"Nesya?" Tubuh Nesya membeku seketika. Ditatapnya wanita paruh baya yang saat ini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Apa maksud kamu, Nesya? Saya tidak salah dengar, 'kan?" tanya wanita itu sedikit tak percaya. Berharap bahwa apa yang dikatakan oleh anak tirinya tidaklah benar. "Kamu ... Kamu ham-il?" Nesya beranjak dari ranjang queen size-nya, kemudian berjalan mendekati Aliyah. "Kenapa memangnya? Kamu mau mengadu ke Papa tentang hal ini?" Senyum sinis tersungging di bibirnya. "Oh ya, aku lupa kalau kamu itu wanita berbisa. Pasti kehamilanku ini bisa menjadi senjata ampuh untuk menyingkirkan aku," ujarnya sarkas. "Nesya! Saya sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk menyingkirkan kamu. Saya sudah menganggap kamu sebagai anak kandung saya sendiri." "Bohong!" Netra hitamnya berkaca

