3. Sumpah Yang Menjadi Nyata

1574 Words
“Pak Donny belum datang, Mbak?” tanya Avelline sambil tersenyum tipis, berusaha terdengar biasa saja. Resepsionis itu menggeleng, “belum, Mbak. Mungkin sebentar lagi,” ujarnya. Avelline mengangguk pelan, “baik saya tunggu beliau dulu.” Dia membalikkan tubuh dan melangkah ke sofa empuk yang berada tepat di seberang meja resepsionis. Sofa berwarna merah maroon itu terlihat nyaman, namun Avelline duduk dengan punggung sedikit tegang. Dia meletakkan tas kerjanya di samping, lalu menyilangkan tangan di pangkuannya. Matanya menatap kosong ke arah pintu kaca besar di depan lobby. Orang-orang keluar masuk, sebagian terburu-buru, sebagian tampak santai. Dunia terus berjalan, tanpa peduli bahwa ada seseorang yang hatinya sedang retak di dalam gedung itu. Avelline menarik napas lagi. Dia memejamkan mata sesaat, mencoba mengumpulkan kembali fokusnya. Namun suara dentingan lift yang terbuka membuyarkan lamunannya. Lift itu berada tidak jauh dari tempatnya duduk. Entah mengapa, jantung Avelline berdetak lebih cepat. Ada rasa penasaran yang muncul tiba-tiba, perasaan aneh yang sulit dia jelaskan. Apakah itu Zaven? Apakah suaminya akan keluar dari lift itu sekarang? Pikiran itu membuat perutnya mual. Namun, ketika pintu lift benar-benar terbuka, yang muncul bukanlah Zaven. Seorang pria tinggi dengan postur tubuh tegap melangkah keluar. Dia mengenakan kemeja panjang berwarna abu-abu, lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang berotot, namun tidak berlebihan. Sebuah tas selempang hitam bertengger santai di bahunya, seolah dia hendak pergi ke luar gedung. Avelline mengenalnya. Sosok itu adalah Eldiro. Teman kerja Zaven, pria yang pernah dikenalkan kepadanya beberapa waktu lalu. Pria yang selalu terlihat tenang, dingin dan menjaga jarak. Pria yang biasanya hanya mengangguk singkat jika berpapasan dengannya. Namun kali ini berbeda. Pandangan Eldiro bertemu dengan pandangan Avelline. Sejenak, keduanya terdiam. Eldiro tampak sedikit terkejut, seolah tidak menyangka akan bertemu Avelline di lobby pagi itu. Sementara Avelline, entah mengapa lidahnya terasa kelu. Jantungnya berdetak terlalu cepat, sampai-sampai dia bisa merasakannya di telinga. Tatapan Eldiro terasa berbeda. Lebih tajam dan dalam, seolah tidak sekedar melihat, melainkan meneliti. Avelline menelan salivanya kasar. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya tidak nyaman sekaligus bingung. Dia merasa seolah sedang disorot oleh cahaya terang yang terhunus ke arahnya. Eldiro berjalan mendekat. Langkahnya mantap, sepatu kulitnya menghasilkan suara pelan di lantai marmer lobby. Avelline sadar dirinya masih menatap pria itu seperti orang bodoh. Dia ingin mengalihkan pandangan, namun tubuhnya berkhianat. Hingga kemudian, Eldiro tersenyum. Senyum yang tulus, hangat, berbeda dari ekspresi datarnya yang selama ini ditunjukkan pada Avelline. Itu bukan senyum basa-basi, bukan pula senyum normal. Namun senyum itu membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dan lebih manusiawi dibanding tatapan dinginnya selama ini. Avelline terperangah, dia ingin membalas senyum itu, sungguh. Namun, bibirnya terasa kaku seperti membeku. Otot-otot wajahnya tak mau bergerak. Dia hanya bisa duduk terpaku, menatap Eldiro dengan mata sedikit membesar. “Hai,” sapa pria tampan bertubuh tinggi itu. Suaranya begitu rendah dan tenang, namun juga begitu jelas di telinga Avelline meski lobby itu cukup ramai. Eldiro terkekeh kecil melihat ekspresi Avelline. Jelas, itu bukan reaksi asing baginya. Banyak wanita yang bereaksi serupa ketika pertama kali berinteraksi dengannya. Namun avelline