05. Sudah Waktunya
Siang ini Laura menyantap iga bakar di salah satu restoran yang terletak tak jauh dari kantornya. Ia makan berdua bersama Syakira. Syakira adalah satu-satunya rekan kerja yang paling akrab dengan Laura. Sehingga mereka berdua pun sering makan siang bersama. Entah itu makan di kantin kantor, ataupun di tempat makan lainnya.
Di tengah acara makan siangnya, Laura tak sengaja melihat Marvin yang baru saja datang bersama dengan seorang wanita. Dan wanita itu adalah wanita yang sama dengan wanita di foto yang waktu itu sempat diunggah oleh Marvin di media sosial miliknya. Berarti wanita itulah yang bernama Friska.
Dan saat ini Marvin terlihat sedang menarikkan kursi untuk Friska, lalu mengusap lembut pucuk kepalanya sebelum beralih ke arah kursi yang satunya. Hingga tanpa sadar, Laura pun terpaku pada pemandangan yang cukup menyakitkan itu.
“Ra ....” tegur Syakira sambil mengikuti arah pandangan matanya Laura. Kemudian, ia pun menggeleng pelan begitu melihat sosok Marvin lah yang sedang diperhatikan oleh sahabatnya. “Sudah, jangan terus-menerus melihat ke arah sana.”
Laura langsung menundukkan wajahnya begitu mendengar teguran dari Syakira barusan.
“Mau sampai kapan kau seperti ini terus, Ra?” tanya Syakira tak lama kemudian.
Laura hanya terdiam dengan kedua tangan yang tengah sibuk memegang gelas minuman di atas meja.
“No offense ya, tapi kau harus mengingat berapa umurmu sekarang. Sudah dua puluh delapan. Sudah waktunya untuk benar-benar serius mencari pasangan.”
Laura hanya mampu menghela napas panjang, dan kembali berpaling ke arah Marvin yang sedang tertawa bersama teman wanitanya.
“Mungkin aku baru akan serius mencari pasangan setelah dia benar-benar menikah dengan seseorang,” gumam Laura sembari menatap ke arah Marvin dengan pandangan menerawang.
Namun, ia segera mengalihkan perhatiannya dari sana, agar pria itu tidak memergoki aksinya barusan.
“Tapi, kapan dia akan menikah?” tanya Syakira.
Laura pun tidak tahu jawabannya.
“Dia itu seorang pria, Ra. Jadi, tidak masalah kalau dia akan menikah di usia yang jauh lebih tua.”
Laura hanya termenung saja di hadapan Syakira, tapi ia mulai memikirkan ucapan yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya.
Sampai tak lama kemudian, Laura pun akhirnya bersuara. “Kurasa ... itu bukanlah sebuah masalah. Lagi pula, kita sudah hidup di zaman modern kan, Sya? Di mana wanita lebih memilih untuk mementingkan karier mereka ketimbang memiliki suami di usia muda.”
“Hah?” Kedua bola matanya Syakira langsung membulat tak percaya, sedangkan Laura masih saja mencuri-curi pandang ke arah mejanya Marvin yang terlihat sangat mesra bersama dengan seorang wanita.
***
Sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Laura memang sudah cukup sering mencuri-curi pandang ke arah Marvin yang saat itu sudah sangat menarik hatinya. Ia bahkan sangat menanti-nantikan saat di mana keluarga besar mereka bisa berkumpul bersama, entah itu hanya untuk makan malam biasa, ataupun berkumpul di acara pesta yang diselenggarakan oleh keluarga besar mereka.
Namun, hal yang paling membahagiakan sekaligus paling ditunggu-tunggu oleh Laura saat ia masih remaja adalah waktu libur sekolah. Karena keluarganya dan keluarga Marvin sering berlibur bersama, dan menghabiskan momen indah dalam waktu yang cukup lama. Sehingga ia pun bisa puas melihat wajah Marvin secara langsung, lantaran saat itu mereka berdua masih tinggal di pulau yang berbeda.
Ia tinggal di Jakarta bersama keluarganya Viona, sedangkan Marvin tinggal di Bali bersama kedua orang tua beserta kakak perempuannya.
Awalnya memang hanya sekadar curi-curi pandang setiap kali bertemu di acara keluarga, tapi akhirnya Laura mulai menyadari kalau ada yang berbeda setiap kali ia bertemu dengan Marvin, ataupun memandangi fotonya. Hingga tanpa sadar, ternyata pria itu sudah menguasai isi hatinya, dan membuatnya jadi tidak berselera untuk menjalin hubungan dengan siapa-siapa.
Entah sejak kapan rasa itu mulai bertumbuh di dalam dad@, tapi yang jelas, Laura jadi sering menjadikan Marvin sebagai sosok lelaki idaman di hidupnya. Setiap kali ada lelaki yang mendekatinya, ia pasti akan mencari sosok Marvin di sana. Saat ia tidak berhasil menemukannya, maka ia akan menjauh begitu saja. Tetapi, saat ia sudah berhasil menemukannya, ia malah tidak pernah merasa puas untuk mencari kesamaan yang ada. Karena ia pasti akan mencari kesamaan yang lainnya. Sampai akhirnya, ia pun menyerah begitu saja. Lalu menyudahi masa pendekatan yang dilakukan oleh lawan jenisnya.
Jadi, itulah alasan kenapa Laura masih belum juga memiliki pasangan. Karena ia sudah memendam perasaannya untuk Marvin sejak lama, hingga membuat perasaan itu terus-menerus mengakar di dalam hatinya sekaligus membuatnya kebablasan, dan tanpa disadari ternyata umurnya sudah memasuki usia ke-dua puluh delapan tahun.
Laura tahu, seharusnya ia sudah bergerak untuk cepat-cepat move on, tapi ... ia belum memiliki niat seteguh itu. Apa lagi ia mengetahui jika Marvin belum berniat untuk menikah dengan siapa pun. Sehingga ia merasa ... kalau masih ada kesempatan untuk dirinya, agar mereka berdua bisa bersanding bersama. Walaupun ia tahu, kalau Marvin tidak akan pernah membalas perasaannya itu.
Laura lantas menghela napas panjang, dan segera menutup akun i********: miliknya. Karena ia baru saja berselancar di sana untuk melihat-lihat beberapa unggahan di feed i********: akunnya Friska. Hingga ia dapat menyimpulkan kalau dalam dua minggu terakhir, ternyata wanita itu sudah tiga kali mengunggah foto yang masih ada sangkut pautnya dengan Marvin.
Kemudian, pintu kamarnya tampak diketuk dari arah luar, dan suara ibunya pun mulai terdengar. “Kak ....”
Jika Viona sudah menggunakan kata ‘Kak’ untuk memanggil Laura, berarti ada hal serius yang ingin dibicarakan. Sehingga Laura pun segera bergegas untuk membuka pintu kamarnya.
“Kenapa, Ma?” tanya Laura setelah membuka pintu kamarnya.
“Kau tidak sedang sibuk kan sekarang?” tanya Viona sebelum mengutarakan niatnya.
Laura lantas menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, yang membuat senyum di bibir ibunya itu tampak semakin melebar.
“Mama mau berbicara sebentar.”
Dan mereka berdua pun akhirnya duduk bersebelahan di ujung ranjang dengan Viona yang sudah menggenggam tangannya Laura di atas pangkuan.
“Kau jangan merasa tersinggung ya, Ra?”
Meskipun sedang dilanda kebingungan, Laura tetap menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang cukup pelan.
“Mama hanya ingin bertanya, apakah saat ini kau sedang dekat dengan seorang pria?” tanya Viona dengan nada seriusnya.
Hal itu kontan saja membuat Laura merasa terkejut di tempatnya. Tetapi, ia tahu kalau dirinya harus tetap memberikan jawaban. “Tidak, Ma. Kenapa memangnya?”
Viona kembali tersenyum lebar ke arah Laura. “Bagaimana jika Mama mengenalkanmu dengan seorang pria?”
Lalu, Viona pun segera menambahkan ucapannya barusan. “Hanya berkenalan saja, Ra. Kalau tidak cocok juga tidak apa-apa. Mama hanya tidak ingin melihatmu terus-menerus menyibukkan diri dengan pekerjaan.”
Karena ini sudah waktunya agar kau serius mencari pasangan, Ra. Lalu menikah, dan segera punya anak, sambung Viona dari dalam hatinya. Sementara Laura masih belum mengatakan apa-apa.
*****
Bersambung .... Jangan lupa masukkan cerita ini ke dalam daftar pustaka kalian ya! Terima kasih :)