Happy Reading.
*
Aliya hanya diam saat Jimin terus menatapnya. Ia hanya duduk santai dan menyandar pada Dasboart ranjang dan Jimin sedang duduk dikursi depan meja riasnya. Ini sudah hari ke-5 mereka saling diam dan Aliya tidak berniat mengibarkan bendera putih dulu. Siapa yang salah dan siapa yang harus mengalah?.
"Kau ingin sesuatu?" Aliya hanya diam dan sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Jimin.
"Kau ingin jalan-jalan?" Aliya masih sibuk dengan dunianya.
Sementara Jimin mulai kehilangan kepercayaan dirinya untuk bertanya pada Aliya. Jimin tahu kesalahanya dan Jimin ingin memperbaikinya sekarang juga. "Dekati dia perlahan" perkataan Bang PD kembali terngiang ditelinga Jimin. Jimin sudah bilang perihal pertengkaranya dengan Aliya dan Bang PD tidak keberatan memberinya saran.
Jimin menghembuskan nafasnya pelan, menormalkan detak jantungnya yang menggila karena menghadapi kemarahan Aliya.
Dengan langkah ragu Jimin mendekati Aliya dan duduk tepat disamping ranjang dekat Aliya.
"Mian!" Lirih Jimin sambil memegang erat jemari Aliya.
"Lepaskan!" Jimin menggeleng dan semakin menggenggam erat jemari Aliya.
"Aku janji akan merubah sikapku! Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Demi kita dan anak kita. Please!" Lirih Jimin pada Aliya. Sedangkan Aliya masih saja diam dan tidak berkutik.
"Jika Oppa kembali mengingkari janji. Kau bisa menghukum Oppa dan Oppa akan menerimanya" ujar Jimin tulus.
"Tidak perlu aku~~"
"Aniya! Kau boleh melakukan apapun!" Sela Jimin cepat.
Sedangkan Aliya hanya bisa menghela nafas pasrah. "Aku tidak berniat menyusahkanmu!" Lirih Aliya.
"Aniya! Oppa tidak merasa seperti itu! Kau berhak melakukan apapun sesuai keinginanmu!" Kata Jimin tulus.
"Tapi aku terlihat menyusahkan!" Jimin menggeleng, menyingkirkan majalah Aliya dan membawa wajah Aliya untuk menatapnya.
"Tidak ada yang menyusahkan Sayang! Kau berhak meminta apapun dari Oppa dan Oppa tidak akan marah! Kau tanggung jawab Oppa sepenuhnya!" Kata Jimin menegaskan.
"Mian karena bersikap kekanakan!" Lirih Aliya.
"Aniya! Oppa yang salah! Kau berhak marah!" Kata Jimin.
"Tapi~~~"
"Shut! Jangan dibahas lagi Nde?" Aliya mengangguk pelan.
"Sekarang kita istirahat! Besok kita akan sangat sibuk membantu Jin Hyung!" Kata Jimin lembut.
"Arassho!"
*
Senyum bahagia tercetak jelas diwajah semua tamu undangan yang hadir dipernikahan Jin dan Jihyo. Mereka berdua sudah mengucapkan janji suci pernikahan sehidup semati dan dilalui dengan lancar tanpa halangan.
Riuh tepuk tangan dari tamu terdengar menggema saat Jin mencium Jihyo dan jangan lupakan siulan dari semua tamu untuk menggoda pasangan pengantin baru.
"Hyung lepas! Nanti lanjut diranjang!" Teriakan lantang Taehyung membuat semua orang tertawa dan membuat Jin dan Jihyo menunduk malu.
*
Tangan Jimin dan Aliya bertaut erat mrnyalurkan kehangatan satu sama lain, mereka ada di Jeju. Mereka semua mengikuti Jin dan Jihyo bulan madu sekaligus jalan-jalan. Lagi pula satu minggu dari sekarang pernikahan Taelice juga akan digelar dan mereka butuh tenaga lebih lagi.
"Jin Hyung kemana?" Tanya Jungkook.
"Raib! Kekamar dengan Kakak ipar barumu!" Jawab Namjoon.
"Wih mereka tidak mau ketinggalan rupanya!" Kekeh Hoseok.
"Tentu saja! Pengantin baru!" Kata Taehyung.
"Jadi kalian yakin akan menikah di Seoul?" Tanya Suga pada Lisa dan Taehyung.
"Ya Hyung! Orang tua Lisa juga setuju!" Jawab Taehyung sambil merangkul Lisa erat.
"Bulan madu kemana?" tanya Aliya.
"Entahlah! Kami belum memikirkanya!" Jawab Lisa pelan.
"Maldiv saja Tae!" Usul Jimin antusias.
"Nanti kufikirkan!" Jawab Taehyung bijak sana.
"Namjoon-ah susul Momo! Kasihan dia sendirian!" Kata Hoseok pada Namjoon.
"Ara Hyung!" Jawab Namjoon sambil berlalu.
"Dan kau Chim! Bawa adikku kekamar. Udara dingin tidak baik untuknya!" Tambah Hoseok pada Jimin.
"Nde Hyung" jawab Jimin sambil merangkul Aliya dan menuju kamar mereka.
"Kalian tidur! Besok kita jalan-jalan!" Ujar Suga.
"Ye Hyung!"
*
"Mwo?" Tanya Aliya saat Jimin terus menatap intens dirinya.
"Aniya! Kau hanya cantik!" Puji Jimin takjub.
"Dasar perayu ulung!" Kekeh Aliya sambil memukul lengan Jimin.
"Ini bukan rayuan Sayang! Tapi ungkapan. Oke?" Kata Jimin mengelak.
"Ara! Oppa mau apa dariku?" Tanya Aliya yang sudah mengerti keinginan Jimin.
"Aku mau kau!" Sudah bisa ditebak jika Jimin akan bilang begitu dan Aliya juga tidak akan menolak.
"Oppa bisa ambil!" Balas Aliya pasrah.
"Kau pengertian sekali!" Puji Jimin bangga.
"Sekarang saja!" Jimin mengangguk dan memeluk Aliya erat.
"Jangan kasar Nde! Aku ingin main lembut!" Jimin mengangguk antusias.
"Tapi semalan Nde? Aku sudah sangat lama merindukanmu!" Aliya mengangguk pelan.
"Yes! Main lagi!"
T.b.c