Bab 4 Game Death Timer
Satu jam kemudian sosok lelaki gendut dengan wajah bulat muncul di rumah Fhami, bunyi bel terdengar jelas saat lelaki berusia dua puluh tahun ini menekan bel.
Fahmi yang masih mengenakan kemeja putih dan celana hitam tidak bisa menahan diri untuk tidak mengumpat dalam hati, " Sialan cepat sekali dia!"
Crakk
" Haloo. " Reyhan mengangkat tangan kanannya menyapa Fahmi sembari menahan tawa.
" Ayo cepat masuk! " teriak Fahmi sembari menarik lelaki gendut yang berdiri di depan pintu, ia tidak membiarkan lelaki ini tertawa keras di luar rumahnya.
Itu memalukkan!
Grap
Baru setelah mereka duduk di ruang tamu, gelak tawa terdengar keras dari mulut Reyhan," Apa kau bercanda! Kau serius mencari pekerjaan. "
Muka Fahmi terlihat gelap, ia seperti tidak ingin membahas masalah ini lebih jauh.
" Okeh!! Sorry bro, mana nyokap dan bokap lu. Sepi amat rumah lu. " Reyhan mencoba mengalihkan topik.
" Ehm, udah mati Bro," jawab Fahmi dengan nada dingin, kematian kedua orang tuannya seperti bukan hal yang besar untuknya.
" Seriuss!! Tante Farah dan Om Danu udah meninggal. " Reyhan menaikan alisanya, ia tidak percaya akan perkataan Fahmi.
" Ngapain gue bohong. Ada mereka atau pun tidak itu sama sahaja..." ucap Fhami dengan nada yang berat.
Reyhan menganggukkan kepalanya dan terseyum tipis, ia memahami benar keluarga Fhami. Sikap dan perhatian sebagai orang tua kepada anak sama sekali tidak pernah Fhami dapat, meskipun jatah jajan dan uang bulanan tidak pernah kurang, namun sebagai anak ia butuh kasih sayang.
Kesibukan dalam bekerja membuat mereka tidak pernah memiliki waktu emas untuk berkumpul bersama, mengingat hal ini terkadang Fahmi merasa sedih.
Sedih bukan karena ditinggal pergi ayah dan ibunya, melainkan memiliki kedua orang yang tidak perhatian seperti bukan orang tua.
Tidak ada memarahi Fahmi ketika ia mbolos sekolah, pernah sekali ia mendekam di penjaga remaja karena kasus tauran, namun sikap kedua orang tuanya masih acuh tak acuh.
Itu yang disebut orang tua, pikir Fahmi!
" Ehmm, ngomong-ngomong bersih juga yah rumah lu. " Reyhan kembali mengalihkan topik, sembari menatap meja dan beberapa perabot rumah tangga yang bersih ia melihat rumah Fhami terawat dengan baik.
Fahmi mengulas senyum sederhana sebelum kembali berkata dingin dan tertawa," Sejak kapan kau jadi suka memperhatikan lingkungan sekitar mu!"
" Ayolah, ini bukan ciri khas mu. Apa kau lupa tujuan mu datang kemari," Fhami menatap wajah bulat Reyhan itu dengan sorot mata tajam.
" Sepertinya kau belum berubah, kita akan langsung ke intinya. " Reyhan mengeluarkan beberapa kertas seperti lembaran dokumen dalam amplop coklat khas seperti pelamar kerja.
Fahmi tertawa keras, akhirnya tiba juga saatnya dimana ia memiliki kesempatan untuk mengejek, " Apa kau bercanda! Apa kau ingin melamar kerja disini!?"
Reyhan nampak berkedut salah satu sudut matanya, kemudian berkata dengan sangat kesal," Oeyy!! Ini bukan game real life biasa!!"
Fahmi mengerutkan keningnya dan membaca lembaran demi lembaran kertas di atas meja, setelah selesai membaca, matanya melebar dan mulutnya terbuka.
" Ini serius!? " teriak Fahmi masih dengan mata melonggo.
" Buat apa aku bohong! Lihat shaja ini, " Reyhan menunjukkan saldo akun banknya dalam krus dolar.
" Itu... 10000000 $. Apa ini tidak kelebihan angka kosongnya! " teriak Fahmi dengan mulut yabg terbuka lebar.
" Tu... "
Belum sempat Reyhan menyelesaikan perkataannya, Fahmi telah memotongnya dengan cepat!" Berapa harga yang harus dibayar. " kata Fahmi dengan nada yang monoton.
Apa game ini perjudian!? Fahmi masih menerka-nerka kebenarannya, dari beberapa lembar kertas yang ia baca ia sedikit bisa menyimpulkan ada keterikatan kusus antara pihak pertama dengan pihak kedua. Meskipun reward yang diberi itu fantastis.
Ini seperti surat perjanjian hidup dan mati!
" Apa kau pikir ini perjudian!" Reyhan berkata keras setelah itu ia tertawa, " Apa kau percaya SuperMan dengan batu kryptonnya?"
Plak
Fahmi menyadari arah kemana Reyhan berbicara, ia memukul pahanya dan tertawa kecil, " Jangan bilang kau memiliki kekuatan super!?"
" Adakah sesuatu di halaman belakang mu yang bisa membuatku unjuk gigi, " Reyhan berkata dengan nada yang sombong sembari menyeringai dengan seyuman khas penjahat jalanan.
" Ini baru Reyhan yang aku kenal. " Fhami mengacungkan kedua jempolnya," Ikuti aku."
Rumah Fhami cukup luas, dengan halaman depan yang mampu menampung tiga unit mobil besar, halaman belakang Fahmi lebih dari cukup untuk menampung dua unit mobil bus panjang.
Fahmi memimpin jalan, ia bersama Reyhan keluar menuju halaman belakang rumah Fhami.
Rerumputan liar nampak merajalela di mengitari sebuah pondok kecil dengan antap rumah yang brobok.
" Apa kau bisa meruntuhkan Pondok untuk membuktikan dirimu? " Fhami mencoba memancing Reyhan untuk mengeluarkan kekuatan penuhnya.
" Aku ragu bisa melakukannya, lagi pula kata siapa aku mampu mengalahkan SuperMan?"
" Potong semak belukar dan cepat tunjukan kepadaku apa yang ingin kau perlihatkan. " Fhami mendengus kesal, ini tampak seperti bertele-tele.
" Di dalam game DT, kau berlaku sebagai player. Karakter gamenya dirimu sendiri, segala setatus kemampuan akan sistem tampilkan dalam sebuah aplikasi yang akan perusahan kirimkan. " Reyhan berkata dengan pelan, intonasinya terdengar jelas. Ia seperti seorang guru yang tampil menunjukkan materi pelajaran.
" Dimerngerti, lanjutkan! " Fahmi tidak mau kalah, ia terlihat sangat antusias seperti seorang murid yang mencintai mata pelajaran gurunya.
" Hmm, "ucap Reyhan menganguk pelan saat ia memberikan jeda sebentar akan penjelasan yang ia katakan, hal ini sengaja ia lakukan untuk memancing rasa penasaran sahabatnya.
" Real game life ini persis seperti game rpg atau mmorpg, setiap pemain memiliki stat nya masing-masing.
Biar aku tunjukan kepada mu sedikit stat yang aku miliki ini mampu meremukkan dinding tembok. "
Reyhan berdiri tegap di samping tembok, tanpa mengambil ancang-acang atau mengubah posisi kaki, pria gendut ini memukul tembok dengan lemah gemulai, persis seperti anak perempuan yang sedang jatuh cinta memukul pasangannya.
Dugh
Melihat hal itu Fahmi tertawa keras, sampai kepalanya terlempar kebelakang, " Apa kau bercanda! Kau memukul tembok dengan cara seperti itu!"
Sudut mulut Reyhan berkedut keras, ingin sekali ia memaki dan memukul Fahmi, tapi kasihan! Ini sahabatnya loh!
Gerp
Masih terdengar suara cekikikan dari mulut Fhami, Reyhan menarik Fhami keluar menjauh dari pondok. Dan sesuatu yang mengejutkan membuat Fhami manahan nafas.
Grubrakk
Pondok kecil seluas dua kali tiga meter itu ambruk!
" Apa menurut mu aku bisa menyamai Superman!? " Reyhan terseyum mengejek saat melihat ekspresi wajah Fhami yang tertegun.
Fahmi mengabaikan perkataan Reyhan, segera setelah ia pulih dari rasa terkejutnya. Ia bangkit menuju pondok dan memeriksa dinding tembok.
Tok
Tok
" Ini... Keras dan masih sangat keras, bagaimana kau bisa!!" Mata Fhami melotot saat memandang Reyhan dan dinding tembok secara berganti. Tembok ini meskipun tua, namun masih sangat keras. Jika itu dia apakah mampu membuat hal yang sama seperti Reyhan!?
" Ini stat ku! Kau bisa memeriksanya! " Reyhan memberikan ponsel miliknya dan menampilkan karakternya dirinya bersama statnya.
Nama : Reyhan lvl 30
Str : 30000
Vit:50000
Int:10000
Agi:20000
Dex:30000
Lux:10000
" Kau pasti bercanda! Ini... Sungguh benar-benar menakjubkan!! " Fhami sampai kehabisan kata-kata saat membaca setiap informasi karakter Reyhan.
" Kau bisa menyebutkan salah satu keahlian yang aku miliki di panel karakter itu," seru Reyhan dengan seyuman mengejek yang jelas itu terlihat sangat menyebalkan.
Jika shaja itu bukan Fhami, seseorang kuat pasti tidak akan tahan melihat seyuman mengejek yang di tunjukan Reyhan. Itu pun jika ada yang cukup kuat untuk menahan pukulan mautnya.
" Coba lompat 30 meter! " seru Fhami dengan nada yang penuh dengan semangat.
Wuss
Drap
Kaki Reyhan hanya sedikit meringkuk, namun ia mempu membuat lompat tiga puluh meter dengan mudah.
" Sungguh Luar biasa!! Sobat kau bisa menjadi juara Olimpiade dengan kemampuan ini! " ucap Fhami sembari bertepuk tangan.
" Coba Tinju Badai! " lajut Fahmi dengan nada polos seperti anak kecil yang ketagihan melihat pertunjukan.
" b*****t!! Apa kau bercanda! " Sudut mata Reyhan mengang dan tangannya mengepal keras ketika Fhami mengatakan keinginannya tanpa beban, seperti anak kecil!
" Ayolah! " Fhami merengek perisis seperti anak kecil meminta uang jajan.
Tidak marah, Reyhan kali ini ingin menantang Fhami!" Iya tapi elu yang jadi samsaknya! " Reyhan kembali menyeringai seperti penjahat jalanan. Melihat itu Fhami hanya mendengus kesal sembari memalingkan muka.
" Lupakan! "
" Kembali ke bisnis! Jelaskan padaku bagaimana caranya aku bermain DT, risiko dan cara tercepat menjadi pemain top, pokoknya semua informasi tentang game..."
" Setelah bekata manis seperti anak kecil, sekarang kau beucap seperti emak-emak! FHAMI! kau benar-benar tidak berubah! " Potong Reyhan.
Nada bicara Reyhan terdengar sangat kasar bagi siapa pun yang tidak mengenalnya, namun bagi Fhami itu sebuah lelucon yang mengelitik perutnya.
Keduanya tertawa keras, kemudian pembicaran mereka dilanjutkan di ruang tamu.
Reyhan tidak mengatakan penjelasan apa pun saat ini, ia hanya meminta Fhami untuk membaca dengan detail lembaran document yang ia bawa, sebelum dapat menjawab semua pertanyaan Fahmi.
Bruk
" Selesai membaca! "
" Hm. "
" Bagaimana?! " tanya Reyhan.
" Ini surat perjanjian hidup dan mati! " seru Fhami masih dengan ekspresi tenang.
" Apa ini seperti game Rpg pada umumnya?! Akan ada Player Kill, misi harian, misi utama dan... " Fhami menyebutkan segala hal yang ia ketahui di game rpg.
" Benar!... Benar hanya shaja kau melupakan satu hal, game Death Timer ini secara keseluruhan memang seperti Rpg, namun jika kau tidak bisa memperpanjang waktu, karakter elu akan mati. Kematian karakter sama dengan kematian mu di dunia nyata. "
" Jika elu tidak ingin terlibat dengan pertikaian player ( player Kill) , elu bisa bisa menyelesaikan misi harian tanpa harus khawatir akan kematian," lanjut Reyhan sembari menyunggingkan senyum sederhana.
" Itulah sebabnya surat perjanjian ini ada!" Fhami memberikan komentar keras.
" Eeet, apa kau meragukan kehebatanku sebagai seorang Gamer sejati!? " Fahmi menatap mata bulat Reyhan dengan tajam seraya tertawa kecil.
" Tidak sia-sia kau masuk penjara remaja, betul sekali! Masih ingin bermain, keputusan ada di tangan mu! "
" Aku akan tetap bermain! Apa ada nasihat lain untuk gue! "Fahmi telah mengambil keputusan.
Reyhan menggelengkan kepalanya pelan, " Jangan sampai mati! " Kata-kata itu disusul tawa keras dari mulut Reyhan.
Walaupun perkataan itu bercampur nada bercanda, Fahmi yang paham akan sifat sahabatnya ini terseyum kecut, " Suhu, apa kau akan membiarkan murid ini mati di tengah jalan?" Fahmi mengambil sikap seperti seorang murid kepada gurunya, dengan sedikit menundukan kepala dan gaya tangan yang sama, seperti murid memberi hormat kepada guru dalam perguruan silat cina.
" Gue suka gaya elu! " Tawa keras menggema dalam ruang tamu, Fhami tersebut tipis dan memandang Reyhan dengan penuh penghormatan.
" Apa dulu kau berpikir masa dimana kau akan meminta bantuanku akan tiba, " tanya Reyhan dengan nada rendah, namun terdengar sangat serius.
Fahmi menggelengkan kepalanya pelan dan berkata," Tidak, ini hubungan pertemuan bukan perdangangan sobat, " balas Fhami dengan terseyum lebar.
" Hari ini juga kau akan menjadi pemain DT, tidak akan aku biarkan siapa player membunuh mu. "
" Apa kau berjanji! " Fhami menatap Reyhan dengan mata berbinar, salah satu sudut hatinya terasa hangat saat mendengar perkataan itu.
" Hmm, aku berjanji dan kau bisa memegang perkataanku," ucap Reyhan dengan nada tegas, tapi tidak keras.
" Murid memberi hormat kepada guru." Fhami mengambil gaya hormat seperti sebelumnya.
Gelak tawa kembali terdengar di ruangan tamu keluarga Wijaya, itu terdengar sangat keras! Pedagang bakso keliling pun dapat mendengar suara mereka di pinggir jalan.
" Anak Wibu kedatangan temannya. " Penjual Bakso tertawa kecil sembari mendorong gerobak baksonya.
Obrolan Fhami berlanjut mengenai keseharian mereka, cerita panjang dan banyak pertanyaan banyak Fhami tunjukan kepada Reyhan, sebab satu tahun yang lalu Reyhan pergi ke Amerika.
Obrolan keras dengan gelak tawa menghiasi percakapan mereka untuk beberapa jam kemudian, baru setelah hari telah menunjukkan jam dua belas malam Reyhan izin untuk pulang.
" Besok akan ada berkas Dokument, tanda tangai semua dengan meterai sepuluh ribu. Jika sudah selesai klik link yang aku kasih supaya kurir menjemput paket mu! "
" Okeh okeh. " Fhami mengacungkan kedua jempolnya.
" Hati - hati di jalan! "
" Asssiiappp bosskuh!! "
Kesesokan hari," Mana paketku, bukankah seharusnya hari ini sampai. "
Satu hari Fhami menunggu, sampai hari kembali menjadi gelap, namun paketnya belum kunjung datang.
Sampai pada jam sembilan malam, mobil mewah berhenti di depan rumah Fhami, seseorang dengan pakaian berjas mewah masuki rumah Fhami.