Selang Tiga menit kemudian ada seseorang mengetuk pintu kantor. Sontak ketukan itu membuatku gelisah di tempat. Ragu iya atau bukan, sepertinya aku harus tetap menerima kenyataan. “Masuk!” seru Siti. Muncul seorang pekerja yang membawakan bunga juga bingkisan, di tangan kiri dan kanan. “Titipan untuk ---“ “Punya saya,” kataku beranjak mengambilnya. “Makasih, Pak.” Pekerja itu tersenyum. Pintu di tutup kembali. Tak sampai dua detik setelahnya kantor heboh. Apalagi kalau bukan keributan yang dibuat Wati dan Siti. “Wah...” “Beneran sweet suamimu.” “Bikin iri.” “B-bukan,” bantahku terbatas. “Selingkuhan?” Aduh! “Siapa sih, Qi?” Akhirnya aku tak ambil pusing dengan rentetan tanya Wati dan Siti. Kuayunkan langkah kembali ke kursiku dan meletakkan dua benda yang memancing praduga ke

