Aku duduk di boncengan belakangnya. Al panik. Baru sekali ini kulihat dia sepanik ini. Mungkin baginya Chana benar-benar memilih keputusan salah jika kembali kepada Chandra. "Jadi, ke mana?" tanyaku karena Al membawa laju motor bukan ke arah menuju bandara. "Ke kontrakan lah." "Kata kamu mereka di bandara?" "Chandra sama Winwin. Chana nelepon dari kontrakan." Di kepalaku langsung muncul adegan mengerikan. Cakar-menyakar antar Winona dan Chana. "Kita buru-buru pulang untuk liat mereka perang," simpulku tenang. "Kita harus duluan sebelum Chandra datang. Dia pasti gunain rayuan dan segala manipulasinya untuk tetap sama Chana." "Kenapa dia sampai segitunya kalo gak beneran sayang sama Chana?" "Kamu gak kenal ayahku, Qi. Dia bukan se ... pokoknya dia gak akan lepasin Chana gitu aja." "