berbeda, biasanya wanita itu selalu tenang dan tampak profesional serta tidak pernah menunjukkan ketertarikan apa pun. Dan justru hal itulah yang membuat senyum Eldiro kian lebar. “H-hai,” balas Avelline, suaranya terdengar sedikit bergetar meski dia sekuat tenaga menahan diri agar tetap tenang, “mau ... mau pergi?” tanyanya terbata. Pertanyaan bodoh. Dia tahu itu. Namun itu lah satu-satunya kalimat yang berhasil keluar dari mulutnya saat ini. “Iya, duluan ya,” ucap Eldiro ringan. Dia melambaikan tangan kecil ke arah Avelline. Astaga, dia tersenyum lagi. Senyum yang membuat d**a Avelline terasa hangat sekaligus aneh. Sesuatu yang seharusnya tidak dia rasakan. Dia adalah wanita bersuami. Dia adalah istri Zaven. Dan pria itu adalah teman kerja suaminya. Namun mengapa jantungnya berdebar seperti ini? Avelline masih duduk terpaku, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil tanpa sadar. Dia mengikuti langkah Eldiro dengan pandangan hingga pria itu keluar lobby dan masuk ke dalam mobil perusahaan yang telah menunggunya. Dan mobil itu perlahan melaju pergi. Namun Avelline masih tersenyum, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia bahkan tidak menyadari bahwa seseorang telah berdiri tepat di hadapannya. “Kamu ngapain senyum sendiri?” Suara berat itu membuat Avelline terlonjak kaget. Dia hampir berdiri terlalu cepat hingga lututnya membentur meja. “Ah!” serunya pelan. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai menipis di bagian depan. Kemejanya rapi, dasinya terpasang longgar. Wajahnya terlihat santai, dengan senyum geli di bibirnya. “Pak Donny! Sejak kapan bapak berdiri di sini?” tanya Avelline sambil berdiri tegak. Pak Donny terkekeh, “sejak panggilan pertama tadi.” Avelline membelalakkan mata. “Panggilan?” “Ini sudah panggilan kelima, Avelline,” lanjut pak Donny sambil tertawa kecil, “kamu lagi ngelamunin apa sih?” Wajah Avelline memanas. Rasa malu langsung menjalar sampai ke ujung telinganya yang spontan memerah. “Maaf Pak. Saya ... enggak dengar.” Pak Donny menggeleng santai. “Sudah, ayo.” Dia berjalan menuju lift. Avelline mengikutinya dengan langkah canggung. Sepanjang perjalanan menuju ruang rapat. Pikiran Avelline masih kacau. Wajah Eldiro terus terlintas. Senyumnya, tatapannya. Dia menggeleng pelan mencoba mengusir bayangan itu. “Aku kenapa sebenarnya?” gumamnya dalam hati. Di balik profesionalitasnya, Avelline tidak menyadari satu hal. Bahwa pertemuan singkat di lobby itu bukanlah kebetulan biasa. Itu adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah arah hidupnya. *** Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian di kantor itu, sejak Zaven pulang kembali ke rumah mereka dengan wajah yang tidak lagi sama. Avelline bisa merasakannya bahkan tanpa perlu banyak bicara. Ada sesuatu yang hilang dari sorot mata suaminya. Bukan hanya amarah yang biasa muncul, melainkan juga rasa takut yang dalam dan kegelisahan yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Zaven menjadi lebih pendiam. Dia jarang menanggapi pembicaraan, jarang pula menatap mata Avelline terlalu lama. Sebagaian besar waktunya dihabiskan dengan menunduk, termenung, atau mengurung diri di kamar. Tidak ada lagi suara tinggi, tiada lagi perdebatan sengit sperti sebelumnya. Namun justru keheningan itu terasa lebih menyesakkan. Avelline memilih untuk tidak mengusiknya. Dia terlalu lelah untuk bertanya. Terlalu letih untuk menggali masalah baru yang mungkin akan kembali melukai dirinya. Dia membiarkan Zaven dengan dunianya sendiri, sementara dia mencoba bertahan dengan dunianya. Dunia yang berputar di antara pekerjaan, rumah dan juga putra tunggal mereka, Kaivan. Malam itu, mereka bertiga duduk di ruang tamu. Televisi menyala menampilkan acara anak-anak yang penuh warna dan suasana riang. Kaivan, anak lelaki mereka yang baru berusia tiga tahun, duduk di antara mereka. Tubuh kecilnya tak bisa diam. Tangannya menunjuk ke layar, mulutnya terus berceloteh dengan suara polos yang tak putus-putus. “Mama itu mobilnya warna merah!” “Ayah, lihat kartunnya jatuh!” Avelline tersenyum kecil, meski pikriannya melayang jauh. Dia berusaha menjawab setiap celoteh Kaivan. Meskipun terkadang kalimat anak itu terlalu cepat dan terlalu panjang. Kaivan sedang berada di usia paling aktif, penuh rasa ingin tahu yang besar. Avelline bersyukur, setidaknya ada satu hal di rumah itu yang masih murni. Zaven duduk di sisi lain, menatap televisi tanpa benar-benar melihatnya. tangannya menggenggam ponsel, sesekali jari-jarinya bergerak gelisah. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, seolah dia sedang menahan sesuatu yang ingin keluar dari mulut namun tak berani dia ucapkan. Tiba-tiba ponsel di tangannya berdering. Zaven terlonjak kecil, seolah suara itu memecahkan pikirannya. Dia melihat layar, lalu tanpa ragu langsung mengangkat panggilan itu. “Apa?!” Nada suaranya terdengar cemas sejak kata pertama keluar. Avelline menoleh, dia yakin ada sesuatu yang tidak beres. “Terus sakit apa? Kok enggak dirawat?” tanya Zaven sambil berdiri dari sofa. Dia mulai mondar mandir dengan gelisah. “Oke ... oke aku ke sana sekarang.” Panggilan itu ditutup. Zaven berdiri mematung sejenak, lalu menatap Avelline dan Kaivan secara bergantian. Wajahnya terlihat pucat. “Kenapa?” tanya Avelline pelan, perasaan tidak enak tiba-tiba menjalari dadanya. “Ibu sakit,” jawab Zaven singkat.” Avelline langsung bangkit berdiri. Tanpa banyak kata, Zaven bergegas ke kamar untuk berganti pakaian. Avelline mengikuti, tangannya sudah meraih jaket Kaivan. Tidak ada waktu untuk bertanya lebih jauh. Naluri sebagai menantu dan istri mendorongnya untuk segera bertindak. Tak sampai lima menit mereka sudah berada di atas motor, mereka menuju rumah orang tua Zaven. Malam mulai turun, lampu-lampu jalan menyala satu persatu. Avelline memeluk Kaivan erat, mencium rambut anak itu yang mulai mengantuk. Perjalanan terasa lebih cepat dari biasanya. Begitu mereka sampai, suasana rumah orang tua Zaven tampak ramai. Beberapa tetangga berdiri di teras. Sebagian duduk di ruang tamu. Bisik-bisik terdengar, wajah-wajah khawatir menyambut kedatangan mereka. Firasat buruk langsung menghantam d**a Zaven. Dia bergegas masuk, menerobos kerumunan, dan mendapati ibunya terbaring lemah di atas kasur yang digelar di ruang tamu. Wajah wanita tua itu pucat, matanya terpejam, napasnya pelan. Di sisi lain, adiknya Adi duduk dengan wajah kusut. Istri Adi yang sedang hamil tua duduk di dekatnya, tampak cemas. “Bagaimana ibu?” tanya Zaven dengan suara bergetar. Adi menggeleng pelan, “aneh Bang. Kata dokter enggak ada penyakit apa-apa, tapi dari pagi ibu lemas. Jalan saja harus dipapah.” “Terus kenapa enggak dirawat?” suara Zaven meninggi, emosinya naik tanpa dia sadari. Dia duduk di samping ibunya, menggenggam tangan keriput itu dengan erat. “Enggak bisa,” jawab Adi, “enggak ada indikasi medis. Tapi tadi Uwak kesini,” imbuhnya. Zaven menoleh tajam, dia tahu Uwak yang dimaksud oleh Adi adalah salah satu kerabatnya yang bisa dibilang sesepuh di daerah tempat tinggal mereka, dia disegani dan bisa dibilang memiliki kelebihan khusus. “Uwak ... ngomong apa?” tanya Zaven risau. Edo terdiam sejenak, lalu berkata lirih, “dia bilang ... ibu kemakan sumpah!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD