He is Sean Gelther

2141 Words
Tawa Daniel pecah mendengar cerita Bella. Ia tidak menyangka ulah  Tristan, membuat Bella geram sekaligus malu. Sebenarnya ia sudah mengetahui dari Hans beberapa menit yang lalu, namun setelah mendengar cerita kenakalan Tristan versi Bella, tawanya tak bisa ia tahan. Ia tertawa terbahak-bahak dengan sebelah tangan memegang perut tanpa mempedulikan Tristan yang tertidur di dalam kamar yang pintunya terbuka lebar. Sebagai istri sekaligus ibu dan saksi kenakalan Tristan, kejadian siang tadi sama sekali tidak membuatnya tertawa. Ia pun memasang wajah datar menatap Daniel yang di kedua sudut matanya basah. "Kau puas? Anakmu sudah melecehkan perempuan muda yang seharusnya pantas dipanggil 'Tante' tapi dia meremas d**a perempuan itu seperti kau meremas dadaku. Apa itu yang selama ini kau ajarkan pada Tristan?" Seperti biasa, di saat seperti ini Bella akan berubah menjadi Polisi dadakan yang siap menginterogasi Daniel hingga ia lelah. Seperti biasa juga, Daniel menggeleng dan menenangkan Bella. Ia meletakkan kedua tangan di bahu Bella dan bicara lembut, selembut  cotton candy. "Sayang, kau jangan ambil serius ulah dia. Aku memang banyak mengajarkan hal pada Tristan tapi tidak untuk meremas d**a perempuan. Lagi pula dia masih kecil. Umurnya baru enam bulan, Bella. Dia hanya menyangka itu dadamu dan mungkin saat itu dia sedang haus. That's all!" Sebijak mungkin Daniel memberi pengertian pada Bella, walau paham istrinya menanggung malu. Tapi kecemasan Bella terlalu berlebihan. Mendengar cerita Hans, setelah Tristan meremas d**a wanita itu, Hans meminta maaf. Tapi yang terjadi wanita itu tertawa dan memaklumi. Bahkan kembali mencium Tristan. Bella mendengus, mencoba tenang tapi gambaran Tristan yang meremas d**a wanita itu terus melekat. Tatapan m***m Tristan tidak beda jauh dengan pria di depannya. "Baiklah aku memaklumi dia menganggap d**a perempuan itu seperti dadaku. Tapi aku tegaskan padamu, Dan." Mengembangkan jari telunjuk ke d**a Daniel. "Berhenti kau mengajarkan dia menggoda wanita. Aku tidak ingin Tristan berpikir m***m sepertimu. Cukup dirimu saja," tegasnya lalu meninggalkan Daniel yang melongo terdiam ke dalam kamar Tristan. Daniel menunjuk wajahnya sendiri. "Aku berpikir m***m? Bukankah itu tandanya aku normal?" Sambil memiringkan kepalanya lalu berlari menyusul Bella. ❤️❤️❤️ 'Apa kabar, Bella? Bagaimana rasanya punya anak? Pasti repot kan?'  Kalimat itulah pembuka percakapan Bella bersama mantan atasannya, Dodi di sebuah aplikasi pesan. Setelah membaca pesan itu, dahi Bella berkerut sambil bergumam. "Tumben-tumbenan dia chat aku? Apa dia lagi waras?" gumamnya yang tahu setelah sama-sama berhenti bekerja, pria paruh baya itu jarang menghubunginya baik menelepon atau mengiriminya pesan. Yang Bella tahu, Dodi tinggal di Bali setelah berhenti bekerja. Pria yang terkenal tegas saat bekerja itu memiliki penginapan sederhana di Pulau Dewata. Menurut Bella, ia tidak punya urusan dengan Dodi lagi. Bahkan semua hutangnya saat bekerja untuk membeli produk terbaru perusahaan mereka, sudah ia bayar lunas. Termasuk seporsi soto mie Bogor saat ia kelupaan membawa dompet. Tapi tidak dengan hutang pulsa lima ribu. Bella menepuk dahinya pelan dan sempat menjadi perhatian Tristan yang duduk di kursi kebesarannya. Tak lama bocah itu menepuk dahinya sendiri hingga kepalanya berayun ke belakang lalu tertawa. Bella yang duduk bersandar di sofa, menggeleng dan berdecak. " Itu tidak boleh ya, Sayang. Nanti kepala kamu sakit." Ia mengingatkan Tristan dengan tatapan lembut. Walau Tristan masih berusia enam bulan, bocah itu cerdas. Ia cepat 'menangkap' semua yang ada di sekitarnya, baik hal yang baik maupun buruk. Dan Tristan memahami Bella, ibunya yang kerap marah-marah tidak jelas. Terlebih lagi setelah ayahnya, Daniel membawanya jalan-jalan.  Yang Tristan pahami, ayahnya selalu membuat Bella usil. Setelah berhasil, lengkingan teriak Bella memenuhi ruangan mengalahkan teriakannya ketika popoknya basah atau perutnya kelaparan. Tapi saat ini keadaan aman. Bella menatapnya penuh kelembutan setelah menasehati dengan bahasa yang tidak ia pahami. Yang ia bisa hanya mengangguk dan mengatakan, "Mama..mama.." Bella pun mendekat, mencium pipinya lalu mengatakan, "Good Boy. Kalau besar jangan kayak Papa mu ya, Nak," gurau Bella yang secara tidak langsung mengajarkan Tristan. Karena Tristan hanya bisa menggeleng, mengangguk dan mengoceh tidak jelas. Ia memberi jawaban, menggeleng kepalanya dengan raut wajah polos. Melihat respon Tristan, Bella menatapnya datar. "Maksud kamu mau ngikutin Papa?" Lalu ia memutar kedua matanya cepat. "Oh Lord. Apakah dua orang usil dalam hidupku tidak cukup?" Ia pun kembali duduk bersandar dan pasrah. Dan lagi-lagi tawa Tristan pecah melihat Bella. Ia senang membuat Bella kelimpungan dengan ulahnya yang sama usil dengan ayah dan pamannya yang tampan. Terlebih lagi melihat Bella mengejar Daniel hanya untuk mencubit. Dan tentu saja berakhir dengan adegan yang tidak boleh ia lihat. Bella mendengus menatap Tristan lagi. "Semoga kau tidak seusil ayah dan pamanmu." Senyum Tristan memudar. Kali ini ia duduk bersandar menatap datar Bella yang tertawa puas. Tawa Bella terhenti setelah mendengar notif pesan. Ia pun meraih ponsel dan membaca nama si pengirim.  Dodi kembali mengiriminya pesan. 'Kamu sudah mendapat kabar tentang perusahaan?' Bella membaca pesan itu dengan suara pelan lalu menggeleng dan mengeluh. "Apa menjadi Owner penginapan menjadikan dia pria tua yang hobi menggosip?" Kedua jarinya pun membalas pesan Dodi. 'Kabarku baik dan sibuk menjadi Mahmud, Pak. Aku lost contact sama teman kantor. Ada apa?' Tak berselang setengah menit, Dodi membalas lagi. 'Aku dengar akan ada perwakilan dari kantor pusat yang mengganti posisi Mr. Mike dulu.' Mata Bella membulat dan terkejut. Dengan cepat kedua ibu jarinya menari di atas layar. 'Apa?! Benarkah?!' 'Ya.' Dodi membalas cepat. 'Aku dengar dia lebih ganteng dari Mike.' Bella berdehem. Lalu kembali mengetik lagi. 'Siapa namanya, Pak?' Dodi tersenyum lalu membalas. 'Sean. Namanya Sean Gelther.' ❤️❤️❤️ Pria bule tampan dengan bola mata berwarna kelabu, berambut coklat dengan tinggi badan seratus delapan puluh centimeter dan berbadan  tegap cukup menyita perhatian  karyawan gedung berlantai tujuh itu. Terutama para karyawati perusahaan Hem&Hem. Perusahaan tempat Bella pernah bekerja. Kehadiran pria yang di panggil Sean itu sebagai pengawas di Divisi Distributor produk yang mencakupi hal-hal yang biasa supplier kerjakan. Sama seperti yang pernah Mike lakukan, hanya saja Sean memiliki kewenangan lebih dari pada Mike. Perbedaan Mike dan Sean sudah terlihat sejak kedatangan pertamanya di kantor itu. Jika Mike humble pada semua karyawan dan murah senyum. Sean berbeda. Sean Gelther memang terkenal tegas sebagai pemimpin. Dan ketegasan itu tidak berkurang di Indonesia. Terlebih lagi setelah mengetahui daya beli di wilayah Jabodetabek turun sebanyak sepuluh persen setelah supplier yang bernama Bella Orzo resign, membuatnya meradang. Di hari pertamanya bekerja, Sean sudah memaki beberapa supplier. Terutama pada pengganti Bella yang bernama Marissa, supplier baru yang di rekrut dari bagian Akunting. Karena tidak sanggup, Marissa meminta dirinya kembali ke bagian Akunting lagi, itupun setelah ia berhasil melobi bagian HRD. Kini posisi yang biasa Bella handle, kosong. Tidak memiliki supplier tetap untuk mengurus wilayah itu. Bukan perusahaan tidak memiliki supplier hebat yang pintar melobi seperti Bella, kalaupun ada itu hanya ditugaskan untuk keperluan di luar kota. Akhirnya perusahaan terpaksa membuka lowongan kerja. Beberapa kandidat sudah di tangan HRD namun setelah mereka mengadakan wawancara, lagi-lagi Sean tidak menemukan kandidat yang tepat untuk pekerjaan itu. Namun, demi kelancaran proses distribusi produk pada beberapa showroom dan outlet di Department store, Sean hanya menerima dua orang saja. Dan berharap mereka memenuhi keinginannya. Menjadi supplier hebat dan bisa memenuhi kriterianya yang menuntut mendapat hasil yang bagus dan kepandaian dalam bekerja.  Setelah mengetahui ketegasan dan 'kekejaman' Sean, para karyawan menjadi segan. Mereka biasa menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengan pria yang juga memiliki usaha toko kue di Norwegia itu.  Seperti sekarang. "Jadi itu yang namanya Mr.Sean? Pengganti Mr.Mike dari kantor pusat kan?" bisik salah satu karyawati berambut sebahu pada kawannya yang berjalan beberapa meter di belakang Sean. Aroma parfum mahal Sean menguap dan mereka mencium jelas aroma maskulin yang membuat wanita manapun ingin dekat dengannya. Itupun jika belum mengetahui ketegasan Sean sebagai atasan. Kawan wanita tadi yang mengenakan hijab, mengangguk setuju. "Iya. Dia ganteng dan sempurna tapi…" Langkah kaki mereka terhenti, melihat Sean yang tiba-tiba  berbalik. "Tapi apa?" tanya Sean yang reflek membuat mereka menegakkan tubuh dan salah tingkah. Seperti maling ayam kepergok Hansip. Mereka tertawa kecut dan saling pandang. Berpikir sambil mencari jawaban. "Anda baik, Mister." Salah satu mereka menjawab lalu terkekeh sambil menyikut kawan di sebelahnya. Tak mau kalah dan mencari aman, kawannya membalas. "Iya, Mister. Dan anda wangi." Ia pun terkekeh lalu menggandeng kawannya cepat. "Maaf, Mister. Kami duluan."  Mereka setengah berlari mendahului Sean dengan kepala tertunduk menuju lift yang pintunya sudah terbuka. Tiba di lift mereka bergegas menekan tombol close lalu bernafas dengan lega. "Dia itu pengawas apa cenayang sih? Kok bisa tahu apa yang kita omongin?!" Keluh salah satu dari mereka sambil bersandar di dinding lift dengan nafas terengah-engah. Kawannya menggeleng lalu menjawab, "Gak tahu. Gue baru tahu ternyata dia bisa bahasa Indonesia! Sumpah dia bikin gue mau pingsan!" Ia membungkuk dengan kedua tangan di lutut. Detik kemudian pintu lift terbuka dan melihat Sean menyeringai lalu mereka berdua berteriak karena kaget. ❤️❤️❤️ Selain membaca novel, menonton televisi dan mengasuh Tristan, Bella juga merangkap menjadi Ibu Rumah Tangga yang serba bisa. Ia bisa menyalakan robot vacuum cleaner untuk membersihkan lantai, memasak masakan enak tiga kali dalam seminggu, pergi ke binatu membawa cucian kotor segunung dan menghabiskan uang Daniel ke supermarket. Apakah Bella bahagia dengan kehidupannya sekarang?  Tidak. Apa yang terjadi dengannya sekarang membuat banyak timbunan lemak di sekitar perut, paha dalam, lengan atas dan pipinya menjadi chubby. Sebisa mungkin Bella workout di Gym. Tapi karena Daniel mengetahui Gym itu dipenuhi pria tampan, memiliki tubuh kekar dengan d**a bidang dan otot perut yang menonjol seperti roti sobek, dan mereka masih muda menawan, Daniel melarang. Ia khawatir para pria itu kepincut dengan pesona Bella yang masih cantik walau bobot tubuhnya bertambah sepuluh kilogram. Karena Daniel memahami dan ingin tubuh Bella seperti dulu, langsing dan seksi. Ia menyuruh Bella untuk workout di rumah ayahnya yang memiliki alat fitness lengkap. Mulai dari Treadmil, Dumbbell, Barbell, Leg press Machine hingga sepeda statis dan yang lainnya. Sebagai istri yang baik, awalnya Bella menolak. Ia menolak workout di sana mengingat Hans sering berkunjung dan kerap mengganggu ataupun menculik Tristan lalu membawanya ke Mall.  Bella khawatir pikiran Tristan terkontaminasi ajaran ataupun ucapan Hans yang tak jauh berbeda dengan Daniel. Namun peribahasa mengatakan, 'Darah lebih kental daripada air', dan gen 'usil' mereka memang menurun di Tristan. Ia pun tidak mencoba menyalahkan Daniel dan Hans. Ia kini lebih menerima nasibnya yang dikelilingi tiga mahluk usil. Salah satunya yang ada di samping Bella. Hans terus memandangi Bella dari samping sambil meneguk kopi dan duduk bersandar.  Bella yang berlari di Treadmil dengan mode incline. Atau mode yang membuat Bella seakan sedang berlari di lintasan penuh tanjakan, membuat nafas Bella terengah-engah, baju olahraga nya yang berupa tanktop dan celana legging basah karena keringat. Sudah setengah jam Bella workout, setengah jam juga Hans melihatnya santai. "Apa kau tidak ada kerjaan lain selain memperhatikan ku seperti personal trainer, Hans?" Bella melirik Hans meneguk kopi yang tersisa sedikit. Suara tawa kecil terlontar dari mulut Hans. "Apa aku tidak boleh melihatmu?" Hans balik bertanya, menaruh cangkir yang sudah kosong itu di dekat kakinya. Sebelah tangan Bella menekan tombol dan membuat alat itu berhenti secara perlahan. Ia meraih handuk kecil lalu menyeka keringat berawal dari wajah hingga ke leher sambil memandang Hans. "Aku tidak melarangmu melihatku. Aku.." Nafasnya terengah-engah. "Hanya heran kau terlihat lebih santai daripada Daniel."  Yang Bella ucapkan memang benar. Daniel selalu berangkat setengah jam dari biasanya dan pulang malam dengan alasan lembur. Sebelum menjawab, Hans seperti tadi. Ia tertawa kecil dan paham Bella yang penasaran dan berbeda dengan Daniel. "Itu karena Daniel yang memegang bagian Desain produk dan produksi, Bell. Dia harus punya stok desain dan barang untuk tiga bulan ke depan. Sedangkan aku.." "Kau hanya mengatur orang bawahanmu saja. Mengatur Daniel," sela Bella yang pernah merasakan Daniel menjabat sebagai Manajer tapi tidak pernah terlihat santai seperti Hans. "No." Hans menggeleng. "Kebetulan kau sedang melihatku sedang santai saja, Bell. Tapi tidak untuk bulan depan." "Kenapa? Apa kau mau ke Swiss lagi?" "Bukan. Bulan depan kami akan bekerja sama dengan produk dari Australia. Dan..aku harap kau tidak kaget melihat Daniel lembur setiap hari," "Oh ya? Apa itu berlaku pada Daniel saja?" "Tidak. Beberapa bagian penting akan sibuk, begitu juga denganku." Sebelah sudut bella terangkat ke atas. "Good. Itu berarti kau tidak ada waktu untuk mengusikku dan Tristan," ucapnya lalu tertawa puas meninggalkan Hans menuju kolam renang. Dahi hans berkerut. "Mengusik kalian?" Ia pun bangkit mengejar langkah Bella yang sudah berada di taman belakang namun langkahnya terhenti setelah mendengar dering ponsel Bella di atas tombol panel treadmill. Hans meraih ponsel itu dan membaca nama penelpon. Namun sayangnya tidak tersimpan di kontak. Ia pun menghampiri Bella yang sedang duduk di kursi malas, memandangi taman dan kolam renang di depannya. "Ini." Hans menyodorkan ponsel. Bella tertegun, tersenyum tipis. "Thanks." Tanpa menunda ia mengangkat panggilan walau nomor asing. "Hallo?" Bella membuka percakapan seramah mungkin seperti petugas minimarket. Tak lama seorang pria membalas. "Bella Orzo?" "Ya. Itu saya. Ini siapa ya?" Bella mengernyit mendengar suara berat dan lantang itu. Terdengar asing. Pria itu tersenyum lebar. "Perkenalkan saya Sean. Sean Gelther." "Apa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD