"Sayang, Mama merasa bersalah karena harus menempatkan kamu dalam keadaan seperti ini. Jika kamu bersama Mama, kamu akan lebih menderita. Mama tidak ingin hal itu terjadi." Nesya terdiam sesaat, berusaha menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa sesak dalam d**a. "Mama ingin kamu hidup dengan baik. Haruskan Mama meninggalkan kamu di sini? Apakah akan ada orang yang berbaik hati menerima kamu sebagai putri mereka sehingga kamu bisa hidup lebih layak?"Nesya terus berbicara seolah-olah putrinya itu bisa mendengarkan keluh kesahnya. Hujan perlahan-lahan mulai reda, tetapi wanita malang itu tak beranjak dari pos ronda reyot itu. Dia menatap kosong ke arah jalanan. Hatinya berkecamuk memikirkan ide yang bisa dianggap gila itu. Namun, semakin sedikit rintik hujan yang jatuh, semakin mantap

