berbeda dari yang pernah dia temui selama ini. Di lain tempat, Keysa sudah mendudukan dirinya kembali di atas sofa dengan kepala dan punggung yang dia senderkan kepada senderan sofa. Matanya terpejam dan lelehan air mata membasahi kedua pipinya, Keysa kembali menangis dalan diam, semoga keputusan yang dia ambil adalah benar, dengan memaafkan dan berdamai bersama keadaan. Keysa menangis dalam diam, tanpa suara, dan dari kedua sudut matanya cairan bening itu menetes menciptakan aliran sungai kecil ke kedua pipinya, dengan mata yang terpejam, saat itu pula bayangan Rei muncul di benaknya sambil tersenyum hangat kepada sang istri. Membuat hati Keysa merindukan sosok suaminya itu, rindu yang teramat sangat. Keysa membuka matanya, menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya, dia pun merapihkan album foto yang sempat tadi dirinya lihat, setelah itu Keysa berjalan ke kamarnya di lantai dua, lelah sekali rasanya saat ini, dia akan beristirahat sebentar di kamarnya sembari menunggu sang putra, ibudanya juga sahabatnya kembali dari acara jalan-jalan mereka. Sore hari pun tiba, Keenan, Rosa, dan Bella baru saja tiba di pekarangan rumah Keysa, Rosa dan Bella membawa bungkusan paper bag di tangan mereka. Bella membelikan mainan untuk Keenan dan juga membeli makanan di restoran tadi untuk mereka makan malam, agar Rosalind tidak harus memasak. "Assayamuayaikum Mama!" Ucap salam Keenan begitu pintu terbuka dan segera mencari keberadaan sang mama. "Waalaikumsalam Kee!" Jawab Keysa dari arah ruang keluarga, dirinya tengah menonton acara di televisi. Keysa tersenyum kala melihat sang putra yang tengah berlari menghampiri dirinya. "Aduh jagoan Mama, gimana jalan-jalannya, seru? Keenan senang?" Tanya Keysa kala Keenan sudah berada di atas pangkuannya. "Seyu Mama, Keenan juga senang, Mama sih nggak ikut, kayao Mama ikut pasti lebih seyu yagi" ucap sang putra dengan gayanya. Keysa mengembangkan senyuman di bibirnya. "Hm, lain kali kita jalan-jalan lagi ya, mama janji nanti mama ikut temenin Kee main!" Ucap Keysa kepada putranya, membuat sang putra berjingkrak kesenangan. "Sekarang Keenan mandi dulu yuk!" Ajak Keysa kepada putranya. Dan di balas anggukan kepala oleh Keenan, dengan ekspresi wajah yang menggemaskan. "Ma, Bel, Key ke atas dulu ya, mandiin Keenan" pamitnya kepada sang ibu dan sahabatnya. Rosa tersenyum dengan kepala yang di anggukan, begitu pun dengan Bella, wanita itu mengangkat ibu jarinya. Setelah kepergian Keysa dan Keenan, Rosa menuju dapur untuk menyimpan makanan yang tadi di beli sedangkan Bella, dia berjalan menuju kamar tamu untuk membersihkan tubuhnya pula. Makan malam pun tiba, Rosa di bantu oleh Keysa dan Bella menyiapkan makan malam mereka, sedangkan Keenan, anak kecil itu sudah terduduk di atas kursi makan melihat aktifitas yang dilakukan orang dewasa. "Ayok, kita makaan!" Seru Bella saat makana sudah tersaji di atas meja makan semua. Lantas mereka pun menyantap makan malam mereka, dan Keenan dia memang sudah terbiasa untuk makan sendiri tanpa harus di suapi oleh sang mama, meskipun akan ada banyak sisa makanan yang bercecer di atas meja makan, namun itulah pelajarannya, dengan berjalannya waktu Keenan akan menjadi lebih rapih dan terbiasa nantinya untuk makan sendiri tanpa harus di suapi. Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga, Keenan menunjukan beberapa mainan baru kepada mamanya, setelah itu dia pun asik bermain sendiri dengan mainan barunya. "Tadi ada seorang pria datang ke rumah" ucap Keysa membuat atensi Rosalind dan Sifabella teralihkan kepadanya. "Pria? Cari siapa?" Tanya Bella. Keysa menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Bella, "Cari aku dan Keenan" Bella mengkerutkan keningnya begitu pun dengan Rosa, "Maksud kamu apa nak?" Tanya sang ibu. Keysa menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Dia adalah pemilik mobil yang membuat mobil Mas Rei dan Arsen kehilangan kendali hingga kecelakaan" ucap Keysa lebih tenang dengan sorot mata yang tenang pula. Rosa menatap Bella, begitu pun dengan wanita muda itu yang juga menatap Rosa. "Dia ingin meminta maaf atas kesalahannya, hingga mengakibatkan Mas Rei meninggal dunia, dan juga Arsen yang mengalami koma" ucapnya. "Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya sang ibu yang merasa khawatir dengan putrinya. "Kenapa lo gak hubungin gue sama ibu tadi!" Cerca Bella, membuat Keysa menyunggingkan senyumannya. "Lalu, apa yang kamu katakan kepada pria itu nak? Apakah kamu memaafkannya?" Tanya sang ibu Rosa dengan sangat hati-hati, Keysa menatap sang ibu dengan raut wajah datarnya. Sedangkan Rosa dan Bella sudah sangat menanti jawaban Keysa, apakah dia memaafkannya? Atau justru malah memaki dan bersedih kembali. Tidak lama Keysa tersenyum dengan wajah pucatnya dan mata yang sedikit sembab, "Aku memaafkannya bu, mengikhlaskan dan berdamai dengan keadaan adalah hal yang paling tepat untuk saat ini, karena jika pun aku harus marah-marah dan memaki pria itu, aku tidak akan mendapatkan apa-apa, dan tidak akan membuat Mas Rei kembali juga kan" ucapnya membuat Rosa dan Bella terharu mendengarnya hingga kedua mata mereka berembun. "Mungkin dia akan kembali lagi nanti untuk bertemu dengan Keenan" ucap Keysa kembali sambil menatap sang putra. "Keenan?" Beo Bella, membuat Keysa mengangguk-anggukan kepalanya. "Dia ingin bertemu Keenan" "Untuk apa?" Tanya Bella kembali. Keysa mengangkat kedua bahunya dengan kepala yang wanita itu gelengkan. "Ibu senang kamu bisa bersikap seperti itu nak" ucap Rosa kepada snag putri. "In Shaa Allah jika kamu ikhlas memaafkannya, maka kamu sendiri pun akan mendapatkan ketenangan hati, nak!" Lanjut Rosa dengan mata yang menatap sang putri. Keysa pun tersenyum tipis, begitu pun dengan Bella yang tersenyum dan bangga dengan apa yang sahabatnyan ini sudah lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD