“Ngapain lo ke sini? Dari mana lo tahu kalau gue ada di sini?” tanya Nesya bertubi-tubi. Saat ini, Nesya dan Adeeva tengah duduk di salah satu kursi yang berada di kantin rumah sakit. Alih-alih menjawab semua pertanyaan Nesya, Adeeva justru mengangsurkan sebuah kartu nama dan amplop cokelat persegi panjang kepada kakak tirinya itu. “Ini kartu nama seniorku yang bekerja di firma hukum yang cukup terkenal. Aku dengar, Kak Vino mau mengambil hak asuh anak kalian. Secara hukum dan agama, Kak Vino enggak berhak atas anak itu karena dia terlahir di luar nikah. Kakak bisa menghubungi seniorku dan meminta bantuannya.” Nesya mengambil kartu nama tersebut dan membacanya sekilas. Sudut bibirnya terangkat ke atas, membentuk senyum sinis. “Ternyata, kamu membuntuti Vino,” gumamnya seraya menganggut-

