Panas wajahku meski angin malam menerpa. Rasanya tak wajar salah tingkah saat membahas manusia ajaib semacam Pak Dodo. “Kalo bukan karena aku, kenapa Pak Dodo mau berubah? Terus, dia nemuin aku pas udah wah?!” tanyaku sedikit tinggi hati, tak mau kalah. “Jadi, Dodo yang sekarang udah ... wah?” tanyanya geli. Aku menepuk punggungnya. “Al jangan mancing umpatan!” “Harusnya ngomongin ini di kamar, Qiya. Sambil pelukan. Ini mana enak!” Aku langsung memeluknya. “Udah. Ini udah dipeluk.” Al tergelak lagi. Terasa dia menggeleng sesaat. “Nah, ngomong sekarang aja!” pintaku memaksa. Tiba-tiba tangan besarnya mengambil tanganku lalu menciumnya. Aku seketika berdebar. Benar-benar manis, tak terduga apa yang akan dia lakukan. “Kenapa tiba-tiba gini, Al?” tanyaku merasa panas wajah karena je

