"Bisa kita bertemu? Ada sesuatu yang mau kubicarakan denganmu."
Karena kalimat ajakan itulah Bella menerima ajakan Sean Gelther di sebuah Coffee shop dekat gedung kantor perusahaannya dulu.
Coffee shop yang pemandangannya gedung-gedung bertingkat dan kendaraan lalu lalang.
Terlihat membosankan memang. Namun kedai kopi itu paling terbaik diantara Coffee shop lain. Selain itu Bella sangat menyukai kopi latte buatan mereka, setidaknya bisa menghilangkan rasa kantuk karena menemani Tristan yang akhir-akhir ini berkurang jam tidurnya.
Pikir Bella, pria bernama Sean Gelther itu, pria bertubuh tambun, berbadan tinggi besar dan brewokan. Seperti bule yang biasa ia temui sewaktu di kantor pusat di New York City dulu.
Tapi kali ini pikirannya meleset. Setelah bertemu dengan pria itu, ia sempat mengerjapkan mata. Mencoba tersadar dari pria yang ketampanannya melebihi Mike, lebih kekar dari Hans dan memiliki senyum lebih manis dari Daniel.
Paket sempurna!
Sean seperti paket ayam ukuran combo yang ada di restoran cepat saji. Ukuran besar, lezat dan lengkap. Lebih tepatnya ia tampan, tinggi dan bertubuh kekar.
Meskipun begitu, Bella tidak boleh terpana terlebih lagi mendengar tawaran Sean yang mengajaknya untuk kembali bekerja sebagai Supplier.
Dengan terpaksa Bella pun menjawab, "Saat ini aku belum terpikir untuk bekerja lagi, Sir. Aku memiliki anak usia enam bulan. Dia masih membutuhkan Asi dan perhatianku sebagai ibu. Dan masa itu tidak akan terulang lagi. Itu sebabnya aku resign," jelas Bella, tak lama asap rokok keluar dari lubang hidung dan mulutnya. “Apa anda sudah menikah?” Tangan Bella menjentikkan ujung rokok ke dalam asbak.
“Belum.” Sean menjawab singkat. Walau Sean belum menikah, ia memahami maksud Bella. Namun setelah mendengar cerita Mike, kinerja Bella yang tidak bisa diremehkan itu, membuatnya penasaran. Itu sebabnya ia melobi Bella untuk bergabung kembali.
"Kau bahagia menjadi Ibu Rumah Tangga?" tanya Sean memastikan ucapan Bella tadi.
Menjawab pertanyaan Sean sama seperti menanyakan kecintaannya pada kopi di siang hari. Nikmat namun terkadang menimbulkan rasa sakit. Ia pun menjawab, "Tidak juga." Tangannya menjentikkan ujung rokok ke dalam asbak lagi. "Aku melakukannya karena anakku istimewa."
"Maksudmu?"
Kediaman Albert Wijaya
Meg mengambil Tristan dari tangan Babysitter. Ia mengangkat Tristan tinggi-tinggi dan mengundang gelak tawa bocah itu.
“Anak siapa ini?Anak Bella atau Daniel?” godanya, melihat Tristan yang hanya bisa tertawa geli.
Meg menggendong dan membawanya menuju kamar Tristan, kamar yang memang dikhususkan untuk kedatangan Tristan di rumah Albert. Saat ini Tristan adalah bocah kecil layaknya emas dua puluh empat karat. Banyak dicintai namun terkadang membuat kehebohan sejagad raya. Seperti saat ini.
Setelah tiba di ranjang, Meg meletakkan Tristan tepat di sampingnya lalu mereka berbaring. Meg merogoh ponsel dari saku hot pants nya setelah mendengar nada dering ‘Tourner dans le vide’ nyaring berbunyi hingga memancing Tristan menganggukan kepala berulang kali seakan mengikuti irama musik itu yang mengalun cepat.
“Hallo, Beib.” Senyum Meg mengembang mengetahui Austin yang menelponnya sekarang. Namun tidak pada Tristan yang menghentikan anggukan kepalanya dan menatap Meg serius.
“Dia Austin,” Meg berbisik ke arah Tristan sambil menunjuk ponsel yang melekat di sebelah telinganya. Seakan paham, Tristan tersenyum lebar dan mengoceh menggunakan bahasa bayi.
“Kau bicara dengan siapa?” tanya Austin dengan nada cemburu dari seberang sana yang mendengar jelas bisikan Meg menyebut namanya tadi. Ia yakin Meg sedang bersama seseorang.
Merasa Austin sedang mencurigainya, Meg tertawa. “Tristan. Calon keponakanmu. Kau tidak percaya? Nih..” Ia menyodori ponsel itu depan mulut Tristan yang tak lama mengoceh.
“Mama..mama..mama.” Hanya itu kepandaian Tristan. Bahasa orang dewasa yang bisa ia kuasai, selebihnya bahasa bayi, tertawa dan menangis.
Tawa Austin pun pecah setelah tahu sudah mencemburui seorang bayi berusia enam bulan. Bayi yang menjadi pemicu untuk cepat menikahi Meg tapi Janice belum memberi restu hubungan mereka menuju jenjang pernikahan. Namun Austin tidak menyerah, ia terus bersikap manis pada Janice yang memang sulit untuk ia dekati. Sekalipun sudah membawakannya beberapa kue lezat dan mahal setiap kali bertandang ke rumah Albert.
Tangan Meg kembali melekatkan ponsel di telinganya lagi. “Kau di mana?” Ia menggigit bibir bawahnya, mengingat pertemuan terakhir mereka kemarin hanya sebentar, itupun Janice mengganggunya dengan berbagai alasan. Meminta Austin mengantarnya ke salon dan menyuruh Meg membuat pancake sebagai bekal selama di sana. Sangat menyebalkan.
Karena Austin memahami nada ucapan Meg, ia menahan tawa. “Aku di Bandara.”
“Apa?!” Meg reflek bangkit dan terduduk di ranjang. Ia sempat membuat Tristan terkejut dan merengek. “Stt...stt…” Ia menepuk pelan paha Tristan yang tak lama berhenti merengek.
Meg kembali fokus pada pembicaraannya bersama Austin. “Sedang apa di sana? Dinas?” tebaknya yang tahu Austin selalu dinas lapangan untuk menyelesaikan tugasnya sebagai polisi. Tapi tidak pernah di Bandara.
Austin berpikir sebentar. “Hmm...sedang mencari cewek seksi.” Ia menahan tawa dan berhenti melangkah di depan sebuah kamar yang tertutup.
“Apa?!” Kedua mata Meg membulat. “Kau sudah bosan hidup? Apa kau senang aku ikut dengan Mama ke Paris lalu bertunangan dengan pria tua itu?!” Meg setengah berteriak dan kembali mengejutkan Tristan lagi. Bahkan berhasil membuatnya merengek dan kali ini suara rengekannya melebihi tadi.
Meg cemas, jika Janice mendengar tangisan Tristan, ia dalam keadaan bahaya. Bocah itu sama berharganya dengan bongkahan emas dua puluh empat karat. Ya, Emas.
“Stt…, Tante bukan marah ke kamu. Tapi ke Om Austin,” Ia berusaha menenangkan Tristan. Mengangkat lalu menggendong dengan sebelah tangan walau tangan sebelahnya lagi melekatkan ponsel ke telinga. “Hallo? Kau masih di sana?”
“Ya. Aku bercanda, Sayang,” bujuk Austin. Ia tidak mau Meg ngambek hanya karena gurauannya yang konyol.
“Dasar! Kalau itu beneran, aku--” Ucapan Meg terhenti setelah mendengar suara ketukan pintu. Ia menduga di balik pintu itu Janice yang kedatangannya disebabkan karena teriakan Tristan tadi. “Aku akan menghubungimu lagi nanti.” Sambil berbisik dan dengan tergesa-gesa mematikan panggilan Austin.
Meg meletakan Tristan yang sudah kembali diam di atas ranjang . Ia menaruh ponsel di atas perut Tristan dan tak lama bocah itu mengambil dan memainkan dengan jari-jari kecilnya.
sementara itu, Meg berjalan menuju pintu sambil setengah berteriak. “Sebentar.”
Kedua mata Meg membulat melihat orang yang berdiri dari balik pintu tersenyum dan menyodori sebuah buket yang berisi cemilan dengan aneka coklat. “Austin?” Nama itulah yang terlontar dengan rasa takjub sekaligus tak percaya setelah Austin berhasil membohonginya. Mengaku berada di Bandara tapi faktanya datang dan membawa makanan kesukaannya hari ini.
“Kau mengerjaiku.” Meg mengerucutkan bibir dan bersikap manja. Ia menerima buket itu dan tersenyum lebar.
“Aku kangen,” desis Austin.
Dengan cepat Meg clingak-clinguk melihat keadaan di ruangan itu dan terlihat aman. Ia menarik tangan Austin ke dalam kamar lalu menutup pintu itu cepat. Secepat tangan Meg melempar buket itu ke atas kursi.
Sebagai kekasih, Austin paham. Ia menarik Meg hingga membuat tubuh mereka berdempetan seperti setangkup cheese burger.
Austin tersenyum lebar dan penuh makna. Begitu juga Meg yang reflek membuka tanktop lalu melanjutkan menarik kaos Austin ke atas dan melemparnya ke lantai.
Dengan sigap kedua tangan Austin mengangkat b****g Meg dan membuatnya melingkar di pinggulnya yang kokoh.
Mereka berciuman hingga decapan dari bibir mereka memenuhi ruangan. Namun mereka ceroboh dan melewati sesuatu.
Seseorang sedang mengintai mereka.
Ciuman Austin mengarah menuju leher dan menyusuri kedua d**a Meg yang masih dilapisi bra berwarna merah dengan nafas terengah-engah. Sebelah tangannya membelai punggung Meg dan terhenti di kait bra ketika ponselnya berdering.
Dengan terpaksa Austin menghentikan ciumannya lalu merogoh saku celana dan mengangkat panggilan yang tertulis nama Daniel di layar.
“Hallo, Dan.” Sebisa mungkin Austin menormalkan deru nafasnya. Ia tidak ingin Daniel mengetahui dirinya sedang bersama Meg. Walau Daniel menjadi orang pertama yang mendukung hubungannya bersama Meg. Namun kali ini sepertinya Austin salah, suara makian terdengar dari seberang sana.
“Apa kau sudah gila?! Apa kalian berniat membuat video porno?!” Kalimat makian itulah yang terlontar dari Daniel balasan sapa Austin.
Dengan dahi berkerut, Austin tak mengerti ucapan Daniel. “Video porno?! Apa maksudmu, Dan?!” Sebelah tangannya melepas pegangan di b****g Meg dan membiarkan Meg turun dari gendongannya dan membiarkannya berdiri di depannya sambil mengernyit.
“Kau bersama Meg sekarang kan?” tuduh Daniel penuh emosi.
Austin tidak dapat berbohong. “Ya. Ada apa?” Ia menjadi penasaran dengan sikap Daniel yang menjadi kritis seperti Janice.
“Aku tidak masalah kalian bercinta atau berciuman. Tapi tidak bisakah kalian tidak merekamnya secara live di i********:?!”
“i********:?!” Kedua mata Austin membulat. “Merekam? Secara live?”
“Ya,” sambung Daniel cepat. “Aku tahu Meg pakai bra berwarna merah dan boxermu CK bukan?”
“Ya.” Austin mengangguk lemah. “Tapi kau tahu dari mana? Wait?!” Ia melirik Meg yang sejak tadi terheran. “Mana ponselmu?”
“Eh?” Meg mengernyit lagi. “Ponselku…” Ia berbalik lalu berteriak melihat ponselnya berdiri tegak di atas perut Tristan dan mengarah tepat ke arah mereka.
“Tristan!!!”