Alvino terjaga dari tidur lelapnya karena terusik dengan mimpi yang tak masuk akal itu. Dia mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih. Dia pun mengubah posisinya menjadi setengah berbaring, punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Tiba-tiba, tangan kanannya terulur menyentuh pipi. Mengusap bulir bening yang entah sejak kapan jatuh dari pelupuk matanya. Dia menatap sisa air mata itu di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamar. Alvino mengusap wajah kasar, mendesah frustrasi. Lagi-lagi, hidupnya terusik karena mimpi yang hampir setiap hari datang ketika matanya terpejam. Seorang anak dengan wajah penuh cahaya--sehingga ia tak bisa mengenalinya--terus saja merengek, memanggilnya 'papa'. Pemuda jangkung itu mengedarkan pandang ke penjuru

