Setelah menjalani fisioterapi beberapa saat lalu, Nesya dan Ara duduk di kursi panjang yang ada di depan klinik fisioterapi sembari menunggu Vino menebus obat di apotek terdekat. Hari ini memang hari Sabtu, jadi Vino dan Ara bisa menemaninya pergi sekalian jalan-jalan setelah dari klinik. Nesya mengulum senyum simpul melihat sang putri yang terlihat lahap memakan es krim, kemudian tatapannya terpaku pada kantong kresek putih berlogo nama sebuah minimarket yang ada di kursi samping Ara. Tampaknya, saat dia diterapi fisik, Vino membelikan Ara beberapa camilan dan es krim untuk membunuh rasa jelak. “Ma?” Suara cempreng sang putri membuat Nesya mengalihkan atensinya kembali pada Ara. “Ada apa, Sayang?” tanyanya seraya membelai rambut Ara yang sudah mulai tumbuh. Senyum tipis tersungging di

