Matanya memandang nanar rumah berlantai dua dari balik gerbang besi yang menjulang tinggi. Kurang lebih selama lima tahun, dia tidak pernah menginjakkan kaki di rumah itu, rumah yang menyimpan banyak kenangan indah juga pahit. “Non Nesya?” Suara bariton milik seorang pria menyapa indra pendengarnya. Nesya mengalihkan pandangan ke arah pria baya berbaju satpam yang kini menatapnya dengan dahi mengernyit. “Non Nesya, ‘kan?” tanya pria baya itu, berusaha memastikan. Pasalnya, sudah lima tahun lebih, dia tidak pernah bertemu dengan anak majikannya itu. Dia menghampiri Nesya saja karena merasa curiga sebab perempuan itu sudah setengah jam yang lalu berdiri di balik gerbang. “Pak Rohman?” Seulas senyum terlukis di bibir Nesya yang terpoles lipstik merah itu. Pria baya yang ternyata bernama

