07. Rencana Liburan

1118 Words
07. Rencana Liburan Hari ini Viona sudah mewanti-wanti Laura agar wanita itu pulang kerja di jam normal, karena mereka semua akan menghadiri sebuah acara makan malam keluarga di hotel milik keluarga Daraja. Acara makan malam itu sengaja direncanakan oleh Muezha, adiknya Viona yang tadi siang baru saja tiba di Jakarta bersama suaminya untuk melakukan pengecekan rutin atas segala pekerjaannya Marvin. Namun, Laura sengaja tidak datang ke hotel itu lebih awal seperti ibu dan kedua adiknya yang sudah berangkat duluan ke sana. Ia datang tepat saat menu makan malam sudah terhidang semua di atas meja, dan semua orang pun tampak sudah duduk di masing-masing tempat. Begitu sampai, pandangan mata Laura langsung terpaku ke arah wanita cantik yang duduk tepat di sebelahnya Marvin. Wanita itu ... dia adalah Friska. Ternyata Marvin benar-benar mengajak wanita itu ke acara keluarga mereka. Saat itulah, Laura merasa kalau lantai di bawah kakinya hancur seketika, lalu menenggelamkan dirinya ke bawah tanah. “Nah, ini dia.” Tahu-tahu Muezha menghampiri Laura yang masih berdiri beberapa langkah dari meja yang dihuni oleh keluarga mereka. Kemudian merangkul lengannya seperti biasa, dan mengajaknya untuk mendekati Friska yang langsung berdiri dari tempat duduknya. “Dia keponakan Tante yang paling besar, namanya Laura. “Laura, perkenalkan, ini Friska. Dia kekasih barunya Marvin. Dan Friska, ini Laura.” Muezha memperkenalkan kedua wanita itu dengan antusias, dan Laura terpaksa harus mengumbar senyum di bibirnya. Meski saat ini hatinya sedang diremas oleh tangan tak kasat mata, karena tantenya itu baru saja memperjelas statusnya Friska. “Oh iya, kalian juga seumuran,” ujar Viona dari tempat duduknya. Dan hal itu langsung dibenarkan oleh Muezha. Karena ia sudah mengetahui berapa umurnya Friska. Bahkan kedua orang tuanya pun tadi sudah sempat menyuruh Marvin untuk segera menikah, karena Marvin dan Friska sudah sama-sama dewasa. Setelah itu, Laura dan Friska pun mulai berkenalan. Mereka bersalaman dengan raut wajah ramah. Padahal Laura ingin sekali melarikan diri dari sana secepatnya, lalu menumpahkan air matanya dengan hati yang terluka. Namun, Laura masih cukup waras untuk tidak melakukannya. Karena ia tahu kalau saat ini dirinya harus terlihat baik-baik saja sambil menyapa para orang tua yang turut hadir di sana. Tak lupa, ia juga mengumbar senyum manis kepada semua orang untuk meyakinkan mereka kalau tidak ada yang salah dengan dirinya. “Tante.” “Ya?” “Di mana Kak Alyss? Apa dia tidak ikut ke sini?” tanya Laura saat ia sudah duduk di sampingnya Muezha, dan menyadari kalau Alyssa, anak pertama tantenya itu tidak terlihat di antara mereka semua. “Iya, dia tidak ikut ke sini, Ra. Anaknya sedang sangat rewel sekarang.” “Berarti dia sendirian di Bali?” Laura bertanya lagi. “Iya, tapi besok Tante dan Om akan langsung pulang. Makanya malam ini Tante menyempatkan diri untuk mengadakan acara makan malam bersama.” Laura hanya mengangguk mengerti. Setelah itu, pandangannya pun berpaling ke arah Marvin. Entah apa yang sedang dibisikkan oleh pria itu kepada sang kekasih, sampai Friska dibuat tersenyum geli. *** “Mama perhatikan akhir-akhir ini wajahmu semakin keruh saja, Ra. Apa ada masalah?” tanya Viona pada Laura yang saat ini sedang duduk sendirian di atas sofa ruang tengah. Di weekend kali ini Laura memang tidak ingin pergi ke mana-mana, dan hanya ingin mendekam di dalam rumah saja seharian. Karena ia sedang tidak berselera untuk pergi berjalan-jalan. “Tidak ada, Ma.” Laura tampak menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ... merasa lelah.” Padahal, kenyataannya, wajah keruh Laura disebabkan oleh Marvin dan Friska yang terlihat semakin