Beberapa pasang mata menatap Tristan laksana seorang terdakwa yang duduk di kursi kebesarannya atau di Boosters seat. Sebuah kursi berbahan plastik yang memiliki sandaran dan di depannya terdapat pembatas dan mainan.
Setelah peristiwa kemesraan Meg dan Austin beredar secara live di i********: beberapa jam yang lalu, Janice meradang. Ia memarahi Meg yang ceroboh sudah memberikan ponsel pada Tristan.
Sebagai nenek, Janice memahami kesalahan sepenuhnya oleh Meg dan Austin yang tidak menyadari kehadiran bocah itu di kamar. Lebih tepatnya, merekalah yang berada di kamar Tristan.
Janice memarahi Meg menggunakan bahasa Perancis. Walau Austin tidak paham karena dirinya bukan blasteran Prancis melainkan Belanda, ia memahami kekesalan Janice. Dan ia tetap bertanggung jawab sebagai pria sejati.
“Aku akan mengadakan klarifikasi secara live bersama Meg.”
Ucapan Austin memutus pandangan Albert, Janice, Hans dan Debbie dari bocah yang sedari tadi duduk bersandar dan asik memainkan mainan yang melekat di kursinya itu.
“Apa?”
Semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Austin. Termasuk Janice yang reflek mengernyit. “Apa maksudmu? Kau mau mengaku di depan orang banyak jika pelaku yang merekam video mesra kalian adalah Tristan?!” tuduh Janice tidak setuju. Sesalah apapun Tristan, bocah itu luput dari jeratan hukum. Yang dewasalah yang salah. Lagi pula Tristan baru berumur enam bulan. Ia bahkan belum bisa berdiri, berjalan dan fasih bicara. Di mata Janice, kejadian ini murni kesalahan dan kecerobohan mereka berdua. Bukan cucu kesayangannya.
Mendengar tuduhan Janice, Austin menggeleng. “Tentu tidak, Tante. Aku akan mengaku ini murni kesalahanku. Dan aku sekalian ingin memberitahu sesuatu pada mereka.”
“Apa?” sela Meg dengan dahi berkerut. “Kau ingin mengatakan apa?” Suaranya terdengar tak semangat. Ia menakutkan sesuatu buruk terjadi dengan hubungannya hanya karena insiden tadi. Ia takut Austin menyerah dan hubungan mereka berakhir.
Austin meraih tangan Meg. Menghela nafas berat, seakan sulit mengatakan kalimat itu. “Ini tentang hubungan kita, Meg.” Ia menatap Meg dengan wajah melas di depan mereka.
“Katakan padaku, apa yang mau kau katakan, Austin?!” Meg bangkit. Ia sedikit memaksa Austin walau tidak peduli dilihat kedua orang tua dan kakaknya. Ia hanya ingin Austin mengatakan sekarang, walau sebenarnya takut Austin memutuskan hubungan mereka yang hanya berjalan di tempat selama hampir dua tahun ini.
“Lakukan sekarang jika kau mau mengklarifikasi insiden tadi, Austin,” pinta Janice serius menatap mereka berdua. “Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut sementara ada nama baik keluarga yang harus kalian jaga. Lagi pula kalian ada di Indonesia, bukan di Paris atau Belanda.”
“Tapi Ma...” Meg reflek menoleh ke arah Janice yang duduk di kursi samping bersama Albert yang sejak tadi tidak banyak bicara. Fokus dengan pipa cangklongnya.
Mata Janice membulat. "Jangan membantah, Meg." Ia memberi kode agar Meg menurutinya kali ini.
"s**t!" Meg kembali duduk dengan kesal lalu mengoceh tidak jelas.
“Baik, Tante.” Austin mengangguk lalu menengadahkan tangan ke arah Meg.
“Apa?” Meg mengernyit.
Austin menggerakkan kepala. “Ponselmu,” pintanya lugas. “Kita live streaming lagi,” ajaknya yang sudah yakin.
“Tunggu dulu!” celetuk Daniel yang tiba bersama Bella dengan langkah panjang ke arah mereka yang duduk berkumpul di ruang tengah. “Acara ini harus disaksikan kami. Tanpa kami acara ini tidak sah."
"Apa maksudmu, Daniel?!" sahut Meg, tak mengerti.
Bella menyikut Daniel dan membulatkan matanya cepat. "Jaga ucapanmu, Dan," ucapnya, dengan suara pelan.
"Tidak. Tidak ada. Aku lapar," balas Daniel mengalihkan pembicaraan dan menahan tawa.
Bella setengah berlari mendekati Tristan yang menyambut kedatangannya dengan rengekan dan kedua tangannya yang terjulur ke depan. “Kenapa, Sayang?” Ia menarik dan mengeluarkan Tristan dari kursi kebesarannya dan membawanya duduk di samping kursi Hans. “Apa kami sudah melewatkan sesuatu yang penting?” bisiknya pada Hans, melirik Austin yang duduk beberapa meter di depannya sedang menaruh ponsel di tengah meja yang menghadap ke arah mereka.
Hans menggeleng pelan. “Tidak. Kecuali keponakanku yang tampan ini sudah membuat Tantenya viral di Instagram.” Ia terkekeh memperhatikan Bella menutup bagian atas tubuhnya dengan ‘nursing apron’ lalu menyusui Tristan dari balik kain itu.
“Dia menirumu,” sambung Bella cepat.
“Apa?!” Hans tertawa namun tawanya pudar melihat Meg menaruh telunjuk di tengah bibirnya dan bersiap live streaming.
Daniel mengambil posisi duduk di samping Bella. Ia menggeser kursi lalu berbisik. “Apa dia tertidur?” Tangannya menyibak sedikit apron itu dari samping dan mengintip Tristan yang memejamkan mata namun mulutnya tetap mengisap p****g p******a Bella. “Sepertinya dia lelah.”
“Ya, lelah membuat masalah,” sambung Bella yang ucapannya disambut tawa Hans lagi.
“Kak Hans, Please..” Meg mengingatkannya lagi.
Hans mengangkat tangan dan berusaha menghentikan tawa. “Sorry.”
Meg dan Austin pun memulai live streaming.
“Sore, Gaes.” Austin menyapa followers Meg yang mencapai ratusan ribu itu. Melalui layar ponsel ia bisa melihat jelas satu persatu akun menonton streaming mereka dan bertambah dengan cepat. Ia pun kembali bicara. “Pertama-tama, kami meminta maaf pada kalian semua sudah membuat heboh beberapa jam tadi. Semua yang kami lakukan tadi, murni tanpa ada niat merekam.”
Austin menghentikan ucapannya sebentar, melihat satu persatu akun yang menonton streaming mereka menulis sesuatu yang isinya berbagai komentar. Mulai dari ketidak percayaan dengan pengakuannya, meminta video menjadi beberapa menit dan bahkan menuduh melakukan itu hanya untuk pansos (panggung sosial).
Namun Austin tidak mengambil hati komentar mereka, karena ia hanya berniat meminta maaf, bukan untuk menanggapi kasar tanggapan dari para netizen.
“Di kesempatan ini, aku juga mau memberitahu kalian kalau aku dan Meg sudah sekitar dua tahun menjalin hubungan. Dan aku…” Austin bangkit dari kursi.
Meg terheran dan mengernyit melihat Austin menekuk sebelah kakinya sedangkan sebelah lututnya lagi menapak lantai lalu kedua tangannya menjulur ke arahnya dan memperlihatkan sebuah kotak berlapis beludru merah yang di dalamnya berisi sebuah cincin berlian. “Apa ini, Austin?”
Senyum Austin mengembang, begitu juga dengan keluarga Meg yang menjadi saksi acara lamarannya hari ini. “Maukah kau menikahiku, Sayang?”
“Oh My God?!” Kedua tangan Meg reflek menutup hidung dan mulutnya karena terkejut. “Austin ini sungguhan?!” Meg sempat melirik Janice yang mengangguk dan tersenyum. “Ma…”Air mata Meg mengembang, ia tidak menduga Janice memberi restu hubungannya bersama Austin. Dan ia tidak menyangka kalimat yang sudah lama ia nantikan dari bibir Austin terucapkan hari ini di depan kedua kakak, orang tua dan kakak iparnya. Tidak. Tapi di hadapan netizen seluruh dunia yang menonton live streaming lamarannya hari ini.
Kepala Meg mengangguk berulang kali walau air mata bahagia mengalir membasahi pipinya. Tanpa ragu ia pun menjawab, “Ya.” Meg bangkit, memberikan jari manisnya. “Aku akan menikahimu, Austin.”
Cincin berlian itu pun Austin sematkan di jari manis Meg lalu memeluknya erat.
Daniel bangkit dari duduknya lalu bertepuk tangan, begitu juga dengan Hans dan Debbie.
“Selamat, Calon adik ipar. Aku tunggu pestanya malam ini,” ucap Daniel, ia menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri.
Bella menggeleng dan berdecak melihat kelakuan Daniel. "Kau bukan bujangan lagi, Daniel. Ingat anakmu." Ia membulatkan matanya melihat Daniel yang tak lama menghentikan tariannya seakan berada di Klub.
Austin tersenyum lebar melirik mereka semua. “Tentu, aku akan mengadakan pesta nanti malam. Karena Meg sudah menerimaku,” sahutnya lalu dengan sigap kedua tangannya meraih wajah Meg dan mencium bibirnya di hadapan mereka semua.
“Hentikan, Austin!” Daniel menunjuk ke arah ponsel. “Kalian masih streaming!”