**Bab 021: Kuburan Pertama** Tanah perlahan terkikis. Setiap hentakan batu, setiap gerusan batang kayu menghasilkan suara tumpul krek… krek… yang memantul di antara batang-batang pohon tinggi. Udara lembap menyelimuti kulit seperti selimut tebal, membuat napas berat dan d**a terasa sesak. Hutan seperti menahan napas, ikut menyaksikan perjuangan mereka. Lama-kelamaan, tekad anak-anak mulai goyah. Dovi membanting batu yang ia pakai, lalu jatuh terduduk sambil terengah. “Pak… tangan saya sakit…” suaranya pecah. Kemal memeriksa telapak tangannya yang merah dan terkelupas. “Pak… tangan kami lecet semua…” “Enggak kuat, Pak… perih banget…” seru Nendra, air mata sudah bercampur debu dan lumpur di pipinya. Rezvan menghentikan gerakannya. Tubuhnya sendiri bergetar—bukan hanya karena lelah, tap

