Harusnya ini pembicaraan serius. Harusnya begitu. Tapi yang terjadi malah berubah komedi romansa. Sedikit sentuhan mendebarkan juga. Telunjuk Al masih di bibirku. Aku diam saja karena isyarat Al bahwa lebih baik menutup mulut atau tidak berbicara. Namun, tiba-tiba kedua alisnya bertaut mendekat satu sama lainnya. “Ada apa?” bisikku hati-hati. Al mengerjap, lalu menggeleng heran. "Kok ...." "Apa?" tuntutku pelan. Khawatirku Al mungkin akan memberitahu ada seseorang di jendela atau hal-hal berbau menegangkan semacam itu, tapi yang jadi fokus matanya hanya wajahku saja. Aku jadi berpikir sebentar lagi Al akan mengomentari wajahku, berminyakkah, berjerawatkah, atau justru .... "Pengen cium kamu lho, Qi. Boleh?" Tanya tak terduga. Aku spontan mendelik, tak masuk akal sehat memang. Aku m