mesra di setiap harinya. Karena Laura sudah mengikuti akun media sosialnya Friska menggunakan akun kedua miliknya. Dan Friska sering membagikan aktivitasnya bersama Marvin di insta story akunnya. Tentu saja Laura merasa sangat cemburu saat melihatnya. Meskipun begitu, Laura tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, bodohnya, Laura tetap saja menjadi salah satu penonton setia di setiap unggahan yang dibagikan oleh Friska di sana. Syakira bilang, ia sengaja mencari penyakit untuk melukai hatinya. Dan Laura hanya tersenyum kecut saja, karena ucapan sahabatnya itu memang benar adanya. “Sepertinya kau harus mengambil cuti dari pekerjaan, dan segera pergi liburan,” ucap Viona yang mulai menyimpulkan. Laura lantas tersenyum kecil begitu mendengarnya. “Lalu, siapa yang akan menggantikan aku di kantor, Ma? Lagi pula, saat ini Papa sedang berada di luar kota.” Viona langsung terdiam. Tetapi, otaknya tetap berjalan, dan sebuah ide pun mulai muncul ke permukaan. “Bagaimana kalau kau mengambil cuti saat akhir bulan nanti? Saat papamu sudah kembali ke sini.” Laura kontan mengerutkan keningnya begitu mendengar penuturan ibunya barusan. “Bukannya Papa baru akan pulang di pertengahan bulan depan?” Viona segera menggelengkan kepalanya. “Dia akan pulang lebih cepat, Ra. Karena Mama menolak untuk menyusulnya ke sana.” Laura tampak menyunggingkan senyum di bibirnya. “Kenapa? Bukannya bagus kalau Mama menyusul Papa di sana? Kalian bisa berbulan madu untuk yang kesekian kalinya,” ucapnya dengan nada menggoda. Membuat Viona melotot seketika. Kemudian mengibaskan salah satu telapak tangannya di udara. “Jadi, bagaimana? Kau ingin pergi liburan, atau tidak?” tanya Viona kemudian. Laura tampak berpikir sebentar. Sampai akhirnya, ia pun memilih untuk menyetujui tawaran dari ibunya barusan. Tidak ada salahnya juga kan kalau ia pergi liburan untuk sementara? Lagi pula, sudah sangat lama ia tidak pergi berlibur sendirian, dan menikmati waktunya untuk terbebas dari setumpuk pekerjaan. Setelah itu, Viona pun menyuruh putri sulungnya itu untuk membuat sekaligus mengajukan surat cuti secepatnya. Karena meskipun Laura bekerja di perusahaan ayahnya, dia juga harus tetap mengikuti prosedur yang ada. *** Sesuai dengan rencana yang telah diatur olehnya, di akhir bulan ini Laura akan benar-benar pergi liburan. Bahkan ia juga sudah selesai mempersiapkan segala keperluannya. Dan besok, ia hanya perlu bangun pagi, lalu pergi sambil membawa tiket pesawat beserta kopernya yang saat ini sudah dipisahkan di bagian sudut kamar. Laura langsung tersenyum senang begitu membayangkan waktu liburnya yang sudah hampir berada di depan mata. Tak lama kemudian, Laura sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mulai membayangkan liburannya yang pasti akan terasa sangat menyenangkan, meskipun nanti ia akan pergi sendirian. Laura jadi berpikir, bagaimana kalau seandainya ia nanti bertemu dengan seorang pria yang bisa membuatnya merasakan ... cinta pada pandangan pertama? Pasti semuanya akan terasa sangat mudah, dan ia pun bisa melupakan Marvin secepatnya. Laura lantas menghela napas panjang sambil tak sengaja membayangkan sosok Marvin dengan kedua bola matanya yang saat ini sedang terpejam. Lalu, ia pun mulai bergumam. “Seandainya saja bukan kau orangnya ... pasti semuanya akan terasa jauh lebih mudah.” Dan jika disuruh memilih, sebenarnya Laura sama sekali tidak ingin memilih Marvin sebagai tempat ia menjatuhkan hati. Karena pria itu ... adalah sepupunya sendiri, dan fakta itulah yang membuat segalanya jadi terasa sangat rumit. ***** Pssttt... jangan lupa mampir ke ceritanya Alyssa ya! Judulnya AKU BUKAN DIA karya ruangbicara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD