03. Marvin

1179 Words
03. Marvin Sejak beberapa tahun terakhir, Jakarta memang sudah menjadi tempat tinggal utama bagi Marvin. Bukan karena ia tidak betah tinggal di Bali, tapi karena dirinya telah ditugaskan oleh sang ayah untuk mengurusi hotel induk milik keluarga mereka yang memang terletak di Ibu Kota. Selama menetap di Jakarta, Marvin lebih memilih untuk tinggal sendirian di sebuah apartemen mewah. Meski pada kenyataannya, ia masih memiliki cukup banyak anggota keluarga yang tinggal di sana. Bahkan kedua kakek dan neneknya pun hanya tinggal berduaan saja bersama asisten rumah tangga mereka. Bukan apa-apa, Marvin hanya tidak ingin terlalu merepotkan. Dan di sisi lain, ia juga ingin lebih leluasa untuk melakukan apa saja. Sama seperti sekarang, ia masih asyik bermalas-malasan di atas ranjang, dan sengaja mangkir dari pekerjaan setelah mengetahui jika dirinya telah bangun kesiangan. Karena kemarin malam, ia sempat pergi berkencan dengan seseorang. Hingga tak lama kemudian, pintu kamarnya pun terbuka secara tiba-tiba, yang membuat Marvin langsung menolehkan kepalanya ke asal suara pintu yang baru saja terbuka. “Bagus ya ....” Viona langsung berkacak pinggang sambil menampilkan raut wajah gemas begitu mendapati keponakannya yang masih tengkurap di atas ranjang dengan tubuh yang ditutupi oleh selimut tebal, dan sedikit memamerkan bagian punggungnya yang tidak menggunakan baju atasan. “Tante tadi sempat mencarimu di hotel, dan staf di sana mengatakan kalau hari ini kau tidak datang. Bahkan tidak ada kabar, karena ponselmu sepertinya sengaja tidak diaktifkan.” Marvin langsung tertawa begitu mendengarkan serentetan omelan dari tantenya barusan, lalu segera terduduk di atas ranjang sambil meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Setelah itu, Marvin pun mulai menampilkan raut wajah tidak enak yang tidak dapat disembunyikan. “Sorry, Tan. Aku lupa men-charger-nya semalam.” Viona langsung menghela napas panjang sambil bergumam, “Tidak apa-apa.” Kemudian, raut wajah Viona pun mulai berubah, dan ia segera duduk di ujung ranjang dengan posisi tubuh menghadap ke arah Marvin yang terlihat sudah menampilkan raut wajah bingungnya. “Apa Tante sedang memiliki masalah?” tanya Marvin setelah mengamati ekspresi wajahnya Viona dengan saksama, karena raut wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Viona kembali menghela napas panjang. “Sedari tadi Tante mencarimu, karena ingin meminta bantuan darimu.” Marvin kontan bertanya apa yang bisa dibantu olehnya, sehingga Viona pun mulai menceritakan masalahnya, yang diakhiri dengan meminta bantuan kepada Marvin agar keponakannya itu bersedia untuk menjemput Kia di sekolah. Karena kalau Marvin yang menjemput Kia, maka Viona bisa sedikit lebih tenang selama menunggu di rumah, dan Kia pasti akan baik-baik saja. “Tante cuma takut kalau nanti Kia nekat naik taksi sendirian, dia tidak akan langsung pulang ke rumah, dan malah mampir ke mana-mana.” Marvin langsung menganggukkan kepalanya saat itu juga, karena ia mengerti bagaimana kekhawatiran Viona terhadap Kia. *** Saat ini Marvin sudah menunggu kedatangan Kia tak jauh dari gerbang sekolah, dan tadi ia sudah sempat mengirimkan sebuah pesan singkat kepada anak itu untuk memberitahunya kalau mereka berdua akan pulang bersama. Lalu, tanpa diduga, Marvin malah melihat mobilnya Laura yang baru saja sampai. Sehingga ia pun bergegas untuk menghampiri mobilnya Laura saat itu juga. Karena wanita itu tidak perlu repot-repot untuk menjemput Kia di saat dirinya sudah diutus oleh Viona untuk datang ke sekolah. Marvin lantas mengetuk bagian jendela kaca yang terletak di samping kemudi mobilnya Laura, karena wanita itu terlihat sedang sibuk menunduk ke bawah untuk mencari sesuatu—entah apa— di dalam tasnya. Selanjutnya, Marvin sudah disuguhi dengan raut wajah terkejut milik Laura saat wanita itu menoleh ke arahnya. “Sedang apa kau di sini?” tanya Laura tanpa berbasa-basi lagi setelah membuka kaca mobil. “Seharusnya aku yang bertanya padamu,” balas Marvin yang sudah menunduk. “Sedang apa kau di sini?” Ia malah dengan nada jengkel. Hal itu kontan saja membuat Laura merasa tidak terima, dan langsung mendengkus kasar. Kemudian, kembali memalingkan wajahnya ke arah depan, tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Marvin barusan. “Lebih baik kau kembali ke kantor saja sekarang, karena aku yang akan mengantarkan Kia pulang ke rumah.” Akhirnya, Marvin kembali bersuara setelah mereka berdua saling terdiam untuk waktu yang cukup lama. Kali ini nada suaranya sudah terdengar kembali normal. Dan dari tempatnya berdiri sekarang, Marvin bisa menghirup aroma segar dari parfumnya Laura. Sehingga ia pun berdeham pelan sambil menikmati aroma yang sedang menyebar ke dalam hidungnya. Sementara Laura hanya melirik Mavin sekilas, yang membuat pria itu menaikkan sebelah alisnya. “Tunggu apa lagi?” tanya Marvin saat Laura tidak segera menjalankan mobil. Bahkan ia juga sudah berdiri dengan tegak di samping mobilnya Laura dengan kedua tangan di dalam saku celana. Namun, sepertinya Laura tidak peduli. Karena wanita itu masih belum menjalan mobilnya untuk segera berlalu dari tempat ini. “Siapa wanita itu?” tanya Laura tak lama kemudian. Kepalanya tampak sedikit menunduk ke arah setir mobil sambil mengetuk-ngetukkan jari. “Bukan urusanmu,” jawab Marvin yang membuat Laura hanya mengangguk singkat, dan mulai menjalankan mobilnya untuk segera pergi dari sana. Laura tahu, seharusnya tadi ia tidak perlu bertanya apa-apa. Karena apa pun yang dilakukan oleh Mavin, memang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. *** Laura menghabiskan sisa hari ini dengan mendekam di dalam ruang kerjanya, dan ia baru keluar dari sana saat jam pulang kerja sudah tiba. Setelah itu, Laura langsung tancap gas untuk segera pulang ke rumah, dan sama sekali tidak berkeinginan untuk mampir ke mana-mana. Namun, seperti biasa, Laura harus terjebak macet dulu di tengah jalan. Sehingga keinginannya yang ingin segera sampai di rumah harus tertunda dalam waktu yang cukup lama. Sementara perutnya sudah mulai berulah. Untung saja Laura selalu menyediakan camilan di dalam tasnya. Kalau bukan sandwich kemasan, maka ia akan memasukkan granola bars ke dalam sana untuk berjaga-jaga kalau ia sedang merasa kelaparan, tapi tidak sempat mampir ke tempat makan terdekat. Begitu sudah berhasil memasuki gerbang rumah yang tadi sempat dibukakan oleh satpam yang berjaga, Laura tahu kalau saat ini Marvin sedang berada di dalam rumah kedua orang tuanya. Karena mobil pria itu tengah terparkir manis di halaman rumah. Laura refleks menghela napas panjang. Tahu begini, tadi ia mampir dulu ke sebuah cafe, atau ke mana pun, agar tidak perlu melihat wajah pria itu. “Akhirnya, kau pulang juga.” Viona langsung menyambut kedatangan Laura di ruang tengah, dan memberikan sebuah pelukan hangat seperti biasanya. Sedangkan Marvin tetap berada di atas sofa sambil mengamati interaksi ibu dan anak itu dari tempat duduknya. Laura hanya melirik Marvin sekilas, karena mereka berdua kompak membuang muka di saat yang hampir bersamaan. Tak lama kemudian, Viona sudah menyuruh Laura untuk langsung membersihkan dirinya di dalam kamar, karena sebentar lagi acara makan malam akan segera dimulai. Mumpung ada Marvin di rumah mereka, dan Damar pun sudah sempat pulang sejak pukul setengah empat. Karena pria paruh baya itu akan berangkat ke Raja Ampat besok pagi, bersama timnya untuk memulai pembangunan resort di sana. Laura hanya menuruti titah ibunya barusan tanpa memberikan bantahan apa-apa, dan langsung bergegas naik menuju ke arah lantai dua setelah meminta kepada salah satu asisten rumah tangga untuk mengantarkan minuman dingin ke dalam kamarnya. ***** Jangan lupa follow akun IG aku ya, username-nya @_ruangbicara_ supaya kalian gak ketinggalan info tentang semua update-an cerita
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD