Biasanya, aku akan menyiapkan apa yang Al bawa pulang. Namun, sore ini aku lebih suka membahas perselingkuhannya daripada makan. Aku memilih perang terbuka daripada diam-diam menahan sakit sendirian. Tak salahku jika air mata tumpah saat memuntahkan dakwaan kepadanya. Sakit sekali di posisi ini. Betapa aku paham apa yang selama puluhan tahun Chana rasakan dalam kehidupan pernikahannya dengan Chandra. Tak mungkin aku setangguh dia jika ini berlanjut lebih lama. Aku cinta, tapi tak segila Chana. “Kamu dengar ‘kan aku bilang apa?” Al diam, membuat rasaku makin kesal. “Tidurin aku, Al! Udah zinanya!” Al menghela napas. “Kenapa jadi nangis, Qi?” tanyanya bernada peduli. “Aku kesal! Gak paham ya?! Kamu nyakitin banget, Al.” Aku menggebrak meja, “Kamu nyakitin aku!” “Qi ... kamu terlalu kaku

