06. Terpengaruh

1172 Words
06. Terpengaruh Laura tidak menyangka kalau pertemuannya bersama seorang pria bernama Adam di sebuah acara makan malam yang sengaja diatur oleh ibunya akan berbuah manis seperti sekarang. Karena Adam adalah sosok pria yang sangat menyenangkan. Meskipun begitu, Laura hanya menganggap pria itu tak lebih dari seorang teman. “Adam, terima kasih untuk tumpangannya.” Laura menatap Adam dengan senyum cantik yang terukir di bibirnya. “Kalau saja tadi Mama mengizinkanku untuk membawa mobil sendiri ... mungkin kau tidak perlu repot-repot untuk mengantarku pulang seperti ini.” Padahal, tanpa Laura ketahui, sebenarnya Viona memang sengaja melarangnya membawa mobil sendiri, agar Laura bisa diantar pulang oleh Adam, dan kedua orang itu bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi selama berada di dalam perjalanan pulang. “Tidak masalah, Ra. Aku malah sama sekali tidak merasa direpotkan,” balas Adam dengan nada ramah. Tanpa sadar, Laura malah tersenyum semakin lebar. Dan secara mengejutkan, Adam kembali dibuat berdebar tak keruan, sama seperti tadi saat pertama kali mereka berdua berjabat tangan ketika bertemu di restoran sebelum memulai acara makan malam. “Kalau begitu, aku turun dulu ya? Kau hati-hati di jalan, karena ini sudah larut malam.” Adam lantas menganggukkan kepalanya, dan membiarkan Laura keluar dari dalam mobilnya. Laura sempat melambaikan tangannya sebelum benar-benar masuk ke dalam gerbang rumah yang sudah dibukakan oleh seorang satpam yang sedang berjaga di sana, sedangkan Adam hanya tersenyum kecil begitu melihatnya. Lalu, Adam dan satpam itu pun tampak saling bertukar anggukan. Dan Adam baru menaikkan kaca jendela mobilnya setelah satpam itu selesai menutup gerbang di kediamannya keluarga Ganendra. Setelah itu, ia pun mulai tancap gas untuk segera kembali ke kediamannya sendiri dengan suasana hati yang amat sangat baik. *** “Ya ampun, Ra. Mama pikir kau tidak akan betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu bersama Adam, tapi rupanya ....” Viona tampak menggeleng gemas dengan senyum bahagia yang sudah terukir manis di bibirnya. Laura langsung tersenyum geli begitu melihat ekspresi ibunya. “Mama jangan terlalu berlebihan begitu. Lagi pula, ini cuma makan malam biasa, bukan? Seperti yang Mama bilang sebelumnya.” “Iya, tapi ... tidak ada salahnya kan kalau Mama berharap kau dan Adam akan menjalin hubungan yang jauh lebih serius lagi suatu hari nanti?” Senyum di bibir Laura jadi lenyap seketika. Laura tahu kalau ibunya itu pasti berharap banyak pada pertemuannya dengan Adam. Tetapi, masalahnya, ia masih belum siap untuk menjalin hubungan. Dan menurutnya, pria sebaik Adam tidak pantas untuk dijadikan pelarian dari perasaannya untuk Marvin yang semakin mengakar. “Ra?” “Hmm?” “Kenapa melamun?” tanya Viona setelah itu. Laura tampak kembali mengukir senyum, tapi ia tidak akan berkata jujur. “Tidak apa-apa, Ma. Aku hanya memikirkan tentang pekerjaan yang belum sempat kuselesaikan, karena tadi aku pulang lebih awal.” Viona langsung berdecak kesal di hadapannya Laura yang selalu saja mengutamakan pekerjaan. “Jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kau istirahat saja sekarang, apa lagi ini sudah larut malam.” *** Keesokan harinya, Laura kembali menjalani rutinitas sehari-harinya. Ia pergi ke kantor seperti biasanya, dan ia juga bertemu dengan Syakira di lobi kantor ayahnya. Namun, saat Syakira bertanya mereka nanti siang akan makan di mana, Laura langsung menampilkan raut wajah tidak enak ke arah sang sahabat. “Kenapa?” tanya Syakira kemudian. “Nanti siang kau ada meeting di luar ya?” Laura lantas menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas tebakan Syakira barusan. “Aku sudah ada janji untuk makan siang bersama seorang teman.” “Teman?” Syakira tampak mengerutkan keningnya di samping Laura, karena saat ini mereka berdua sedang menunggu lift yang belum terbuka. “Temanmu yang mana?” Setahu Syakira, Laura hanya sering pergi makan siang bersama dua orang. Pertama, dirinya. Kedua, Damar. Atau bersama kliennya yang kebetulan ingin mengadakan meeting saat di jam makan siang. Dan saat ini semua orang di kantor pun tahu kalau Damar sedang mengurus pekerjaannya di Raja Ampat sampai beberapa minggu ke depan. Laura mulai berdeham pelan. Sebelum ia sempat membuka suara, lift di hadapan mereka sudah lebih dulu terbuka. Sehingga ia pun langsung mengajak Syakira untuk segera masuk ke dalam sana. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Ra,” ucap Syakira saat lift yang mereka tumpangi sudah mulai bergerak. “Nanti akan kuceritakan sebentar,” balas Laura sembari melirik beberapa pegawai lain yang mencuri dengar obrolan singkatnya dengan Syakira. Karena saat ini ia tidak menaiki lift khusus seperti biasanya. “Jadi, siapa ‘teman’ yang kau maksud tadi?” tanya Syakira saat mereka berdua sudah berada di dalam ruang kerjanya Laura. “Dia adalah orang yang kutemui di acara makan malam kemarin—” “Apa?!” Kedua bola matanya Syakira nyaris menggelinding ke bawah saking kagetnya ia begitu mendengar penuturan dari Laura barusan. “Jadi, hari ini kau akan makan siang dengan teman kencanmu kemarin malam?” Syakira tampak mengerling dengan raut wajah jenaka. “Oh, gosh. Ini sebuah kemajuan yang bagus.” Laura langsung memutar bola matanya dengan gerakan malas. “Aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa, tidak lebih, Sya.” “Oh, ya?” balas Syakira yang terlihat tak mau percaya begitu saja. “Tapi bagaimana dengan dia? Apakah dia juga menganggapmu sebagai teman biasa?” Laura langsung terdiam. Sementara Syakira mulai bangkit dari atas kursi yang saat ini sedang diduduki olehnya. “Berhati-hatilah, Ra. Karena terkadang, seseorang bisa menyalahartikan sikap baik kita kepada mereka. Padahal, kita tidak memiliki maksud apa-apa.” Syakira menjeda, dan menatap Laura tepat di bola matanya. “Kau pasti paham kan dengan apa yang kukatakan? Jangan sampai kau menyesal nantinya.” *** Berkat ucapan Syakira tadi pagi, akhirnya Laura pun memutuskan untuk membatalkan acara makan siangnya bersama Adam. Karena ia tidak ingin membuat pria itu berharap lebih atas sikap baik yang ia tunjukkan. Untung saja Adam sama sekali tidak merasa keberatan setelah ia mengutarakan niatnya yang ingin membatalkan acara makan siang mereka secara tiba-tiba dengan alasan jika dirinya sedang ada pekerjaan mendadak. Namun, Adam malah berharap kalau mereka berdua bisa makan siang bersama di lain kesempatan. Hal itu kontan saja membuat Laura jadi berpikir kalau Adam memang betul-betul mengharapkan hubungan lebih terhadap dirinya yang saat ini masih menyimpan perasaan untuk Marvin. “Sepertinya aku harus membatasi diri, supaya Adam tidak menyalahartikan sikap baikku ini.” Laura bergumam sendiri sambil menaruh ponselnya ke atas meja. Karena ia baru saja selesai menghubungi Adam untuk membatalkan acara makan siang mereka. Kemudian, Laura pun mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Syakira untuk memberitahunya jika nanti ia ingin makan siang bersama. From: Syakira | Lho? Bukankah siang ini kau ingin makan siang bersama teman kencanmu kemarin? To: Syakira | Tidak jadi. From: Syakira | Kenapa? Syakira tampak mengirimkan emoji tertawa sampai terguling sebanyak tiga buah di akhir pertanyaannya. Laura lantas mengetikkan sebuah balasan untuk pertanyaan Syakira barusan. To: Syakira | Karena ucapanmu tadi pagi. Dan Laura pun segera menambahkan satu pesan singkat lagi, yang berisi: Aku masih tidak percaya kalau kau bisa memengaruhiku sampai seperti ini. Lalu balasan dari Syakira muncul lagi. From: Syakira | Hahahaha. Aku hanya mengatakan kemungkinan yang ada, Ra, dan tidak memiliki maksud apa-apa. ***** Sampai ketemu lagi di bab selanjutnya ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD