04. Usia Rawan
Untung saja hubungan Damar dan Kia sudah membaik seperti semula sebelum pria paruh baya itu berangkat ke Raja Ampat, dan menetap di sana untuk waktu yang cukup lama. Bahkan Damar pun tidak mempermasalahkan Laura yang sempat mengantarkan Kia ke sekolah, karena hukuman yang dimaksud olehnya tadi pagi hanya gertak sambal semata.
Dan saat ini, semua orang yang berada di meja makan, tampak menyantap menu makan malam mereka dengan suasana kekeluargaan yang sangat kental. Sesekali mereka semua akan mengobrol dengan santai. Tidak ada kecanggungan.
Namun, Laura sengaja menahan dirinya agar tidak terlalu sering mengobrol dengan Marvin. Karena ia masih mengingat kejadian siang tadi.
Sampai akhirnya, acara makan malam itu pun selesai, dan Marvin tidak langsung pulang. Melainkan menghampiri Laura di balkon lantai atas setelah berbincang-bincang sekilas bersama Damar yang sedang menonton siaran luar.
“Aku tidak mengerti, kenapa kau bisa semarah ini?” tanya Marvin tanpa berbasa-basi lagi, yang membuat Laura langsung menoleh.
Namun, wanita itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Marvin, dan kepalanya pun kembali berpaling.
“Kalau kau marah karena aku tidak menjawab pertanyaan darimu tentang siapa wanita yang kau maksud, maka ... aku akan menjawabnya sekarang.” Marvin mengangkat bahunya sekilas. Sedangkan Laura tetap tidak memberikan respon apa pun terhadap ucapan Marvin barusan.
“Dia itu adalah calon kekasih baruku.” Marvin langsung menjelaskan siapa wanita yang dimaksud oleh Laura tadi siang, tanpa diminta. “Namanya Friska. Nanti aku akan mengenalkan kalian berdua, kalau kau sedang tidak sibuk bekerja.”
“Tidak perlu,” jawab Laura dengan nada suara yang terdengar sedikit ketus.
“Kenapa?” tanya Marvin sambil menaikkan sebelah alisnya, dan sedikit menyerongkan tubuhnya ke arah Laura.
“Karena aku selalu sibuk bekerja. Jadi, aku tidak memiliki waktu luang untuk berkenalan dengan Friska, kecuali ...,” Laura berdeham pelan. “ ... kalau kau mengajaknya ke acara keluarga kita.”
Marvin hanya mengangguk singkat.
“Tidak heran kalau sampai hari ini kau masih belum memiliki pasangan,” gumam Marvin tak lama kemudian.
Laura langsung mendengkus sebal, dan sudah mengambil ancang-ancang untuk segera pergi dari sana.
Namun, Mavin malah menahan sebelah pergelangan tangannya.
“Kenapa kau cepat sekali merasa marah, hmm?” tanya Marvin sambil tertawa dengan suara pelan, seakan-akan perasaan Laura hanyalah sebuah lelucon baginya.
“Lepas,” desis Laura dengan nada tajam. Karena ia tidak ingin membuang-buang tenaga hanya untuk berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cekalan tangan Marvin sekarang.
“Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaan dariku,” balas Marvin yang tidak ingin melepaskan Laura begitu saja.
“Jawabannya ... bukan urusanmu!”
Tepat setelah itu, Laura langsung menyentak tangannya, hingga membuat cekalan itu terlepas secara tiba-tiba. Jadi, ia bisa segera pergi untuk meninggalkan Marvin sendirian di sana.
***
Setiap kali Damar memiliki pekerjaan di luar kota, biasanya Laura-lah yang akan ditunjuk sebagai pengganti sang ayah. Sehingga tidak heran kalau pekerjaan wanita itu jadi semakin lebih padat dari biasanya. Bahkan Laura pun baru bisa keluar dari kantor sekitar pukul dua belas malam, dan tadi ia sudah sempat makan malam dengan benar. Karena sang ibu sempat mengirimkan beberapa menu makanan dari rumah mereka melalui sopir pribadi yang ditugaskan untuk mengantarkan menu makanan itu ke gedung Ganendra’s Architecture.
Dan saat ini, Laura sedang menjalankan mobilnya menuju ke arah rumah mewah yang selama sembilan belas tahun belakangan ini sudah menjadi tempat tinggal barunya. Lalu, satpam yang berjaga pun segera membukakan gerbang tinggi di hadapannya, supaya mobilnya bisa segera masuk ke halaman rumah.
Setelah itu, Laura menghentikan laju kendaraannya di carport. Karena ia malas membuka garasi mobil, apa lagi mobil itu akan digunakan lagi besok pagi.
Laura lantas memasuki rumah kedua orang tuanya yang tidak terkunci, dan kedatangannya pun disambut oleh suasana yang terasa sepi. Karena semua penghuni rumah ini pasti sudah tidur di dalam kamar mereka masing-masing.
Laura sempat menguap lebar sambil menutup mulutnya menggunakan punggung tangan sebelum menuangkan air putih ke dalam sebuah gelas. Ia meminum air putih itu sebentar, lalu pergi dari dapur, dan bergegas untuk menaiki satu per satu anak tangga menuju ke arah lantai dua di mana kamar tidurnya berada. Karena ia ingin segera melepaskan penat di tubuhnya dengan cara berendam di dalam air hangat.
Laura selalu menikmati saat-saat di mana dirinya bisa berendam dengan tenang sambil mendengarkan musik klasik dengan kedua mata terpejam, lalu membayangkan bagaimana jika di hari tua nanti ia bisa menghabiskan sisa umurnya bersama pria yang selama ini dicintai olehnya. Rasanya ... pasti akan sangat membahagiakan.
Namun, Laura tahu jika itu semua hanya sebatas khayalannya semata. Karena sesungguhnya, ia hanya jatuh cinta sendirian, dan berhasil membuat dirinya jadi tidak berselera untuk segera mencari pasangan. Padahal, ia tahu kalau dirinya sudah hampir memasuki usia yang rawan bagi seorang perempuan, tapi itu bukanlah sebuah masalah yang besar.
Dan nanti, jika saatnya telah tiba, Laura yakin kalau dirinya pasti akan siap untuk segera menikah. Entah dengan siapa. Karena orang yang dicintai olehnya, sudah memiliki seorang wanita yang diklaim sebagai calon pasangan, dan wanita itu jelas bukan dirinya.
Jadi, Laura cukup tahu diri, tapi biarlah ia tetap menyimpan rasa cintanya ini di dalam hati. Karena rasa itu masih terasa sangat berarti.
***
“Kamarin malam kau pulang jam berapa, Ra?” tanya Viona begitu Laura muncul di meja makan untuk sarapan sambil menyapa semua orang, termasuk beberapa asisten rumah tangga yang berada di sekitar mereka. “Mama sampai ketiduran di sofa ruang tengah, tapi dibangunkan oleh Bibi untuk segera pindah ke kamar.”
“Maaf, Ma. Sepertinya ... aku pulang sekitar jam setengah satu malam. Karena ada begitu banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan.”
Viona kontan menghela napas panjang. “Jangan terlalu memforsir diri, Nak.”
Laura hanya menganggukkan kepalanya sambil menyuapkan potongan omelette ke dalam mulutnya. Karena ia harus pergi ke kantor secepatnya.
Setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara. Beberapa menit kemudian, Kia dan Sasa akhirnya muncul juga di lantai bawah. Lalu, mereka berdua pun ikut bergabung untuk sarapan bersama.
Namun, belum ada lima menit setelah kedatangan Kia dan Sasa, Laura sudah lebih dulu berpamitan kepada Viona.
“Aku mau pamit duluan ya, Ma,” kata Laura setelah menatap jam di pergelangan tangan kirinya. Dilanjut dengan menenteng kelly bag miliknya, dan segera mencium punggung tangan ibunya.
“Ingat ya, hari ini kau tidak boleh lembur, karena kau harus tidur dengan lebih teratur.”
Laura langsung mengangguk, dan ia pun membiarkan sang ibu yang ingin mengantarnya sampai di depan pintu. Baru setelah itu, ia benar-benar pamit berlalu.
Sementara Viona yang melihat kepergian putrinya itu, kini mulai memikirkan sesuatu. Karena putrinya yang satu itu sudah berusia dua puluh delapan tahun.
*****
Jangan lupa follow akunku ya! makasih :)