9. Koboi Sinis

2104 Words
Sebelumnya, membersihkan kandang dan memandikan kuda adalah sesuatu yang tidak akan pernah Emily sukai maupun akan ia lakukan dengan rela. Namun agaknya, anggapan itu akan berubah setelah hari ini. Setelah ia bertemu koboi super tampan yang berdiri tidak jauh darinya itu. Jika berada di kandang membuatnya bisa lebih sering bertemu koboi itu, Emily akan melakukannya dengan segala kerendahan hati yang ia miliki. Mata tajam itu menatapnya dengan pandangan yang membuat jantung Emily bertalu-talu dalam cara yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Bahunya yang tegap, yang terbungkus kemeja warna hitam itu, seakan memanggil Emily untuk berlari dan bersandar padanya. Selama delapan belas tahun hidupnya, Emily tidak pernah bertemu pria yang bisa membuat jantungnya berdentum seperti ini. Rasanya seakan ada listrik yang mengaliri tubuhnya dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya. Kemudian, Emily sadar jika ia tidak sedang berada di penampilan terbaiknya. Rambutnya diikat asal-asalan sementara hampir seluruh tubuhnya basah karena memandikan Charlie. Oh, sialan! Seandainya ia tahu jika neneknya memiliki pegawai setampan dan seseksi ini, Emily pasti tidak akan perlu dipaksa untuk keluar dari kamar dan memandikan Charlie. Bahkan, ia akan dengan sukarela melakukan itu setiap hari. “Jadi Charlie masih belum siap ya?” Suara pria itu bahkan terdengar jauh lebih seksi sekarang setelah Emily mendengarkannya dengan perhatian penuh. Bulu halus di kulitnya meremang membayangkan pria itu membisikkan namanya tepat di telinga Emily. Saat jemarinya yang besar dan kasar itu membelai kulitnya. Ya Tuhan, apa yang ia pikirkan sekarang? Hingga saat ini, atau sebelum hari ini, Emily tidak pernah bermimpi untuk melakukan hal ‘itu’ seperti yang sudah dilakukan hampir semua temannya. Mereka bahkan menertawakannya karena dirinya masih perawan di usianya yang sudah delapan belas. Juga, berusaha untuk menjodohkan Emily dengan pria kenalan mereka atau kenalan pacar mereka, dan berharap jika Emily bisa melepaskan keperawanannya. Jangan harap, ucap Emily dalam hati setiap kali temannya mengenalkannya dengan seorang pria. Tentu saja pria-pria itu tampan dengan cara mereka sendiri, tetapi tidak pernah ada satu pun dari mereka yang membuat Emily merasakan ketertarikan yang begitu besar seperti yang dirasakannya sekarang pada koboi seksi itu. Hanya melihatnya saja sudah membuat Emily ingin menjadi seseorang yang berusia jauh lebih tua dari usianya sekarang. Emily tahu jika pria itu pasti berada jauh di atasnya. Pria matang seperti itu tidak mungkin berusia sama dengannya. Mungkin dua puluh tujuh atau dua puluh depalan yang berarti sepuluh tahun lebih tua darinya. Jelas pria itu akan menganggapnya anak kecil. “Jadi kau tidak bisa bicara ya?” Pria itu melambaikan tangan sembarangan dan berbalik hendak meninggalkan Emily. “Tunggu!” teriak Emily hingga membuat langkah pria itu terhenti. Pria itu menganggapnya tuna wicara? Apa ia terlihat seperti seseorang yang gagu? Sialan! Kenapa pria tampan kebanyakan menyebalkan? Kenapa mereka selalu membuat orang lain kesal dengan apa yang keluar dari mulutnya yang seksi itu? “Jadi kau bisa bicara.” Itu bukan pertanyaan sehingga Emily hanya menggerutu sebagai balasannya. “Kenapa kau belum selesai memandikan Charlie? Seharusnya kau bangun lebih pagi untuk menyelesaikan pekerjaanmu. Kau pengurus kuda yang baru di sini?” Oh, astaga! Setelah menganggapnya tuna wicara, sekarang pria itu menganggapnya pengurus kuda di sini? Apa dirinya benar-benar terlihat selusuh itu hingga pria tersebut menganggapnya pegawai baru di peternakan ini? Lagipula, memangnya dia siapa hingga bisa bicara pada Emily dengan seangkuh itu? Kemungkinan, pria itu juga hanya seorang pegawai di sini. Kecuali... Emily melirik seluruh pakaian yang pria itu kenakan. Mulai dari sepatu botnya, celana jins, hingga topi Stetson-nya, semua memang tampak jauh lebih mahal daripada yang Jake kenakan. Jadi mungkin pria itu memiliki kedudukan yang tinggi di sini hingga bisa membeli barang-barang mahal. “Aku...aku baru satu hari di sini,” aku Emily akhirnya meskipun ia sangat ingin mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Jika pria itu menganggapnya sebagai pengurus kuda rendahan, baiklah, Emily akan mengikuti permainannya. Ketika kebenaran terungkap, ia hanya akan menertawai pria ini dan membuatnya merasa sangat bersalah karenanya. “Jadi kau mau bilang bahwa kau belum terbiasa dengan ritme hidup di peternakan yang selalu dimulai sebelum matahari terbit? Atau kau akan berharap bisa dimaklumi karena kau baru di lingkungan seperti ini sehingga tidak ada salahnya bangun lebih lambat daripada yang lainnya?” Kekaguman dan perasaan meluap-luap yang tadi Emily rasakan pada pria itu perlahan mulai berkurang. Meskipun sangat tampan dan seksi, koboi di hadapannya ini adalah jenis pria sinis yang selalu mengeluarkan kata-kata tidak menyenangkan dari bibirnya. Ada masalah hidup apa pria itu sehingga menjadi seseorang yang begitu sinis? Emily mencibir sementara hatinya menebak-nebak. Pasti masalah asmara. Pria itu diputuskan kekasihnya karena tidak tahan hidup di peternakan yang bahkan jarang mendapatkan sinyal telepon. Pertunangan mereka berantakan karena wanita itu akhirnya memilih pergi dengan pria lain dari kota yang jauh lebih kaya dan bisa memberikan kehidupan yang tidak akan wanita itu dapatkan di tempat ini. Ya, pasti seperti itu. Emily tahu jika hal-hal itulah yang membuat banyak para koboi melajang. Karena tidak banyak wanita yang bersedia dikurung di tempat terpencil seperti ini hanya dengan kuda dan sapi. Tidak ada mall, tidak ada salon. Oh, sial! Ia akan mengalami hal mengerikan itu selama tiga bulan ke depan. “Adrian! Kau di sini!” Suara Jake yang riang membuat pria itu mengalihkan pandangannya dari Emily. Adrian. Jadi nama pria itu Adrian. Nama yang sangat cocok untuk wajahnya yang tegas dan postur tubuhnya yang seksi itu. Sayangnya, sikap sinis pria itu sama sekali tidak cocok dengan nama indah yang disandangnya. Seharusnya nama pria itu Black, atau Storm, atau apapun yang berarti suram. “Aku kemari karena Patrick bilang kau hanya mengantarkan Sunshine. Kupikir ada masalah dengan kesehatan Charlie.” Kening Emily berkerut lagi saat mendengar suara yang sama sekali tidak sinis itu. Adrian justru tampak ramah dan hangat saat bicara dengan Jake. Dan mereka membahas Sunshine yang diantarkan ke suatu tempat? Ke mana Sunshine pergi? Apa Adrian adalah pembeli kuda dan berniat membeli Sunshine dan Charlie? Emily menatap Charlie yang berdiri dengan tenang di sampingnya. Meskipun kuda ini hitam dan tampak begitu besar serta menyeramkan, Emily tidak mau mereka dijual. Seharusnya Charlie tetap di sini. Kuda ini sangat manis dan penurut bahkan pada dirinya yang belum pernah ditemui Charlie sebelumnya. “Oh, iya, keponakanku sedang menyesuaikan diri dengan pekerjaannya dan Charlie adalah yang paling tepat untuknya belajar.” “Keponakanmu?” Emily tersenyum membayangkan kerutan di kening Adrian yang tanpa cela. Hah! Lihat kau sekarang! Pria itu pasti akan malu setengah mati padanya