Bella berhenti tertawa mengingat kejadian tadi sore. Ia tidak menyangka kenakalan Tristan yang tidak sengaja, memicu Austin melamar dan mencium Meg secara live untuk kedua kalinya. Tapi ia turut senang, mengingat keinginan mereka untuk menikah memang sudah lama terwujud namun terkendala restu Janice yang selalu mengharapkan Meg menikah dengan duda kaya di Paris. Pria yang selalu jadi bahan ancaman Janice.
Bella berbaring menyamping dengan sebelah tangan menopang wajahnya memandang Daniel yang berbaring di samping, yang sejak tadi menatap langit-langit kamar.
“By the way, bagaimana ceritanya Austin bisa mendapat restu dari Mama?” Entah kenapa Bella menjadi penasaran. Yang ia tahu, Janice tidak terlalu menyukai ataupun membenci Austin. Hanya terobsesi bisa menikahi Meg dengan duda kaya itu, bukan Austin yang hanya bekerja sebagai Polisi.
Tiba-tiba Daniel menarik kepala Bella dan meletakkannya di atas dadanya yang bidang. Membiarkan Bella mendengarkan detak jantungnya yang berdetak normal untuk saat ini. “Itu karena selama ini Austin selalu membuktikan pada Mama bahwa dia serius dan berniat menikahi Meg,” jelasnya sambil membelai rambut Bella. “Sama seperti aku dulu.” Senyumnya mengembang dengan tatapan penuh makna.
“Gombal.” Bella menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Daniel lalu berbalik.
“Bella…” Daniel memanggil dengan nada tidak semangat. Namun Bella masih memunggungi dan mengacuhkan panggilannya. “Sayang…”
Tidak ada sahutan.
Daniel mendengus, melirik jam di dinding. “Baiklah, kalau begitu aku pergi party dulu bersama--”
“Jangan pergi.” Bella berbalik dan langsung menarik celana pendek Daniel yang bermaksud bangkit dari ranjang. “Kalau kau pergi aku ikut.”
“Bella…” Daniel memasang wajah melas. “Please…”
“No!” Tentu saja Bella menolak. Ia tidak mau Daniel mabuk lalu pergi bersama wanita lain di klub. Seperti yang pernah terjadi beberapa minggu lalu, saat merayakan acara dari kantor karena mendapatkan target penjualan. Untungnya saja saat itu bawahannya menolongnya cepat, jika tidak, ia yakin wanita itu sudah merampok isi dompet Daniel lalu meninggalkannya di hotel.
Namun, melihat wajah Daniel yang memelas dan tahu tujuan mereka hanya untuk merayakan hari bersejarah Austin, ia pun tidak bisa mencegah. “Dengan siapa kau pergi?”
Secara perlahan senyum Daniel mengembang. “Dom dan James.” Ia merasakan angin sejuk jika Bella sudah menanyakan itu. Ia pun yakin Bella memberinya izin. Tentu saja dengan ‘syarat dan ketentuan yang berlaku’ seperti yang biasa tertera pada sebuah iklan atau produk.
Sebenarnya Bella menginginkan Daniel bersamanya malam ini, mengingat Austin, ia pun luluh. “Baiklah.” Bella bangkit dan terduduk sambil bersandar di kepala ranjang. “Aku mengizinkanmu pergi dengan catatan tidak boleh mabuk. Jika kau melanggarnya, aku melarangmu menyentuhku selama seminggu, Dan. No hug, no kiss and no s*x. Kau paham?” ancamnya lagi. Itulah 'S dan K' dari Bella.
“Siap, Ma’am!” Ujung jari Daniel berada di pelipis, seakan hormat pada seorang komandan. Lalu ia merangkak mendekati Bella. “Kalau begitu bagaimana kalau kita…” Ia memiringkan wajah dan mendekati bibir Bella. “Bercinta sebelum aku pergi?”
“No.” Bella membuang wajah lalu menatap Daniel lagi. “Kalau kau pulang sebelum jam satu, aku akan menyambutmu mengenakan lingerie merah. Jika kau telat…” Ia mendekati bibirnya di telinga Daniel. “No sex.”
“But only kiss.” Daniel mendorong tubuh Bella dan membuatnya terbaring lalu menyerbu dengan ciuman bibir. Ia tahu Bella tidak benar-benar tidak menginginkan sebuah ciuman, itu terbukti Bella membalasnya antusias.
Ujung jari Bella membelai kedua d**a bidang Daniel, menyusuri otot-otot perutnya lalu terhenti di pinggangnya yang ramping.
Decapan bibir mereka pun memenuhi ruangan malam ini. Kepala Bella terkulai ke belakang merasakan ciuman Daniel semakin tak terkendali. Bibir Daniel kini berada telinganya, menjilat, menggigit kecil cuping itu lalu menyusuri leher dan terhenti di sana meninggalkan bekas merah. Ia pun mengerang ketika bibir Daniel mengarah ke dadanya seiring tangan Daniel yang menyusup masuk ke dalam tanktop.
Namun sayangnya suara deringan ponsel menghentikan aksi Daniel dan membuatnya mengumpat. “Damn!” Ia terpaksa bangkit dan meraih ponsel dari atas nakas.
Dom. Nama itu tertera di layar.
“Hallo,” Daniel berusaha menormalkan deru nafasnya namun sulit, melihat Bella terbaring pasrah dan siap untuk ia terkam malam ini.
“Gue di bawah sekarang. Gue tunggu lima menit. Kalau telat, gue--”
“Gue ke sana sekarang!” Dengan tergesa-gesa Daniel keluar dari kamar menuju walk in closet.
Melihat Daniel laksana sapi yang ingin lepas dari rumah potong, membuat Bella menggeleng. Ia bangkit dan mengikuti Daniel keluar kamar lalu duduk di sofa.
Setelah beberapa menit, Bella menggeleng melihat Daniel keluar dari walk in closet dan membuatnya terkagum sekaligus cemas.
Malam ini Daniel mengenakan kemeja slimfit berwarna putih yang dilapisi jaket kulit, celana jeans hitam dan sneakers.
Ia memang terlihat tampan dan menarik dengan wajah bule yang ia miliki, itu sebabnya Bella mencemaskan wanita-wanita di klub menggoda lalu membawanya pergi. Seperti kucing garong membawa ikan asin.
“Aku pergi dulu, Sayang.” Bibir Daniel mendarat di pipi Bella yang sejak tadi duduk terdiam di sofa. “Aku janji pulang sebelum jam satu. Ok?!” Ia mengedipkan mata namun raut Bella tidak berubah, seakan berat melepasnya pergi.
“Ya.” Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Bella. Mau tak mau ia harus melepaskan Daniel dan memberinya kepercayaan. Seperti apa yang pernah mereka sepakati sebelum memiliki Tristan.
Daniel melambaikan tangan lalu bergegas meninggalkan Bella keluar apartemen. Ia bersenandung sambil berjalan menuju lift namun langkahnya terhenti di depan pintu lift yang terbuka, setelah ponselnya mengeluarkan bunyi notifikasi pesan. Ia memasuki lift sambil mengambil ponsel dari saku celana lalu membaca pesan itu.
‘Pulang lewat jam satu, No s*x!’
❤️❤️❤️
Suara dentuman musik, lampu kerlap-kerlip, memicu para pengunjung klub menari bebas mengikuti alunan musik yang dibawakan sang DJ malam ini.
Setelah menghabiskan segelas bir, Daniel menari bersama ketiga sahabatnya berbaur dengan pengunjung lain. Ia menari sambil setengah berteriak bersama yang lain. Membicarakan beberapa wanita seksi yang menari tak jauh dari mereka.
Namun tiba-tiba pandangan Daniel tertuju pada wanita cantik berambut panjang berwarna coklat mengenakan mini dress warna hitam tanpa lengan.
Daniel yakin wanita itu bukan wanita lokal. Ia terlihat berbeda.
Tiba-tiba Daniel mengerjapkan mata ketika mereka beradu pandang. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke arloji. Setengah jam menuju jam satu.
“Mati aku!” Daniel memukul dahinya pelan. “Sorry gaes, gue pulang dulu,” pamitnya setengah berteriak pada Dom, James dan Austin yang terlihat kecewa. “Kalau telat, Bella pasti ngamuk dan kalian pasti juga kena,” sambungnya lagi.
Dom menggeleng. “Tanggung, Bro. Setengah jam lagi. Nanti gue anterin pulang,” sahutnya setengah berteriak juga, mendengar suara musik mengalun keras.
Daniel menggeleng. “No. Gue harus pulang sekarang juga, bye.” Lalu pergi dengan langkah panjang meninggalkan mereka yang sudah paham dengan ketegasan Bella.
“Aduh!”
Seorang wanita menubruk Daniel dan hampir terjatuh.
“Kau tidak apa-apa?” Daniel meraih lengan wanita itu yang seketika ia mengangkat wajah dan terheran melihat dirinya. “Kau--” Daniel menunjuk wanita itu lalu tersenyum.
“Sorry aku tidak sengaja,” Wanita itu pun tersenyum melihat Daniel masih mengingat dirinya setelah mereka sempat beradu pandang.
Daniel melepaskan pegangannya. “Maaf, aku sedang buru-buru.” Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.
Wanita cantik itu tersenyum lebar. Ich bin sicher, wir sehen uns wiedersehen. (Aku yakin kita pasti bertemu lagi).
❤️❤️❤️
“Bella?” Daniel mengetuk pintu kamar berulang kali namun pintu itu sama sekali tidak terbuka. “Bella, aku hanya telat lima menit. Please, open the door, Sayang.” Sekali lagi ia memohon. Sudah tiga menit lamanya berada di depan pintu dan memohon pada Bella karena terjebak macet setelah mobil di depan taksi yang ia naiki mengalami korsleting listrik lalu mengalami kebakaran.
Tapi kesabaran Daniel kali ini membuahkan hasil, ia mendengar derap langkah dan suara knop lalu pintu itu terbuka sedikit.
“Kau telat, Dan.” Bella menatap kecewa Daniel yang berwajah melas. “Tapi aku memaafkanmu. Masuklah.” Ia membuka lebar pintu itu yang seketika Daniel tersenyum lebar melihat Bella mengenakan lingerie merah. “Maaf, aku lama membukakan pintu karena harus mengganti baju ini demi suamiku.”
“Sayang.” Daniel menyerbu Bella lalu memeluknya erat dan berakhir dengan ciuman.
“Kau habis minum bir?” Bella melepas ciumannya, merasakan aroma bir menguap dari mulut dan nafas Daniel.
“Ya. Hanya segelas saja.” Daniel jujur. Ia takkan pernah bisa membohongi Bella. Dan ia memang sengaja tidak melebihi segelas agar tidak membuat masalah dan memicu pertengkaran lagi. “Karena aku ingin tetap tersadar agar bisa…” Ia mendekati bibir Bella lagi. “Bercinta denganmu malam ini.”
Tubuh Bella jatuh terbaring di atas ranjang sementara Daniel menindih dan terus menyerbunya dengan ciuman antusias baik di bibir dan leher.
Kedua tangan Bella sigap membuka kancing kemeja Daniel satu persatu dengan nafas cepat. Setelahnya, ia melempar kemeja itu ke lantai. Tangannya terjulur ke atas ketika Daniel menarik lingerie itu dan bergegas mengeluarkannya dengan wajah merah padam.
“Kau selalu mengagumkan, Bell.” Daniel memuji keindahan tubuh Bella yang kini tanpa sehelai pakaian yang melekat di tubuh seksinya.
Ujung-ujung jari Bella membelai d**a bidang Daniel, menyusuri otot perutnya yang keras lalu terhenti di kait celana jeans. “Karena aku ingin selalu dipuji olehmu.” Kini tangannya menurunkan resleting celana Daniel. “Hanya kau, Dan. Aku--”
Ucapan Bella terhenti setelah mendengar tangisan Tristan dari kamar depan. “Oh My God.” Ia memutar bola matanya cepat, mendengar tangisan Tristan semakin keras.
Daniel tertawa kecil. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Bella yang bergegas bangkit dan meraih kimono. “Tristan tahu waktu yang tepat mengganggu kita,” ucapnya pelan melirik Bella lagi.
“Dia haus. Sejak kau pergi dia tertidur pulas. Aku ke depan dulu.” Bella keluar kamar meninggalkan Daniel yang masih terbaring memandang langit-langit kamar.
Tiba-tiba senyum Daniel mengembang, terbayang wanita yang menubruknya di Klub. Wanita cantik berambut coklat.
❤️❤️❤️
Pagi ini Hans memilih menghabiskan sarapan yang berupa seporsi nasi goreng buatan Debbie.
Sedikit terasa asin, namun ia terpaksa harus menghabiskan mengingat hari ini jadwal kerjanya ia majukan setengah jam sebelumnya. Tak ada waktu untuk mengunjungi kafe seperti yang biasa ia lakukan sebelum tiba di kantor, walau hanya untuk menikmati sarapan yang biasa ia konsumsi. Dua croissant dan kopi.
“Kau lembur?” Debbie duduk di hadapan Hans dengan sebelah tangan memegang kotak s**u cair lalu menuangnya ke dalam gelas.
Kepala Hans mengangguk, sebelah tangannya mengambil tisu dan menyeka bibir. “Ya. Hari ini kami akan kedatangan klien baru dari Jerman di kantor. Mereka akan mengisi beberapa outlet yang kosong. Dan Papa berencana mengajak mereka makan bersama di restoran Prancis nanti malam.” Hans melirik Debbie yang meneguk s**u. “Kau tidak perlu menungguku untuk malam bersama. Mungkin aku pulang ke rumah Papa dan mandi di sana lalu pergi bersama Papa.”
“Baiklah.” Debbie mengangguk dan memahami kesibukan Hans yang masih menjabat sebagai Manajer dan mengontrol cabang departemen store yang berada di Swiss. “By the way, siapakah klien kalian?”
❤️❤️❤️
“Hallo?” Daniel mengapit ponsel di antara bahu dan telinga sementara kedua tangannya mengembangkan sebuah kertas yang berisi gambar sketsa model pakaian yang akan dikerjakan oleh tim produksi hari ini.
Sebagai penanggung jawab produksi produk, Daniel akan selalu sibuk. Terlebih lagi selama tiga bulan sekali, ia harus memproduksi produk baru dengan model yang baru juga. Tak jarang beberapa produk juga mengalami penjualan lambat dan tak sedikit produk menjadi best seller.
Tak hanya bertanggung jawab pada produksi saja, ia pun harus mengontrol ke lapangan atau Departemen Store untuk mengetahui keadaan kualitas produk tersebut bersama Team.
Melihat dan menilai tampilan produk di bawah sinar lampu terang outlet serta kualitas bahan yang ia gunakan pada produk tersebut. Semua mengenai produk adalah tanggung jawabnya dan Team yang bisa ia andalkan.
Namun kali ini, panggilan dari Hans membuatnya terganggu.
“Makan malam?” Daniel mengernyit, tapi sebelah tangannya menunjuk sebuah contoh bahan kain pada seorang supervisor yang menjadi bawahannya yang sejak tadi meminta jawaban Daniel. “Aku sedang sibuk, Hans. Sebaiknya kau dengan Papa saja. Aku harus menyelesaikan lima sample hari ini,” jelasnya. Walau sadar pekerjaannya bisa digantikan, Daniel belum bisa bernafas lega sebelum salah satu produk itu belum mencapai tahap finishing.
Langkah Hans terhenti di sebuah outlet Hem&Hem, sebuah merek dari sebuah perusahaan tempat Bella pernah bekerja sebagai Supplier. “Kau bisa menyuruh Andi menggantikanmu. Dan masalahnya klien kita ini berasal dari Jerman. Jika mereka berkesan, kita bisa menyediakan tempat untuk mereka karena kuyakin produk mereka bisa meningkatkan daya beli di tempat kita, Dan. Kuharap kau bisa datang nanti malam,” ucap Hans, mengakui kehebatan Daniel dalam melobi klien. Meskipun saat ini klien mereka hanya akan mengisi satu tempat di Departemen Store mereka, ia yakin Daniel bisa membuat mereka mengisi outlet cabang di Departemen Store mereka di Mall lainnya. “Bagaimana? Kau bisa kan?”
Mendengar penjelasan Hans, Daniel terdiam sejenak.
“Pak Daniel?” Salah satu bawahannya menunggu keputusan Daniel.
Daniel terkesiap, tangannya menunjuk bahan katun tebal. “Yang itu cocok untuk model polo shirt. Ambil yang warna nomor dua puluh tiga. Warna itu eye catching jika terkena sinar lampu display,” sahut Daniel pada bawahannya lalu melanjutkan pembicaraannya lagi bersama Hans. “Baik. Aku akan datang.”
❤️❤️❤️
Daniel menghentikan mobil di pelataran parkir tepat di depan restoran Prancis yang selalu menjadi restoran favorit Albert. Ia bergegas turun dari mobil dan berlari kecil setelah bisa melihat Hans, Albert dan seorang wanita dari jendela kaca restoran itu.
Tiba di dalam restoran, Daniel berjalan tergesa-gesa ke arah mereka. Ia bisa melihat wajah kecewa Hans yang menggeleng ke arahnya. “Maaf aku terlambat,” sapa Daniel mendekati mereka sambil menarik kursi. “Aku terpaksa harus--”
“Daniel, perkenalkan ini klien kita yang sudah aku ceritakan tadi,” Sela Hans menghentikan aksi Daniel yang akan duduk. Ia mengembangkan kelima jarinya ke arah wanita yang duduk tepat di samping Daniel yang seketika wanita itu bangkit lalu berdiri menghadap Daniel sambil tersenyum lebar.
“Hai, Aku Erika Mazeo.” Ia mengulurkan tangan ke arah Daniel yang terdiam karena kaget. “Senang bisa bertemu denganmu lagi, Daniel.”