Gagal 2

1037 Words

Aku terbangun karena suara ponsel. Bukan dering ponselku, bukan juga berasal dari kamar ini. Aku lekas membuka mata, tak ada Al di sisiku, di sekitar kamar ini juga. Ada rasa semacam kehilangan atas ketidak hadirannya. Pelan-pelan aku menggapai ponsel yang menunjukkan waktu subuh. Setengah malas bangkit duduk dan kurasakan ada yang berbeda dari tubuhku. Al muncul di pintu, tanpa mengetuk dahulu. "Udah bangun," sapanya tersenyum. “Chana nelpon ya?” “Hm. Maaf.” “Alarm kamu beda dari yang lainnya,” balasku santai. "Qi, nanti malam ke dokter kandungan mau? Kayaknya kamu beneran telat deh." Aku memijat pundak sendiri. Belum dipastikan, tapi biasanya jika bangun sedikit basah dan tubuh pegal-pegal begini tandanya aku perlu siap diri untuk kecewa. "Hm? Kenapa, Qi?" Tanyanya mendekat. A

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD