"Qi...!" "Hm?" Gumamku tak berminat menjawab, tapi sudah berkali-kali seruan itu memanggil. "Bangun, subuh!" Aku membuka mata perlahan. Aroma Al masih dekat sekali di hidungku. Mengerjap beberapa kali kemudian aku mundur segera lalu pura-pura merenggangkan tangan. Masih pagi sekali untuk mempermalukan diri sendiri. "Kamu tidur semalam?" "Enggak." "Hebat,” komentarku sambil menutup mulut yang ingin menguap. "Ada yang nyenyak banget tidurnya pas dipeluk,” celetuknya jelas menyindirku. "Chana benar-benar harus di antar ke hotel, Al." Bukan apa-apa, khawatirnya aku atau Al khilaf kalau lebih lama satu ranjang. "Sekarang setuju kan kalo aku lebih suka kalian gak tinggal satu atap." Paham sekali aku maksudnya itu. Aku melihat pintu, "Chana udah bangun belum ya?" "Mungkin belum. Kalo u