dan meminta maaf dengan berlebihan agar Jake tidak memecatnya. “Dia baru datang dari Ohio untuk berlibur di sini.” “Yah, itu menjelaskan kenapa pekerjaannya sangat lambat dan berantakan.” Emily melongo mendengar itu sementara Jake terbahak-bahak. Apa? Adrian bukannya meminta maaf dan justru semakin mengoloknya? Sialan! Namun, mau tidak mau Emily menunduk memandang pekerjaannya. Ember yang tadi tidak sengaja ditendangnya masih dalam posisi jatuh, selang yang ia tinggalkan begitu saja hingga airnya mengalir ke mana-mana, sikat yang berceceran, dan yang jauh lebih buruk, dirinya yang basah kuyup. Yeah, apa yang Adrian ada benarnya. Ia memang berantakan. Dan juga sangat lambat. Emily tidak tahu sudah berapa jam sejak ia memandikan Charlie, tetapi ini pasti sudah hampir siang karena cuaca menjadi sangat panas. “Aku rasa Charlie memang harus tetap di kandang hari ini. Bagaimana jika Lucy yang menggantikannya?” Emily tidak bisa mendengar jawaban Adrian, tetapi kedua pria itu meninggalkan halaman tanpa mengatakan apapun pada Emily seakan-akan ia tidak berada di sana. b******k! Apa ia sangat tidak terlihat seperti itu? Setelah Mom dan Dad membuangnya ke tempat pengasingan ini, sekarang ia juga menjadi tak kasat mata di peternakan ini? Sekalian saja buang dirinya ke Timbuktu! “Kau lihat, Charlie? Aku sama sekali tidak terlihat di sini!” gerutu Emily sambil meraih selangnya dan kembali membasahi sisi tubuh Charlie yang lain. “Kenapa mereka menerimaku di sini jika tidak menganggapku ada, ya kan?” Jawaban dari Charlie hanya berupa dengusan pelan kuda itu. Emily mendesah dan meraih bangku kayu pendek setelah mematikan keran, lalu duduk di sisi kaki Charlie dan mulai menggosok kukunya. “Kau bersyukur diberikan perawatan seperti ini dengan gratis. Aku harus membayar mahal setiap kali ke salon hanya untuk mengecat kukuku,” kata Emily bermonolog. Emily tahu tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari Charlie, tetapi ia benar-benar harus bicara untuk mengeluarkan semua unek-uneknya atau dirinya akan gila. Dirinya baru dua hari berada di sini, tetapi Emily sudah merasa jika dirinya akan meledak. Segalanya tentang tempat ini dan dirinya terasa begitu salah. Emily jelas tidak cocok berada di sini. Tadinya, ia berharap banyak pada pria yang telah membuat jantungnya berdentum-dentum dengan kencang. Namun, harapan itu sekarang sirna setelah beberapa patah kata yang diucapkan Adrian. Adakah tempat yang benar-benar cocok baginya? Tempat yang bisa menerima dirinya apa adanya? Tempat yang tidak terlalu menuntut kesempurnaan seperti yang selama ini selalu diterimanya? Oke, mungkin saja keluarganya memang bahagia dan sangat saling menyayangi. Akan tetapi, beban Emily sebagai putri sulung Bryan Xanders sangatlah berat mengingat ayahnya adalah salah satu pengusaha muda yang sukses dan sangat pintar berbisnis di seluruh Ohio dan Amerika. Selain itu, hampir semua keluarga Alexander juga memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Mau tidak mau, ia juga harus bisa membuktikan bahwa dirinya adalah seseorang yang bisa diandalkan. Seseorang yang memiliki sesuatu untuk dibanggakan dan bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya. Meskipun jelas ia masih tidak ada apa-apanya dibandingkan semua anggota keluarganya yang jauh lebih dewasa. Meskipun termasuk murid yang pintar di sekolah, tetapi Emily bukanlah seseorang yang menonjol di bidang akademik. Ia tidak mengikuti berbagai lomba kecerdasan seperti sepupunya, Michelle, juga tidak memiliki deretan piala yang terpajang di lemari ruang keluarganya. Ia jauh lebih senang menggunakan kepintarannya untuk sekedar membantu temannya yang kesulitan belajar, atau hanya untuk menunjukkan pada ayahnya bahwa meskipun ia banyak bermain, prestasi akademisnya tidaklah memalukann. Apa itu pilihan yang salah? Apa seharusnya Emily memanfaatkan kepintarannya untuk mengikuti berbagai lomba dan olimpiade seperti Michelle? Apa ia harus memiliki banyak piala dan nama harum di sekolah agar Dad tidak mengusirnya sejauh ini jika dirinya melakukan kesalahan? Emily mendesah ketika meraih kaki terakhir Charlie yang akan disikatnya hari ini. Ia memang bukan anak yang membanggakan. Nyatanya, kecantikan wajahnya tidak membuat Dad merasa bangga. Dan Emily mungkin tidak akan pernah bisa membanggakan ayahnya sampai kapanpun. “Sampai kapan kau akan menyikat kaki Charlie? Kau tidak melihat dia sudah kepanasan?” Emily mendongak dan melihat neneknya berdiri di pintu kandang. Walaupun tubuh Kate gemuk, wanita itu tampak kecil saat berdiri di depan pintu yang sangat tinggi dan besar itu. “Aku tahu kau baru pertama kali memandikan kuda, tetapi membiarkannya terbakar matahari terlalu lama sementara kau menyikat kakinya sama sekali tidak bisa dibenarkan.” “Oh, aku minta maaf,” ujar Emily pelan entah untuk Kate atau Charlie. Ia bangkit dan mengusap kulit Charlie yang hangat. “Maafkan aku, Charlie. Aku seharusnya bekerja lebih cepat.” “Bawa dia masuk sekarang!” perintah Kate dengan galak sambil berkacak pinggang. Tanpa suara, Emily membereskan peralatan bekerjanya, lalu melepaskan tali yang ia ikatkan di tiang sebelum menuntun Charlie kembali ke dalam kandang. Mungkin Adrian tidak salah karena telah menganggapnya pengurus kuda yang baru di sini. Ia memang lebih tampak seperti seorang pekerja daripada cucu pemilik peternakan. Yah, jika ia masih dianggap cucu oleh wanita menyebalkan itu. Emily membawa Charlie ke kandangnya, menyiapkan jerami dan seember besar air untuk Charlie sebelum ia menoleh pada neneknya. “Kuda mana lagi yang harus aku mandikan?” Matanya melirik kandang yang hampir kosong itu. Hanya ada beberapa kuda di sana. Yang lain, pasti sedang dibawa ke padang rumput, atau menggembala ternak, atau hal lain yang mungkin tidak pernah Emily tahu. “Ini sudah terlalu siang untuk memandikan kuda. Kerjamu terlalu lambat!” Emily menghela napas untuk menelan kembali gumpalan emosinya. “Aku minta maaf, aku akan bekerja lebih cepat besok.” Kening Kate berkerut saat wanita itu menatapnya. “Kau tidak tampak seperti gadis pembangkang yang kutemui kemarin dan tadi pagi. Apa yang membuatmu berubah secepat itu?” Kali ini Emily tidak bisa menahan dirinya untuk melotot. Sebenarnya orang-orang di tempat ini memiliki masalah hidup apa? Kenapa hampir semua orang yang ditemuinya bersikap sangat sinis? “Lalu kau ingin aku bagaimana? Tetap membangkang dan berada di kamarku meskipun anak buahmu menghancurkan pintu rumahmu? Katakan saja apa yang kau inginkan! Aku akan melakukannya!” Kate terkekeh geli. “Kau memang penuh semangat, sayangnya, semangatmu disalurkan dengan cara yang salah.” Emily cemberut dan bersedekap. Ia ingin membalas perkataan Kate, tetapi merasa terlalu lelah untuk bertengkar. “Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan sekarang?” tanya Emily pelan. “Mandilah dan ganti bajumu. Sudah hampir waktunya makan siang,” kata Kate pelan sambil berbalik pergi. “Kau tidak menyuruhku bekerja lagi??” Kate menoleh dan tersenyum padanya. “Cukup untuk hari ini, tetapi besok, kau harus bersiap-siap untuk bekerja lebih berat.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD