Jenazah

1810 Words
**Bab 020: Jenazah** Hening merayap menyelimuti hutan—hening yang berat, tebal, dan penuh duka. Hanya suara gesekan daun yang ditiup angin dan napas terseok para saksi yang tersisa. Dunia kecil mereka runtuh dalam sekejap, bersama seorang teman… dan rasa aman yang ikut terkubur. Dina terduduk lemas, menjerit pelan, suara tercekat di tenggorokan. Indah merangkulnya, tapi tangannya sendiri gemetar hebat. Anak-anak lain berdiri kaku, wajah pucat, mata kosong. Ketakutan, duka, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu—perasaan hampa yang tak punya nama. Rezvan memecah keheningan itu. “Hei… lakukan sesuatu…” suaranya serak, hampir pecah. Ia mundur sedikit, lalu maju lagi, bimbang, panik, hancur. Tatapannya terpaku pada tubuh Gilang, kosong namun menuduh dirinya sendiri. “Tidak bisa…” jawab Rafandra akhirnya, tenang namun dingin—dingin karena terpaksa, bukan karena tak peduli. “Dia sudah pergi.” “Itu karena kamu enggak berusaha!” Ledakan itu keluar dari d**a Rezvan tanpa kendali. Ia mendorong Rafandra, kasar, seperti mencoba mendorong maut itu sendiri. “Minggir!” “Ndah! CPR! Cepat! Kita bisa—” Indah tersentak, refleks mengikuti perintah Rezvan meski wajahnya pucat dan tubuhnya goyah. Dina dan Kirana menoleh panik. “Hentikan!” Suara Rafandra menggedor udara, keras, tajam, menghentikan gerakan semua orang sesaat. Rezvan menatapnya dengan marah dan putus asa. “Kalau kamu enggak mau bantu, aku lakukan sendiri!” “Mau sampai kapan kamu siksa dia?!” Rafandra membalas, namun suaranya tidak naik—ia mengucapkan tiap kata seperti pisau yang menembus kabut delusi. “Rezvan. Relakan. Biarkan dia pergi…” Lengan Rezvan mematung. Napasnya tercekat di tenggorokan. Amarahnya tidak hilang—tapi kini bertabrakan dengan kenyataan yang ia tak ingin lihat. Rafandra meraih bahunya. Genggaman itu tegas, keras, dan mengguncangnya pelan. “Rezvan. Lihat… baik-baik.” Ia menunjuk ke bawah. Ke arah genangan merah gelap di kaki Gilang—darah yang mengalir sejak awal, kini menghitam, mengental seperti jeli. Wajah Rezvan mengeras. Lalu… retak. Satu tarikan napas terdengar seperti tercekik. Bau hanyir darah yang tajam menampar indra mereka, yang selama ini mati rasa oleh syok dan takut. Indah mundur selangkah—lalu muntah tanpa bisa ditahan. Dina menyusul, tubuhnya gemetar hebat. Kirana menutup mulut, namun akhirnya ikut muntah di samping mereka. Rezvan menatap Gilang lama… terlalu lama. Sampai matanya sendiri memerah dan pandangannya kabur. Sampai napasnya terdengar seperti orang sekarat. Lalu tubuhnya menyerah pada kenyataan. Ia menjauh, langkahnya goyah. Dada naik turun cepat—panik, marah, sedih, semuanya menumpuk hingga tak bisa ditanggung. Rezvan menatap mereka untuk sesaat terakhir. Matanya hancur. Suaranya tak keluar, meski bibirnya bergerak. Tanpa sepatah kata pun… …ia berbalik. Menembus semak-semak. Menghilang ke antara dedaunan gelap—ditelan hutan dan rasa bersalah yang tak sanggup ia hadapi. Yang tertinggal hanyalah hembusan angin, tanah lembap… dan keheningan yang kembali turun, lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Rafandra menatap punggung Rezvan yang lenyap di balik semak rimbun. Langkah tergesa itu bukan karena marah padanya—melainkan karena putus asa pada diri sendiri. Rafandra tahu itu. Ia tahu betapa keras Rezvan mencoba menyangkal kenyataan yang baru saja merenggut Gilang dari mereka. Tatapan Rafandra tampak dingin, nyaris tanpa emosi… namun di balik itu, penyesalan mengendap seperti bara yang tak padam. Ia menunduk, memandang tubuh Gilang yang telah ia baringkan dengan hati-hati. Anak ketiga yang harus ia tutup matanya hari ini. Anak ketiga yang gagal ia bawa pulang hidup-hidup. Dari ujung matanya, setetes air jatuh tanpa suara. Indah, Dina, dan Kirana duduk lemas di tanah. Mata mereka merah, bengkak, kosong, menatap Danang dan Rama yang masih tak bergerak—napas pendek, wajah pucat, nyaris tak menunjukkan tanda kehidupan. Kematian terasa seperti bayangan yang bersembunyi tepat di belakang mereka, menunggu giliran. Di sekeliling, anak-anak lain perlahan menjauh satu per satu. Tak sanggup berdiri terlalu dekat dengan tubuh Gilang. Tak sanggup mendengar isakan temannya. Mereka memilih mencari sudut-sudut hutan untuk menangis diam-diam, memukul batang pohon, atau sekadar menunduk dengan tangan gemetar—dalam keheningan yang seolah menelan keberanian mereka. Hutan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Angin hanya menggesek daun samar-samar, seperti berusaha menutup suara duka mereka. “Om… Danang sama Rama gimana?” Kirana akhirnya bertanya. Suaranya pecah di tengah kesunyian, bergetar menahan ketakutan yang dari tadi ia pendam. Indah dan Dina menoleh bersamaan, menatap Rafandra dengan mata penuh harap—atau mungkin, memohon agar harapan itu tidak dihancurkan. Rafandra menghela napas panjang, mencoba meredakan getaran kecil di dadanya. Ia menatap dua remaja yang masih terbaring, lalu kembali menatap mereka bertiga. Tidak ada jawaban yang benar dalam kondisi seperti ini… namun ia tahu mereka butuh kepastian, bukan kebohongan. Wajah Rafandra menegang. Ia menggeleng pelan. Kirana menutup mulut, air mata kembali menetes. “Terus… Om mau ke mana?” Kirana mendesak dengan suara memelas. “Di sini sepi… kita sendirian… jangan pergi juga.” Rafandra memandang sekeliling. Kabut masih tipis—cukup jernih untuk melihat puluhan meter ke depan. Di balik batang-batang besar, ia masih melihat beberapa murid laki-laki duduk membungkuk, memeluk kepala, mencoba menahan emosi yang meledak di d**a mereka. Ia menarik napas pendek. Profesional terlatih di dalam dirinya menimbang situasi: kondisi medis, kondisi psikologis anak-anak, ancaman hutan, dan bahaya yang mungkin lebih dekat dari yang mereka pikir. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai… ia benar-benar tampak tidak yakin apakah semua keputusan yang ia ambil adalah yang terbaik. Ia menarik napas panjang… lalu tidak jadi pergi. Perlahan, Rafandra berbalik dan duduk bersila membelakangi tubuh Gilang, Danang, dan Rama yang terbaring berdampingan. Ia menutup mata, menarik napas melalui hidung, melepas lewat mulut—ritme yang dulu mengantarnya tetap waras di medan tempur. Ia mulai menghitung waktu dalam hati. Sepuluh menit… dua puluh… empat puluh… hampir satu jam penuh ia membiarkan anak-anak itu meluapkan duka mereka masing-masing. Baru setelah dirasanya cukup, Rafandra bangkit berdiri. Suara hutan sunyi. Kabut menggantung rendah. Rafandra menarik napas, lalu berteriak lantang: “Hei! Sini!” Tidak ada jawaban. “Hei! Siapa pun—kalian!” suaranya lebih keras. “Kemari, atau aku yang datang dan menarik kalian satu per satu!” Nada itu… nada seorang komandan yang tidak sedang meminta, melainkan memerintahkan. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ranting-ranting terdengar patah. Anak-anak mulai muncul dari balik pepohonan—wajah merah, mata bengkak, napas tersengal karena habis menangis. Damar datang paling duluan. “Ada apa, Om?” “Sudah selesai bersedihnya?” Rafandra menatap mereka satu per satu. Nadanya santai, tetapi sorot matanya tajam. Tegas. Tidak memberi ruang pada penyangkalan. Damar tidak menjawab. Hanya menatap lantai tanah yang basah. “Aku baru kenal kalian,” ujar Rafandra, suaranya lebih rendah namun tetap mantap. “Tidak ada kedekatan emosi di antara kita… tapi aku juga manusia. Kematian bukan hal mudah untukku.” Ia menatap Gilang sekilas, nafasnya mengeras sedikit. “Tapi kita masih hidup. Dan kita harus berjuang untuk tetap hidup.” Kata-katanya tidak manis. Tidak lembut. Namun justru karena itulah, mereka bisa menerimanya. “Terus… Om panggil kita kenapa?” tanya Damar akhirnya. Rafandra menarik napas panjang, bersiap menghadapi reaksi mereka. “Kita punya tiga jenazah di sini. Kasihan kalau cuma dibiarkan begitu saja.” Beberapa anak terdiam. Ada yang langsung menunduk, ada yang menahan napas. “Jadi… mau diapain?” tanya Ardi, suara pelan. “Dikubur,” jawab Rafandra tegas. “Tapi Bang…” Dina mengangkat tangan sedikit, suaranya ragu. “Kalau bantuan datang nanti?” “Betul,” sahut Darwis. “Nanti orang yang nyari kita bakal kerepotan mindahin jenazahnya.” Kata-kata itu—harapan itu—menampar batin Rafandra. Harapan. Naif, polos, dan sekaligus menyakitkan. Anak-anak ini masih menunggu diselamatkan. Masih percaya seseorang sedang mencari mereka. Masih percaya dunia luar tahu apa yang terjadi. Rafandra menatap mereka lama, sangat lama. Ada sesuatu dalam sorot matanya: dilema yang berat, hampir seperti luka lama yang kembali terbuka. Dalam hatinya, naluri bertarung dan logika pengalamannya sudah berbisik sejak tadi: Tidak ada bantuan yang akan datang. Kita sendirian di tempat ini. Dan kalau ingin hidup… kita harus bergerak sendiri. Tapi bagaimana ia mengatakannya? Bagaimana ia menghancurkan harapan anak-anak yang bahkan belum bisa benar-benar menerima situasi? Rafandra mengepalkan tangan, jari-jarinya mengeras hingga buku-bukunya memutih. Ia merasakan d**a sesak oleh sesuatu yang lebih berat dari duka—kebenaran yang terlalu pahit untuk diucapkan. Rafandra terlihat ragu membuka mulutnya. Tapi ia tetap harus bicara. Rafandra menarik napas panjang, menahan gemuruh emosi yang berputar di dadanya. “Itu akan jadi urusan mereka nanti…” ujarnya perlahan, tetap berusaha tenang. “Sekarang kita urus yang bisa kita urus. Itu satu-satunya penghormatan terakhir yang bisa kita berikan untuk mereka.” Ia menatap wajah anak-anak satu per satu, memastikan kata-katanya menancap. “Mereka bertiga teman kalian. Apa kalian rela kalau jenazahnya dirusak hewan buas?” Beberapa anak langsung menggeleng kuat-kuat. Wajah mereka pucat, antara ngeri dan sedih. “Tapi… pakai apa, Bang?” tanya Damar, suaranya kecil. “Kita gak punya cangkul… gak ada sekop…” “Gunakan apa pun yang bisa dipakai,” jawab Rafandra. Ia mencoba tersenyum tipis—senyum yang tak benar-benar mencapai matanya, tapi cukup untuk menguatkan. “Lakukan semampu kalian. Pelan-pelan saja. Suhu di sini dingin, jenazah tidak akan cepat rusak.” Anak-anak mengangguk. Perlahan, mereka mulai menyebar, memeriksa sekitar, mencari alat seadanya: batang kayu, batu pipih, besi bengkok dari bangkai bus. Suara ranting yang terinjak pelan terdengar dari balik semak. Sesosok tubuh muncul—Rezvan. Wajahnya masih tegang, mata merah, tapi sorotnya kembali hidup. Tegas. “Kita gali sama-sama,” katanya singkat. Tanpa menunggu tanggapan, ia turun ke tanah berlumpur dan langsung mengayunkan batang kayu besar seperti tuas, mengikis tanah keras di bawahnya. Anak-anak menatapnya. Ada yang terkejut, ada yang lega. Percik semangat kecil muncul kembali—kehadiran Rezvan mengembalikan sedikit pondasi yang sempat runtuh. Lalu mereka mulai bekerja. Bersama. Dan ternyata tugas itu lebih berat dari yang mereka bayangkan. Tanah hutan lembap, padat, berakar, keras. Setiap kali batang kayu menghantam tanah, getaran menembus lengan hingga bahu. Batu-batu kecil tersangkut di sela akar. Besi dan kayu yang mereka gunakan tumpul, licin oleh keringat dan lumpur. Hembusan napas kasar memenuhi udara. Beberapa menit… berubah menjadi puluhan menit… tubuh mereka mulai berontak. “Om… aku gak kuat…” Ardi terjatuh duduk, satu tangan memegang punggungnya, wajah meringis. “Pak… lama banget… tanahnya keras,” desah Damar sambil mengusap keringat yang bercampur lumpur. Tidak ada yang memarahi mereka. Tidak ada yang menuntut mereka lebih kuat dari yang mereka mampu. Rezvan menatap mereka sebentar—tatapannya lelah, namun penuh ketegasan. “Istirahat sebentar. Tapi jangan berhenti.” Rafandra mengangguk, melanjutkan menggali tanpa jeda. “Kalian ambil napas. Setelah itu lanjut lagi. Kita kerjakan ini pelan-pelan.” Contoh itu—dua orang dewasa yang terus menggali tanpa mengeluh—lebih efektif daripada dorongan apa pun. Anak-anak diam-diam saling melihat… lalu satu per satu bangkit. Pegangan mereka kembali pada alat seadanya. Gerakan mereka lambat, tangan lecet, punggung sakit… tapi mereka tetap menggali. Tanah demi tanah terangkat sedikit demi sedikit. Kerja sunyi itu mengikat mereka: dalam duka, dalam ketakutan, dalam perjuangan kecil yang terasa seperti beban dunia. Namun mereka terus maju. Bersama. Karena tidak ada pilihan lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD